Absurditas Camus dan Relevansinya dengan Duka Palu-Donggala

Alam, bumi, juga semesta yang selalu menjadi tempat bagi kita untuk berpijak memang memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap peradaban manusia. Alam adalah ibu pertiwi. Selayaknya seorang ibu, alam telah mengasuh manusia selama beberapa periode kehidupan dalam ruang-ruang yang berbeda. Alam memberikan kita nafas, energi, sekaligus elemen pembentuk raga ini. Namun disisi lain, rencana alam adalah misteri yang sulit untuk dipahami.

Bak pepatah mengatakan waktu tak akan menunggu alam berkata. Pengetahuan, insting, maupun logika sejatinya tidak mampu mengelak keterbatasan manusia dalam mengetahui kapan alam akan terbangun dari tidurnya yang damai. Fenomena ini sebenarnya hal yang alamiah. Namun ketika alam tak lagi ramah, ia mampu menimbulkan penderitaan bagi siapa saja yang ada dalam dekapannya, apalagi bagi mahluk sosial seperti manusia. Bencana alam, bukanlah hal yang tidak mungkin, mampu mengiris bahkan menimbulkan krisis kemanusiaan.

Sepanjang tahun 2018, adalah tahun yang gemilang namun juga tampaknya penuh ujian bagi negara kesatuan kita tercinta. Selepas berbagai pencapaian membanggakan dari putra-putri kebanggaan bangsa yang berjuang atas nama kemanusiaan dan persahabatan, di belahan daerah lain di Indonesia banyak yang sedang bertahan, mempertaruhkan hidup dan mati di atas bumi yang “bergoyang”.

Di tahun yang sama pula, kita telah sama-sama menyaksikan dua tragedi bencana alam yang cukup mengerikan dan menimbulkan luka fisik-psikologis yang mendalam, terutama bagi mereka yang berhadapan langsung dengan kemurkaan alam saat itu.

Belum pulih imunitas dan trauma warga selepas gempa berkekuatan 7 SR mengguncang bumi Pulau Seribu Masjid di Lombok Timur, lalu bencana kembali berlari. Kali ini ia menghampiri wilayah bejuluk Kota Wisata dan Kota Teluk di daratan Sulawesi Tengah, Palu dan Donggala dengan kekuatan yang lebih mencekam (7,4 SR).

Tidak ada yang akan mengira, rentetan gempa yang semula hanya getaran-getaran biasa, bahkan mungkin beberapa dintaranya tak terasa, mampu meluluhlantahkan kota di atasnya, bahkan menjalar ke daratan lain di sekitarnya.

Bangunan pencakar langit runtuh tak berdaya, jalanan terbelah dimana-mana. Langit gelap gulita, sebab jaringan listrik juga komunikasi padam seketika. Dalam situasi yang sangat sulit sepeti itu, sangat manusiawi jika kepanikan dan ketakutan menyelimuti hingga banyak warga yang kehilangan arah.

Banyak yang tidak sadar bahwa anak bencana gempa (tsunami) sedang berlarian ingin menyergap daratan, meskipun peringatan dini tsunami telah dihentikan oleh BMKG. Juga soal desa yang dikatakan warga “bergeser dan hilang”, fenomena seperti itu tak pernah terbayangkan oleh nalar masyarakat awam sebelumnya bahkan oleh penulis pribadi. Hingga pepatah “bagai hilang ditelan bumi” sungguh-sungguh nyata, mengubur rumah, harta benda, warga, dan keceriaan yang pernah terlukis disana.

Tragedi alam dan kemanusiaan yang terjadi di bumi ibu pertiwi telah membuat siapa saja merasa sedih dan lirih. Ketika melihat mayat bergelimpangan dimana-mana, refleks saja kita teringat orang-orang tecinta yang mungkin seumuran dengan para korban. Oleh sebab itu bencana mampu memanggil rasa kemanusiaan dan kepedulian, karena sejatinya manusia adalah homo sosius yang secara naluriah merasa senasib sepenanggungan ketika saudara sebangsa dirundung palung duka.

Di satu sisi, di balik ketabahan para korban serta keloyalan para pahlawan pekerja kemanusiaan, tantangan dan hambatan memang sesuatu yang nyatanya tak dapat dipisahkan dalam moment apapun. Seperti hitam dan putih, api dan air, yin dan yang, dan dalam keyakinan penulis, penulis mengenal adanya istilah Rwa Bhineda, sebuah konsep yang sangat lazim bahwa dalam kehidupan selalu ada dua sisi yang berbeda, termasuk baik dan buruk.

Hal itu tercermin dari kenyataan di mana ketika seluruh usaha-usaha kemanusiaan dalam menolong para korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala telah mencapai titik maksimal, namun tetap saja ada oknum-oknum tak berbelaskasihan yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan. Juga paradigma yang konyol soal: ketika ada sesuatu besar yang sedang menimpa, maka di sana harus ada tumbal untuk dipersalahkan.

Situasi pasca bencana memang sebuah situasi yang kritis. Rentan dengan gejolak-gejolak negatif yang datang dari suasana yang kalut. Ketika saya mendengar kabar soal “penjarahan” yang mulai menjamur sehari-dua hari pasca bencana, saya kira hal itu pun masih dalam batas kewajaran manusia. Kondisi kota yang luluh lantak, tak ada akses mudah dan cepat untuk bantuan masuk. Bahan makanan semakin menipis, naluri untuk bertahan hidup adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.

Namun apa jadinya jika yang mereka jarah adalah televisi, mobil, komputer, hingga mesin ATM? Wajarkah barang-barang tersier seperti itu adalah kebutuhan mendesak yang sangat dibutuhkan oleh para korban? Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan dilematis dan menjadi bahan perdebatan tidak etis dikalangan masyarakat. Sebagian menuduh para korban, namun saya kira apakah iya mereka memiliki cukup energi untuk melakukannya di saat fisik psikisnya terluka?

Di lain sisi, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai spiritualisme dan religiusme, kita mengkaitkan segala kejadian dengan fitrah Tuhan. Hal itu tidaklah salah, sama sekali tidak. Sebagai orang yang beriman, kita percaya segala kejadian tejadi karena campur tangan Tuhan. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika manusia gampang sekali menyimpulkan.

Jika yang datang adalah musibah, itu berarti Tuhan sedang marah dan mereka yang menjadi korban dianggap terkena kutukan. Kicauan-kicauan tentang akhir zaman, iblis, dajjal, dan sejenisnya saling bersahut-sahutan meminta para korban untuk bertaubat. Seperti sebuah pesan default yang otomatis terkirim jika sedikit saja ada headline berita duka. Bahkan beberapa diantaranya disisipkan ujaran kebencian yang bisa ditebak kemana alurnya. Mereka mengatakan bencana datang karena pemimpin yang zalim.

Respon masyarakat terhadap bencana boleh jadi berbeda-beda, namun kini kita berbicara atas nama kemanusiaan. Pergunakanlah hati nurani kita, dan, mari renungkan bersama-sama, bagaimanakah seharusnya kita bersikap ? apakah pantas kita berkamuflase di balik air mata para korban demi mencari keuntungan? Haruskah kita berspekulasi dan bertanya tanya siapa yang patut persalahkan ?

Jangan Banyak Bertanya Soal Bencana

Seorang filsuf Perancis memberi sebuah alternatif pemikiran yang mungkin bisa dijadikan panduan untuk bersikap di depan bencana. Ia adalah Albert Camus, filsuf yang terkenal dengan teori absurditas

Albert Camus, dan kita semua seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, mengenal berbagai tipe manusia ketika dihadapkan pada sebuah bencana, pintu kematian, dan penderitaan. Tipe pertama adalah orang-orang yang merasa “terjerat” dalam bencana  karena adanya pemberitaan di media massa secara terus menerus. Tipe kedua adalah tipe yang “menerengkan” secara metafisika religius yang ia peluk untuk mendapatkan rasa tenang.

Tipe ketiga adalah jenis yang tidak mau terlibat dan justru pergi mencari ketenangan pribadi. Tipe keempat adalah segerombolang orang yang bergembira di balik tangisan, merasa bahagia dan berharap bencana tidak kunjung usai. Tipe kelima, adalah orang-orang yang secara konkret terlibat aktif membantu korban. Tanpa banyak teori dan kepentingan, mereka secara sukarela terjun ke lapangan atas dasar kemanusiaan.

Membaca teori Camus tersebut, saya yakin sebagai manusia ada sesuatu yang bergejolak. Jauh dalam relung hati kita tahu mana jalan yang seharusnya dipilih. Tipe kelima adalah kondisi ideal menggambarkan permenungan manusia sejati dalam eksistensinya di hadapan bencana.

Untuk menjadi pribadi yang demikian, Camus menerangkan sebuah konsep segar namun menantang untuk ditelaah. Konsep absurditas yang memandang dunia ini adalah sesuatu yang absurd, sebab hidup penuh dengan penderitaan.

Terkadang kesulitan datang bertubi-tubi tanpa memberi sedikit ruang untuk bernafas barang sebentar. Seringkali kita terjebak dalam kepasrahan, dan sebagai orang religius kita berserah kepada Tuhan.

Ada sebuah ungkapan menyatakan: kepercayaan pada Tuhan adalah pelarian paling mudah untuk memecahkan persoalan, tetapi tidak mengena pada inti permasalahan, maka tidak tepat pula sebagai jalan keluar (Nietzsche).

Absurditas diartikan sebagai ketidakmampuan manusia untuk memberi tujuan dan makna pada hidupnya, pun ketidakmampuan manusia untuk mencari jawaban pada Tuhan.

Oleh sebab itu, manusia haruslah mengakui kematian Tuhan, sehingga tidak perlu mencari alasan dan tujuan dia menolong. Karena Tuhan telah mati, manusia harus mengerahkan segala kemampuan demi kemanusiaan, dan setia dengan apa yang ada sekarang, terutama para korban bencana alam.

Sekilas terdengar seperti atheis, namun kita mesti berpikir realistis. Sisihkan saja pernyataan “Tuhan telah mati” dan mari kita analogikan pernyataan Camus dengan kenyataan dunia saat ini. Bahwa realita manusia yang telah terkotak-kotak karena terjebak dalam paradigma dogmatis agama terkadang menciderai naluri kemanusiaan kita.

Kita menetapkan standar tentang siapa yang boleh kita tolong. Siapa yang mesti kita pilih di pemilu agar masuk surga. Dan kini saat alam terguncang, kita menganggap para korban adalah pelaku kejahatan penuh dosa yang terkena azab.

Perlu kita ketahui dan pahami, strereotyping terhadap korban bencana dapat memberikan vibrasi negatif terhadap psikologis mereka. Para korban akan semakin terjerembab dalam palung duka dan merasa sebatang kara. Padahal sejatinya mereka memerlukan dukungan dan penguatan dari sesama manusia.

Barangkali itulah analogi teori absurditas Camus dengan kondisi dunia sekarang. Untuk memahami dan menghayati hidup, pertama tidak perlu berselisih mengenai sebab dan tujuan kita menolong.

Juga mencari tahu penyebab bencana datang. Paling tidak, bisakah kita berpikir bahwa hal itu adalah sesuatu yang logis dalam sebuah siklus alam? Kedua, secara mandiri atau bersama bersama dalam sebuah komunitas, manusia harus tangguh menolak kebatilan yang diwujudkan dengan sikap solider dan bertanggung jawab atas kehidupan yang ringkih.

Kemanusiaan adalah hal utama diatas segalanya, ia absolut dan universal, tidak terbatas pada keyakinan dan terbebas dari intervensi apapun.

Hal lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah kerja kemanusiaan tidak cukup hanya dengan rasa belas kasihan.

Perlu upaya nyata dan kompetensi untuk merevitalisasi keadaan hingga pada kondisi semula yang stabil. Oleh karena itu, upaya penanganan bencana alam adalah komponen penting agar kerja-kerja kemanusiaan semakin hidup dan memberikan dampak positif langsung kepada para korban.

Penanganan bencana telah berevolusi dari waktu ke waktu. Hingga kini terbagi dalam empat tahapan, meliputi tanggap darurat, kesiapsiagaan, mitigasi, sampai konsep ketangguhan.

Upaya tanggap darurat merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (UU No.24 Tahun 2007).

Tahapan ini telah dilaksanakan oleh seluruh komponen, baik pemerintah pusat, daerah dan masyarakat secara swadaya yang terdiri dari evakuasi korban, penyediaan prasarana dan sarana air bersih dan sanitasi, pembersihan kota dari puing-puing bangunan, serta pemulihan jalur angkutan menuju Palu dan sekitarnya.

Berkat kerja keras segenap jajaran pemerintah, kementerian, badan penanggulangan bencana, relawan, serta masyarakat, upaya tanggap darurat terlaksana hingga titik yang maksimal.

Evakuasi korban telah berhasil menemukan 2073 jiwa, meskipun semuanya telah berpulang namun setidaknya berhasil diidentifikasi dan dimakamkan secara layak oleh sanak keluarganya. Sebanyak 10679 orang mengalami luka-luka, dan kini para medis serta relawan sedang berjuang merawat dan memastikan mereka kembali sehat secara fisik maupun psikis.

Upaya nomalisasi jaringan listrik, komunikasi, dan transportasi sedang diupayakan. Bantuan dan donasi terus mengalir dari segala daerah, komunitas, bahkan luar negeri yang menggambarkan bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan secara riil sekalipun kita bebeda, dan tidak saling mengenal.

Dan mereka, yang meskipun tak ikut serta secara langsung menangani bencana gempa di Palu dan Donggala, namun dalam setiap kesempatan yang ada secara kolektif maupun pibadi memanjatkan doa demi keselamatan semua umat.

Inilah suatu wujud aksi kemanusiaan, yang saya kira lebih penting dari sekedar perdebatan status bencana: nasional atau bukan. Sesuai dengan konsep Camus, tak usah memperdebatkan hal yang tak penting.

Yang perlu digarisbawahi yaitu duka Palu adalah duka kolektif, duka seluruh rakyat Indonesia, dan penanganan bencana secara tepat dan cepat menjadi prioritasnya.

Selain tanggap darurat, ada kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Dua hal ini bukan lagi menjadi urusan pemerintah, namun menjadi sebuah kebutuhan edukasi bagi seluruh masyarakat. Harapannya akan terbentuk masyarakat sadar bencana, sehingga suatu saat kejadian serupa tidak akan menimbulkan korban maupun kerusakan yang lebih parah.

Terakhir adalah ketanggguhan masyarakat dalam meredam ancaman, beradaptasi, dan juga bertransformasi. Adaptasi adalah salah satu sifat manusia sebagai mahluk hidup dan bepengaruh langsung tehadap sisi psikologis.

Ketika manusia mempunyai bounce back (daya lenting) yang tinggi, secara tidak langsung kondisi yang semula mencekam berangsur-angsur pulih kembali. Hal ini tidak serta merta terjadi sendiri, manusia memerlukan support dan bantuan dari manusia lainnya. Ketangguhan dapat diwujudkan dengan kembali beroperasinya ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan sehingga roda kehidupan dapat berputar seperti sedia kala.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply