24 JAM

Bila kita membicarakan waktu pasti setiap orang akan mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Bagi yang sedang tertimpa musibah waktu begitu lama berjalan begitu pula bagi yang sedang mendapat anugrah waktu terasa begitu singkat melintas. Memang kita menjadi begitu subjektif memaknai waktu.

Bila kita mau mengkaji, adakah di dunia ini, yang tidak sama mendapat pembagian waktu. Semua pasti akan sepakat dengan suara yang bulat bahwa kita sama dalam menikmati waktu. Sehari semalam kita semua mendapat waktu dua puluh empat jam tidak lebih dan tidak kurang. Terus adakah diantara kita yang sudah menggunakannya dengan baik atau barang kali dari 24 jam itu terlewat begitu saja.

Dengan jumlah waktu yang sama mengapa nasib kita berbeda. Adakah itu betul-betul nasib kita yang berbeda atau cara kita mengisi waktu yang berbeda yang akhirnya membuat kita mendapat sebutan yang berbeda; pengemis, perampok, pengusaha, pedagang, dan yang lebih malang adalah pengangguran.

Tidak mengherankan apabila banyak peribahasa yang menyebut tentang waktu. Ada yang mengatakan waktu adalah pedang kalau tidak mahir menggunakan akan melukai yang menggunakan. Ada juga yang mengatakan bahwa waktu adalah uang kalau tidak hemat menggunakan maka waktu akan terbuang percuma. Begitulah waktu diapresiasi dengan begitu rupa oleh siapa saja.

“Andai aku punya banyak waktu tentu aku tidak akan seperti ini,” kata seorang penganggur yang merasa selalu kekurangan waktu karena terlalu banyak tidur. Tapi bagi orang yang super sibuk pun akan mengatakan hal yang sama bahwa waktu yang ia miliki sangat sempit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kalau sudah demikian apa ada yang salah dengan durasi waktu yang hanya 24 jam itu?

Tak heran sekarang ini bila banyak menjamur kursus manajemen waktu. Banyak orang yang ikut kursus itu berharap untuk bisa menaklukkan waktu-menata sekehendak hatinya.

Jangan-jangan Sang waktu sedang tertawa. Menertawakan tingkah polah orang yang sedang mencoba menaklukkannya. Ia heran bagaimana bingungnya orang menghadapi dirinya yang hanya berjumlah 24 jam sehari-semalam hingga harus kursus manajemen waktu segala.

Bagiku, waktu tetaplah sebuah rahasia abadi karena aku tidak tahu kapan ia berhenti bersamaku. Tidak ada yang perlu disesali dengan berjalannya waktu, toh waktu tidak akan kembali dan dia akan terus melaju. Yang lebih penting lagi ialah bagaimana kita bisa bersama dengan waktu mengisi hari-hari kita jangan sampai kita ditinggalkan oleh waktu yang bergerak lebih cepat dari gerak kita.

“Ayo lebih cepat kita sedang terburu-buru, nih,” kata istriku yang sedang membonceng di belakangku.

“Mengapa kita mesti terburu-buru mengejar waktu bukankah salah kita mengapa kita tidak terjaga lebih dulu dan mendahului waktu sehingga kita akan menjadi seorang penunggu.” Balasku.

Inilah anehnya tabiat manusia, mereka adalah makhluk yang sangat jengkel apabila disuruh menunggu. Bukankah dengan menunggu berarti kita telah mendahului waktu? Mengapa harus jengkel, bosan, apalagi sebel apabila harus menunggu? Coba mereka berpikir bagaimana penyesalan yang diakibatkan oleh perasaaan ketinggalan, terlewatkan dan kita baru sadar ketika waktu sudah jauh melesat. Kecewa.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply