Adab Pembantu kepada Majikan menurut Al Ghazali

Hubungan pembantu dengan majikan merupakan hubungan kerja atau hubungan sosial ekonomi. Masing-masing pihak memiliki hak dan kewajipannya sebagaimana disepakati bersama baik secara tertulis mahupun secara lisan. Oleh itu, ada etika tertentu yang disebut adab bagi seorang pembantu terhadap majikannya.

 

Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Dîn Majmû’ah Rasail al-Imâm al-Ghazâli (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 445) menyebut enam adab pembantu kepada majikannya sebagai berikut:

 

آداب العبد مع سيده: يأتمر لأمره، وينصحه في غيبته، ويبذل له خدمته، ويحفظه في حرمته، ويرق على ولده، ولا يخونه في ماله.

 

Maksudnya: “Adab pembantu kepada majikan, yakni melaksanakan perintahnya, mentaati nasihatnya ketika sang majikan pergi, memberikan pelayanan kepada majikan, menjaga kehormatan majikan, mengasihani anak majikan dan tidak berkhianat dalam menjaga harta benda majikan.”

 

Dari petikan di atas dapat dihuraikan enam adab pembantu kepada majikan sebagai berikut:

 

Pertama, melaksanakan perintah majikannya. Apapun perintah majikan harus dilaksanakan oleh pembantu selama hal itu sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati bersama. Seorang pembantu tidak boleh sengaja mengabaikan perintah-perintah majikan sebab hal itu dapat mencetuskan konflik di antara mereka. Apabila hal ini dilakukan secara berulang-ulang dan sangat merugikan majikan, majikan boleh memberikan hukuman tertentu hingga memutus hubungan kerja dengan pembantu tersebut. Apalagi bila hal ini telah diatur dalam kesepakatan kerja.

 

Kedua, mentaati nasihat majikan ketika ia pergi. Sudah umum seorang majikan memberikan pesanan tertentu kepada pembantu selama ia tak ada di rumah. Misalnya, ia berpesan agar pembantu tidak menerima tetamu siapapun demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Atau majikan berpesan agar pembantu mengingatkan anak-anaknya supaya tetap rajin melaksanakan solat, pergi sekolah seperti biasa dan belajar dengan baik di rumah. Seorang pembantu harus mengindahkan nasihat atau pesan tersebut.

 

Ketiga, memberikan pelayanannya kepada majikan. Seorang pembantu adalah orang yang terikat dengan majikannya. Ia harus melayani majikan beserta keluarganya dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang pekerja ia harus profesional sesuai bidangnya. Jika seorang majikan meminta seorang pembantu tertentu untuk menjadi juru masak di keluarganya, maka ia harus berusaha menjadi juru masak yang baik. Demikian pula jika ia meminta seorang pembantu lainnya untuk fokus dalam kebersihan rumah, maka pembantu tersebut harus rajin membersihkan rumah dan barang-barang perabot rumah tangga secara teratur.

 

Keempat, menjaga kehormatan majikan. Seorang pembantu harus menjaga kehormatan majikannya sama ada dia adalah orang terpandang atau bukan di masyarakat. Sering kali orang beranggapan bahawa adab seorang pembantu dipengaruhi oleh bagaimana seorang majikan melatih dan membiasakannya. Misalnya, bagimana ketika seorang pembantu membukakan pintu untuk tetamu-tetamu yang datang kepada majikannya, lalu mempersilakannya masuk dan duduk di bilik tetamu yang disediakan. Seorang pembantu harus berlaku sopan terhadap siapapun tetamu yang datang kerana tetamu itu telah menjadi bahagian dari rumah tangga keluarga majikan.

 

Kelima, mengasihani anak majikan. Seorang pembantu harus memiliki sikap mengasihani kepada anak-anak majikan baik ketika ibubapanya ada di rumah mahupun sedang pergi. Ia tidak boleh berlaku kasar kepada anak-anak itu meskipun ia kurang suka kepada ibubapanya yang mungkin terkadang bersikap galak terhadapnya. Jadi seorang budak harus diperlakukan secara baik oleh pembantu terlepas dari bagaimana ibubapanya memperlakukan dirinya. Dengan kata lain, seorang pembantu tidak boleh melampiaskan dendam kepada anak-anak majikan kerana bagaimanapun mereka masih kecil dan tidak bersalah.

 

Keenam, tidak berkhianat dalam menjaga harta benda majikan. Seorang pembantu adalah orang lain tetapi menjadi ahli rumah tangga dari keluarga majikan. Secara tradisional ia tinggal satu rumah dengan keluarga majikan. Oleh itu seorang pembantu harus benar-benar dapat dipercaya dalam menjaga harta benda majikannya baik ketika majikan sedang ada di rumah mahupun ketika ia sedang di luar rumah untuk suatu keperluan. Dengan kata lain seorang pembantu haruslah orang yang benar-benar memiliki sifat jujur dan amanah.

 

Demikianlah enam adab pembantu kepada majikan sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Keenam adab ini masih bertambah karena sudah pasti masih ada adab-adab lain bergantung pada adat atau budaya dalam suatu wilayah dimana majikan tinggal. Di era globalisasi tidak dapat dihindari kemungkinan seorang pembatu rumah tangga bekerja pada seorang majikan yang  memiliki latar belakang budaya dan bahkan agama yang berbeza dari latar belakang pembantu tersebut. Maka menjadi penting bagi pembantu yang bekerja pada majikan asing untuk memahami perkara itu.

 

www.nu.or.id

No Comments

    Leave a reply