Agama, Berkah atau Bencana bagi Kemanusiaan?

Agama menjadi dualitas yang saling menegasikan. Di satu sisi ia mempromosikan perdamaian. Di sisi yang lain, justru mencetuskan kekerasan. Sepanjang sejarahnya, kita tidak kekurangan contoh atau akibat yang ditimbulkan oleh dua hal yang bertentangan secara diametral ini.

Yang menggerakkan Osama bin Laden atau Shoko Asahara adalah sama. Begitu pula dengan Bunda Teresa dan Abdul Sattar Edhi. Meskipun serupa, hasil akhirnya berbeda. Jika yang pertama disebut memakai agama untuk melegitimasi kekerasan. Maka yang disebut terakhir memakai agama untuk mempromosikan perdamaian serta kemanusiaan.

Lantas, bagaimana agama menghasilkan dua “output” yang sesungguhnya bertolak belakang ? Jawabannya sederhana saja. Karena input atau masukkannya pun berbeda. Sampai-sampai Charles Kimball dalam bukunya, “When Religion Become Evil” mengutip sastrawan besar, Shakespeare yang mewanti-wanti bahwa, “setan pun bisa mengutip kitab suci untuk kepentingannya.”

Mungkin terdengar aneh. Kitab suci memerintahkan untuk mengasihi fakir miskin, memelihara anak yatim dan mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta. Namun, di sisi yang lain, pelaku teror, bom bunuh diri, juga menisbahkan perbuatannya pada kitab yang sama. Bagaimana sebuah tindakan dilabeli “suci” hanya karena bersandar pada teks-teks dari kitab suci?

Di sinilah kemudian kata-kata Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. menemukan relevansinya. “Wa hadza al-Qur’an innama huwa khatthun masthur bayna daffatayn la yanthiqu. Innama yatakallamu bihi al-Rijal.” Artinya: “Dan Al Qur’an (kitab suci) tidak lain hanyalah teks tertulis yang diapit dua sampul. Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri. Manusialah yang berbicara melaluinya.” 

Perkataan Khalifah Ali tersebut sesungguhnya menarik. Ia adalah contoh aktual bagaimana dua kelompok menafsirkan sebuah kitab suci. Kelompok pertama adalah kelompok tekstualis atau literalis yang menafsirkan kitab suci sesuai dengan teks-nya. Malahan, mereka bisa dikatakan tidak menafsirkan, melainkan menelan bulat-bulat apa yang tercantum dalam teks.

Kelompok ini di zaman Khalifah Ali dikenal dengan nama Khawarij. Merekalah kaum pemberontak yang pada awal sekali mencap saudara-saudara yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai kafir dan wajib untuk dibunuh. Sementara kelompok kedua diwakili oleh Khalifah Ali sendiri. Kelompok ini menafsirkan ayat-ayat suci sesuai dengan konteksnya.

Diceritakan dalam Tarikh al-Tabari –seperti saya kutip dari Akhmad Sahal- bahwa Khalifah Ali pernah mengadakan pertemuan dengan pihak Khawarij. Di situ beliau sengaja membawa Al-Qur’an. Ketika berada di hadapan mereka, Ali lalu berseru kepada Al-Qur’an yang dibawanya: “Bicaralah ke kita!” Kontan saja mereka yang hadir heran dan bingung melihat ulah Sang Khalifah tersebut.

Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang benda mati bisa berbicara, begitu kira-kira pikir mereka. Ali akhirnya menukas dengan perkataan bahwa Al-Qur’an (kitab suci) tidak bicara sendiri, manusia yang berbicara melaluinya. Dengan kata lain, Khalifah Ali sedang menyindir perilaku kaum Khawarij, yakni mereka-mereka yang membaca teks namun melepas konteksnya.

Berangkat dari pendapat Khalifah Ali tersebut, maka siapapun bisa menisbahkan perbuatannya sebagai perintah dari Ilahi. “Kita memiliki kapasitas alamiah untuh berbelas kasih sekaligus untuk kekejaman,” ujar Karen Armstrong. Keduanya bisa berasal dari mata air yang sama, dari sumber yang sama, yakni kitab suci. Kemunculan Al-Qaeda, ISIS, Boko Haram, Aum Shinri Kyo atau Sekte Kuil Rakyat pimpinan James Jones bermuara pada tafsir tekstual mereka terhadap kitab suci.

Peran Positif Agama

Lewat ajaran agama, kita menemukan sosok-sosok yang menginsiprasi dunia sampai detik ini. Nabi, Rasul adalah sosok fenomenal yang dalam bahasa Thomas Carlyle dikategorikan sebagai “exceptional actors.” Teladannya diikuti miliaran manusia sejagad.

Namun, di zaman sekarang pun kita mengenal –atau paling tidak membaca biografi-tokoh-tokoh semacam Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Abdus Sattar Edi. Apa yang mereka lakukan terinspirasi dari ajaran agama yang mereka anut.

Mari kita cermati, apa peran positif agama terhadap orang-orang ini, dimulai dari Gandhi. Garis perjuangan Gandhi dikenal dengan nama Satyagraha (keteguhan berpegang pada kebenaran). Metode yang dipakainya adalah Ahimsa, Hartal dan Swadesi.

Ahimsa merupakan metode gerakan untuk tidak melakukan kekerasan (non-violence). Hartal merupakan metode pemogokan nasional dan menjalani puasa. Swadesi merupakan gerakan untuk memakai produk dalam negeri dan menolak memakai barang impor.

Perjuangan Ghandi mendapat pengaruh dari ajaran Bhagavad Gita, Khotbah di Atas Bukitnya Yesus dan Leo Tolstoy. Ghandi juga membaca Injil dan Al-Qur’an. Bahkan Ghandi mempelajari riwayat Nabi Muhammad Saw yang ditulis oleh Washinton Irving, Life Of Mohamet and His Successors. Ghandi –dalam otobiografinya-mengatakan bahwa buku-buku ini meninggikan derajat Muhammad Saw dalam hati saya (Salim, 2016 : 5811).

Cara-cara yang dilakukan Ghandi membuat sulit pemerintah Kolonial Inggris. Dan akhirnya, Inggris memberikan kemerdekaan kepada India pada 1947. Walaupun merdeka, namun Ia merasa itu bukan cita-citanya karena India dipisahkan antara India Muslim (Pakistan, merdeka 14 Agustus 1947) dan India Hindu (India, merdeka 15 Agustus 1947).

Pada masa itu, sering terjadi pertikaian antar agama, terutama Muslim dengan Hindu. Beliau lalu menghentikan pertikaian tersebut dengan menjalani puasa. Ironisnya, Gandhi wafat terbunuh pada 30 Januari 1948 karena ditembak oleh Nathuram Godse, seorang Hindu fanatik yang membenci sikap toleransi Ghandi terhadap umat muslim. Pada saat itu dia sedang melakukan puasa demi pencapian perdamaian antara India dan Pakistan. Ketika ditembak, dia terjatuh ke tanah dengan berteriak ‘he rama’ (O, Tuhan).

Selain Ghandi, di abad 20 ini kita pun menemukan sosok langka seperti Bunda Teresa. Bernama Agnes Gonxha Bojaxhiu, lahir di Skopje, Makedonia 26 Agustus 1910 dan meninggal di 5 September 1997 di Kolkata. Biasa dipanggil Gonxha, sebutan berasal dari bahasa Albania yang berarti kuncup bunga (detik.com, 12/01/18).

Perempuan peraih Nobel Kemanusiaan ini mengabdikan hampir sebagian besar hidupnya untuk kemanusiaan. Selama lebih dari 47 tahun, ia tak segan terjun ke wilayah kumuh untuk melayani orang miskin, orang sakit, dan yatim piatu di kalkota, India. Misi Kemanusiannya itu berkembang ke seluruh India dan dunia atau sekitar 123 negara lainnya. Ia juga membuka Home for The Dying, sebuah rumah yang disediakan oleh Kota Kolkata untuk mereka yang sekarat.

Menariknya, ia tak membeda-bedakan status atau kasta yang masih berlaku di India. Tidak peduli apakah mereka seorang Muslim, Hindu atau Kristen. Ketika ada yang sekarat dan meninggal, mereka akan dikuburkan dan didoakan sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing. Bagi mereka yang Muslim akan dibacakan Al-Quran, Orang Hindu akan menerima air dari Sungai Gangga dan mereka yang Katolik akan menerima Ritus Terakhir.

Ketika Bunda Teresa wafat, Ia diberi pemakaman kenegaraan oleh pemerintah India sebagai jasanya kepada kaum miskin dari semua agama di India. Pada 4 September 2016, Bunda Teresa dikanonisasikan oleh Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Perhatiannya yang sangat besar pada kaum papa, miskin dan orang-orang lemah senantiasa menggema hingga kini: “Mari kita menolong mereka yang sekarat, mereka yang miskin, mereka yang sendirian dan mereka yang tidak diinginkan menurut anugerah yang telah kita terima serta jangan biarkan kita malu dan berlambat-lambat untuk melakukan pekerjaan yang rendah hati.”

Last but not least, Abdul Sattar Edhi adalah tokoh berikutnya. Guru besar kemanusiaan ini belum lama meninggalkan kita. Tepatnya, pada 8 Juli 2016 lalu. Siapakah dia, dan apa perannya, mungkin belum banyak yang mengenalnya. Ia adalah seorang dermawan, filantropis, dan dijuluki “Bunda Teresa-nya Pakistan.” Ya, Ia memang berasal dari Pakistan. Namun kerja besarnya melampaui batas-batas negaranya.

Dikutip dari cnnindonesia.com, Selama lebih dari 60 tahun, Edhi bersama istrinya Bilquis mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama dengan membangun klinik, panti asuhan dan jaringan ambulans terbesar di Pakistan. Yayasan Edhi juga memiliki pusat perlindungan bagi wanita dan dapur umum bagi orang miskin di seluruh Pakistan (10/07/2016).

Pada masa remaja, tepatnya ketika berusia 19 tahun Ia mengalami kejadian traumatis. Ibunya wafat dan Ia kesulitan untuk mendapatkan ambulance, sehingga Ia mengantarkan sendiri Ibunya ke rumah sakit. Rasa kemanusiaannya pun tumbuh melihat kondisi sekitarnya. Ia kecewa dengan kondisi di “di mana ketidakadilan, sogok-menyogok dan perampokan sangat umum terjadi.” Dia mulai dengan membuka toko obat kecil di samping rumahnya, yang menawarkan obat-obatan sederhana, berapa pun bayarannya (geotimes.co.id 28/12/2016).

Negara tetangganya, India, yang kerap berseteru dengan Pakistan, memberikan penghargaan yang besar pada sosok Edhi. Menurut pemerintah India, Edhi “adalah jiwa sejati yang mendedikasikan dirinya untuk melayani sesama.”

Peran Negatif Agama

Setelah sedikit memaparkan peran positif agama terhadap kemanusiaan, tak adil kiranya jika kita tidak mengulas juga peran negatif agama. Pembahasan ini penting agar kita dapat mengetahui –seperti yang disebutkan di awal tulisan ini-bahwa ajaran agama menghasilkan dua output yang saling bertolak belakang.

Dus, ketika ajaran agama menghasilkan orang-orang sekelas Gandhi, Bunda Teresa dan Abdul Sattar Edhi, maka agama pun menjadi biang keladi kemunculan orang-orang seperti David Koresh, Shoko Asahara, Osama bin Laden atau Imam Samudra. Orang-orang yang disebut terakhir ini adalah orang-orang yang membaca teks-teks suci secara literal.

Mereka juga kerap disebut kaum fundamentalis atau radikalis. Mereka melihat agama dengan kacamata hitam putih. Menurut kelompok ini –seperti dituturkan Ulil Abshar Abdalla- Tuhan adalah sejenis rumus matematika yang bisa diketahui dan dipegang dengan pasti. Barangsiapa melawan rumus itu, dengan sendirinya ia kafir, dan harus di ekskomunikasikan dari komunitas orang-orang beriman (versi mereka).

Dalam catatan sejarah, Perang Salib yang berjilid-jilid adalah contoh nyata konflik atas nama agama. Seperti yang saya bilang di awal tulisan ini. Bisa jadi latar belakangnya tidak melulu persoalan agama. Tetapi misalnya kecemburuan, ekonomi atau politik semata, tapi tidak bisa dipungkiri agama menjadi alat legitimasi yang menggerakkan perang besar ini.

Dendam Perang Salib bahkan dibawa-bawa hingga kini. Saat Inggris menaklukkan Palestina pada 1917, Jenderal Allenby memasuki Yerusalem dari arah yang dulu digunakan Khalifah Umar saat memasuki Yerusalem dengan berjalan kaki. Salah satu pernyataan Allenby yang terkenal saat memasuki Yerusalem adalah: “Baru sekarangah Perang Salib berakhir” (republika.co.id, 20/01/2018).

Kita juga ingat selepas serangan ke Menara Kembar pada 11 September 2001 lalu, Presiden Bush menggaris bawahi perang melawan terorisme adalah sebagai Perang Salib Kedua. Pernyataan kontroversial ini praktis membuka luka lama di antara dua agama besar ini.

Di tanah air, konflik yang berlatar belakang agama menjadi catatan kelam bangsa. Pencetusnya bisa saja masalah ekonomi, kecemburuan sosial, ketimpangan atau ketidakadilan. Namun, tidak bisa dipungkiri bumbu-bumbu agama turut memeruncing gesekan yang terjadi. Kisah kerusuhan Ambon atau Poso di Sulawesi Tengah adalah contoh nyata konflik-konflik semacam ini.

Kerusuhan Ambon pada 1999 misalnya. Konflik ini mengkotak-kotakkan masyarakat berdasarkan keyakinannya. Ada daerah Islam, ada kawasan Kristen. Mirisnya, bahkan transportasi pun di bawa-bawa ke ranah agama. Ada angkutan kota (angkot) Islam ada pula angkot Kristen. Konflik-konflik ini membawa korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit. Sejumlah sejarawan menyebut tragedi Ambon dan kawasan Maluku sebagai konflik Kristen-Muslim terbesar dan terparah dalam sejarah sosial-politik di Indonesia (liputan 6.com).

Selain konflik kemanusiaan, Indonesia pasca Reformasi juga diwarnai dengan aksi-aksi terorisme. Malahan, kata “terorisme” menjadi kosakata yang kerap kita dengar. Bom bunuh diri, pengeboman fasilitas umum hingga perusakan rumah ibadah adalah peristiwa yang tidak kunjung berakhir, meski Densus 88 aktif menggerus sel-sel teroris. Para Teroris selalu mengatasnamakan agama dalam aksi-aksi mereka.

Yang tak kalah mirisnya, adalah persekusi terhadap kelompok minoritas. Tanyakan bagaimana nasib warga Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat dan Syiah di Sampang Madura. Dua kelompok yang telah lama hadir, bahkan eksis sebelum kemerdekaan ini justru menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Bahkan, bagi Ahmadiyah, nasib mereka sangat tragis. Masjid, tempat tinggal hingga nyawa mereka menjadi sangat murah. Hal ini masih menjadi PR besar bagi pemerintah. Sayangnya, bergantinya rezim pemerintahan tidak serta merta menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh.

Menempatkan Agama pada Fitrahnya

Sekarang tinggal pertanyaan besarnya. Adakah agama masih merupakan daya dorong bagi kemajuan umat manusia, atau justru menjadi daya hancur kemanusiaan? Saya masih percaya poin yang pertama. Agama masih dan akan terus menjadi daya dorong positif bagi kemanusiaan.

Lalu, bagaimana dengan ekses negatifnya? Ekses negatif tidak menjadikan agama sebagai tertuduh. Ideologi semacam liberalisme, kapitalisme, fasisme, komunisme serta isme-isme lainnya pun patut dipersalahkan atas tragedi kemanusiaan.

Agama atau teks-teks suci dapat digunakan siapa saja untuk melegitimasi tindakan mereka. Jika kita memosisikan agama pada fitrahnya, maka agama akan menghadirkan wajahnya yang pro kemanusiaan. Sosok Nabi dan kemunculan orang-orang besar dari beragam agama adalah bukti bahwa agama selalu pro kemanusiaan. Namun ada juga yang menyelewengkan ajaran agama.

Ajaran agama hanyalah bungkus untuk menutupi wujud asli mereka. Di sanalah kemudian agama menjadi buas dan anti kemanusiaan. Inilah wajah yang tidak sesuai fitrahnya, dan tidak autentik lagi. Oleh karenanya mari kita kembalikan wajah agama yang sesungguhnya. Agama yang asli dan autentik.

Referensi:

Jurnal

Salim, Kamaruddin. Gerakan Sosial Dalam Perspektif Mahatma Ghandi. (Jurnal Ilmu dan Budaya, Volume : 40, No.51, Mei /2016, Alumni Pascasarjana, Ilmu Politik Universitas Nasional, 2016).

Tautan

Sumber : qureta.com
No Comments

    Leave a reply