Agama, Budaya, dan Ruh Kemanusiaan

Dewasa ini, krisis kemanusiaan merupakan problema yang urgen untuk tidak hanya diperbincangkan, namun diatasi dengan kerja nyata. Masalah kemanusiaan pada dasarnya merupakan masalah yang paling dekat dengan kehidupan manusia, mengingat manusia merupakan subjek sekaligus objek terjadinya krisis kemanusiaan itu sendiri.

Krisis kemanusiaan dapat diartikan sebagai kemerosotan sifat-sifat manusia sehingga manusia hidup dalam ancaman penderitaan dan bahaya besar. Krisis kemanusiaan dapat berupa penindasan, diskriminasi, dan bencana alam yang selanjutnya memiliki dampak pada kelangsungan hidup manusia baik terkait permasalahan kesehatan, kemiskinan, dan segala yang mencakup Hak Asasi Manusia.

Dilansir dari CNN Indonesia (03/3/17), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, setidaknya 20 juta lebih warga yang terdapat di empat negara berkonflik—Somalia, Sudan Selatan, Yaman, serta Nigeria—terancam  kelaparan dan terserang penyakit. Krisis ini dinilai menjadi yang terparah sejak organisasi internasional itu terbentuk.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyebut krisis yang melanda negara-negara ini telah “diabaikan” dunia. Belum lagi wacana peperangan antara Palestina dan Israel yang tidak kunjung usai.

Kasus ini masih belum berhenti mejadi sorotan publik di seluruh belahan dunia. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pertikaian Palestina-Israel sebagai persolan terkait agama, namun pamahaman tersebut sesungguhnya dapat dikatakan keliru. Lebih dari itu, pertikaian antara Israel dan Palestina lebih layak dikatakan sebagai problema kemanusiaan, yang meliputi perampasan hak, yaitu hak untuk hidup bebas dari ancaman dan penderitaan.

Selanjutnya, melihat  banyaknya kasus krisis kemanusiaan yang terjadi di seluruh belahan dunia, perlu dicari solusi mendasar untuk meminimalisir catatan krisis kemanusiaan dan dampak buruk yang menyertainya. Sebagaimana yang kita tahu bahwa sejatinya krisis kemanusiaan terjadi akibat kemerosotan nilai kemanusiaan itu sendiri. Maka dari itu, perlu dilakukan upaya mendalam untuk memanusiakan manusia agar seluruh manusia di bumi dapat hidup dengan tentram dan damai tanpa terkecuali.

Salah satu aspek mendasar dari manusia adalah keperibadian manusia itu sendiri. Kepribadian seseorang dapat menentukan bagaimana cara ia berpikir dan bertindak, serta menentukan pilihan–termasuk perihal mana yang baik dan mana yang buruk. Seyogyanya, setiap manusia yang sehat akal, bahkan anak kecil sekalipun mengetahui dasar-dasar perilaku baik dan perilaku buruk.

Namun yang menjadi pertanyaannya, mengapa masih ada manusia di muka bumi yang mau melakukan hal buruk? Jawabannya sederhana, karena manusia diciptakan Tuhan bukan hanya disertai akal dan perasaan, namun juga napsu—baik napsu baik mupun napsu buruk.

Lantas, apa yang dapat menjadi batasan dari napsu manusia? Maka jawabannya adalah agama.

Agama diciptakan Tuhan sebagai pedomana hidup manusia di bumi. Selain agama, terdapat pula budaya sebagai hasil dari proses pemikiran panjang manusia tentang apa yang harus dipertahankan sehingga menjadi kebiasaan dan apa yang harus ditinggalkan. Selanjutnya akan diuraikan lebih lanjut terkait peran agama dan budaya dalam upaya memanusiakan manusia.

Agama dan budaya merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Agama dan budaya merupakan dua hal yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain yang menghuni bumi. Agama dan budaya, keduanya menyinggung baik rasionalitas maupun rasa yang dimiliki oleh manusia.

Harus kita ketahui bahwa agama dan budaya bukan sesuatu yang dapat disejajarkan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa agama dan budaya selalu berjalan beriringan dalam kehidupan manusia. Aturan-aturan dalam agama dapat menjadi batas-batas tindak laku manusia, begitupula kebiasaan-kebiasaan yang disebut sebagai budaya juga dapat menjadi patokan manusia dalam bertingkah laku yang sesuai dengan kelaziman yang telah disepakati antar manusia yang berbudaya.

Perbedaannya adalah bahwa agama mutlak berasal dari Tuhan sebagai pedoman hidup manusia di bumi, sedangkan budaya merupakan hasil cipta karsa manusia yang sejalan dengan dinamika kehidupan. Walau agama mutlak berasal dari Tuhan, agama tidak hanya mengajarkan hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan, namun agama sebagai pedoman hidup manusia juga mengajarkan harmonisasi hubungan antara manusia dengan manusia di bumi.

Begitu pula dengan budaya. Budaya yang baik adalah budaya tidak mencederai sendi-sendi agama. Sebagaimana yang kita ketahui, secara etimlogi agama berasal dari kata a yang artinya tidak dan gama yang artinya kacau. Selanjutnya, secara harfiah agama dapat diartikan tidak kacau.

Manusia beragama adalah manusia yang cinta perdamaian dan menghargai setiap perbedaan di muka bumi. Manusia beragama adalah manusia yang memiliki tenggang rasa dan peduli terhadap sesama, sebab tolak ukur tingkat keagamaan seseorang dapat dilihat bukan hanya dari hubungannya dengan Tuhan, namun juga bagaimana keberhasilan hubungannya dengan sesama manusia, dan seberapa jauh hatinya terketuk mengulurkan tangan  kepada saudaranya yang sedang mengalami kesulitan.

Oleh karena itu, sudah selayaknya budaya yang dianggap sebagai suatu kebiasaan dapat pula disebut sebagai dasar pembentuk kepribadian setiap individu penganutnya, bahkan lebih luas lagi dapat dikatakan sebagai kepribadian suatu bangsa, pada dasarnya harus sejalan dengan hakikat beragama. Budaya yang dapat meyokong pilar-pilar agama adalah budaya yang harus kita tumbuh kembangkan.

Sebagai contoh, Indonesia merupakan negara yang sangat kental dengan budaya gotong-royong dan kekeluargaan, yang artinya bahwa pada hakikatnya bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Seluruh masyarakat Indonesia adalah saudara-keluarga satu bangsa. Begitupula seluruh manusia di muka bumi adalah saudara yang terikat dengan rasa kemanusiaan.

Hal serupa juga ditekankan dalam esensi kehidupan  beragama. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Asghar Ali Engineer (2004) yang menyatakan bahwa terdapat tujuh nilai yang paling mendasar  dari setiap agama, yakni kebenaran, non-violence, keadilan, kesetaraan, kasih sayang, cinta dan toleransi.

Ketujuh nilai tersebut jika kita amati, menyinggung langsung pada nilai-nilai kemanusiaan. Maka dapat ditarik simpulan bahwa pada dasarnya keberadaan agama di bumi tidak lain adalah sebagai dasar-dasar pembentukan  nilai-nilai  kemanusiaan—agama apapun itu tanpa terkecuali.

Begitupula dengan budaya. Budaya terbentuk dari banyak unsur, salah satunya adalah agama. Budaya diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Maka dari itu, pada hakikatnya budaya merupakan suatu yang bernilai luhur yang menyangkut budi manusia.

Selanjutnya, jika budaya dikatakan sebagai kebiasaan yang menyangkut budi dan akal, maka seiring berjalannya waktu kebudayaan primitif akan tergantikan dengan suatu budaya atau kebiasaan yang  lebih baik dan dapat dicapai oleh nalar manusia. Begitulah budaya terus berkembang sejalan dengan dinamika kehidupan.

Budaya tidak akan pernah terlepas dari seleksi alam. Budaya yang baik dan arif akan terus bertahan, sedangkan budaya yang membawa pada kemerosotan nilai kemanusiaan sedikit demi sedikit akan tergerus waktu seiring dengan berkembangnya pemikiran manusia dan pengetahuannya tentang hal baik-buruk, karena seyogyanya manusia selalu berupaya untuh tumbuh menjadi makhluk yang lebih baik.

Di sinilah letak perbedaan agama dengan budaya dan sekaligus keterkaitannya. Agama tidak mengikuti zaman, melainkan terus memengaruhi zaman. Sebaliknya, budaya terus diperbaharui sesuai dengan bertumbuhnya zaman agar terus berkembang ke arah yang lebih baik secara konvensional, dan agama menjadi salah satu faktor yang memengaruhinya.

Sejalan dengan peran agama dan budaya dalam upaya meniupkan ruh kemanusiaan pada diri manusia, tidak dipungkiri bahwa upaya ini tidak selalu berjalan mulus. Ajaran agama dan budaya yang sejatinya mengandung unsur cinta kasih dan kemanusiaan kerap kali dijadikan alasan terjadinya tindak diskriminasi dan peindasan yang menyebabkan disintegrasi.

Banyak kita temui di berbagai belahan duni terkait kasus penindasan dan diskriminasi agama maupun ras minoritas di suatu wilayah. Kasus lain yang sering terjadi terkait dengan praktik primodialisme dan etnosentrisme yang dapat menjadi salah satu pemicu  perpecahan antar-golongan etnik maupun ras, walau sejatinya di lain sisi berpengaruh positif dalam konteks pemertahan budaya. Di sinilah agama dan hakikat berbudaya benar-benar dituntut.

Banyak manusia yang mengaku beragama dan berbudaya, namun tidak memiliki rasa tenggang rasa dan tolerensi antara sesama manusia. Perbedaan kerap kali dianggap sebagai penyulut perpecahan, padahal sejatinya perbedaan adalah penguat  persatuan jika seluruh manusia di muka bumi saling menghargai setiap perbedaan. Bukannya Tuhan menciptakan perbedaan di muka bumi agar kita saling mengenal dan belajar memahami satu sama lain? Tidak akan ada yang disebut sebagai persatuan jika tidak ada perbedaan.

Dapat ditarik simpulan bahwa agama dan budaya pada hakikatnya mengajarkan manusia untuk menjadi manusia yang berjiwa manusia. Walau terdapat banyak perbedaan di dunia—dan agama serta budaya tidak terlepas dari sasaran keanekaragaman yang menciptakan perbedaan—namun seluruh manusia di muka bumi sejatinya adalah saudara yang terikat dengan rasa kemanusiaan. Kriris kemanusiaan adalah tanggung jawab seluruh manusia di muka bumi—bukan hanya presiden, pejabat HAM, atau organisasi-organisasi kemanusiaan.

Jangan mengaku sebagai manusia beragama dan berbudaya jika hanya ‘tutup mata’ atau berkoar tanpa tindakan nyata yang akhirnya memperpanas suasana sehingga memicu tindak provakasi dengan setiap krisis kemanusiaan yang terjadi. Karena sesungguhnya yang dikatakan manusia adalah makhluk yang  hatinya terasa perih ketika melihat dan mendengar kesusahan yang dialami oleh manusia lain, selanjutnya akal digunakan untuk  mencari cara untuk bagaimana meringankan beban tersebut—bukan justru memperburuk keadaan.

Oleh karena itu, nilai kemanusiaan tidak memandang perbedaan. Jika kita manusia, maka kita berasaudara. Begitulah yang diajarkan agama dan budaya sebagai pedomana hidup antar sesama manusia yang berjiwa manusia.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply