Agama dan Makanan

Seseorang yang dalam kehidupannya tidak makan secara teratur dapat dipastikan pada akhirnya dia akan mati kelaparan. Dalam hal beragama, ia akan mati dalam keadaan yang apes (su’ul khatimah) apabila tidak beragama dengan baik.

Makanan dan agama bagaikan dua keping emas yang bisa dipertaruhkan antara hidup di dunia dan hidup di akhirat. Pesannya hampir sama, makanlah dengan mempertimbangkan kesehatanmu di dunia dan beragamalah dengan mempertimbangkan keselamatanmu di akhirat.

Jadi, apabila ingin hidup sehat dan selamat, makanlah dan beragamalah. Apabila keduanya ini dijalankan secara teratur, dapat dipastikan dia akan menikmati kehidupannya di dunia maupun di akhirat.

Munculnya Agama dan Munculnya Makanan

Teori munculnya suatu agama, bagi Friedrich Max Muller, adalah melalui bahasa (L. Pals, 2011). Muller berangkat dari bentuk-bentuk bahasa di India dan beberapa bagian di Eropa, yang berasal dari bahasa yang satu dari masyarakat purba, yaitu masyarakat Arya.

Muller membandingkan hubungan kata-kata dari bahasa-bahasa tersebut, dan hipotesa yang ia dapatkan bahwa pola pikir orang Arya Indo-Eropa pun memiliki beberapa kesamaan, terutama reaksinya dalam menangkap proses alam yang kemudian dibahasakan dalam kepercayaannya terhadap hal-hal yang spiritual.

Kekaguman masyarakat Arya terhadap proses alam, seperti terbit dan tenggelamnya matahari, mereka kemudian memiliki pengalaman tentang “Sesuatu Yang Tak Terbatas”, suatu perasaan yang menggambarkan perihal ilahiah di balik segala kejadian dunia.

Sayangnya, ketika pengalaman ini diekspresikan melalui doa-doa dan pujian, bahasa seolah mengkhianati mereka. Bahasa memaksa mereka untuk mempersonifikasikan sesuatu.

Misalnya, Dewa Apollo (matahari) dan Dewi Daphne (fajar). Masyarakat Yunani, yang juga merupakan salah satu rumpun Arya, membuat cerita khayalan dari suatu peristiwa alam. Setiap hari fajar hilang dengan terbitnya matahari, mereka deskripsikan sebagai Dewi Daphne yang sekarat di tangan Dewa Apollo.

Muller menyebut proses lahirnya cerita ini sebagai penyakit bahasa. Kata-kata yang awalnya bertujuan mendeskripsikan alam dan mengisyaratkan suatu kekuatan di balik alam, terdistorsi menjadi bentuk cerita-cerita rekaan tentang dewa dan dewi.

Hal tersebut disadari oleh Muller bahwa masyarakat kala itu lebih menyukai cerita-cerita mitis seperti itu ketimbang membentuk suatu agama yang independen berdasarkan inspirasi dan persepsi indah tentang Yang Tak Terbatas.

Penulis setuju dengan apa yang dikehendaki Muller. Untuk menyebut “Sesuatu Yang Tak Terbatas”, kok dibahasakan dalam bahasa manusia? Parahnya, bahasa tersebut dibuat cerita-cerita mistis yang – menurut sebagian orang – tidak masuk akal.

Tentunya, sebelum masyarakat purba memercayai “Sesuatu Yang Tak Terbatas”, mereka lebih dahulu tahu bagaimana caranya bertahan hidup, yaitu makan. Jauh sebelum agama lahir, makanan sudah menjadi bahan pokok mendasar bagi manusia untuk bisa bertahan di dunia.

Menariknya, setelah agama lahir, ia mengatur kehidupan manusia secara universal, termasuk bagaimana manusia itu makan dengan baik, sehat, halal, dan tentunya, sekaligus agamis. Dengan dalih pengharapan rida Tuhan, agar kelak di akhirat, manusia bisa mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Tidak sedikit orang yang mempersalahkan perihal makanan yang tidak sesuai dengan syariat agama. Dikatakan bid’ah, tidak etis, tidak halal, dan lain sebagainya.

Kepercayaan ini membumi, karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Dan setiap aktivitas yang dilakukan manusia, setidaknya harus ada sikap “ngabdi” kepada-Nya.

Ciri Khas Agama dan Ciri Khas Makanan

Kemunculan suatu agama tidak terlepas dari ciri khas daerah tertentu. Islam, misalnya, muncul di tanah Arab, Kristen di Yerussalem, Hindu di tanah India, dan beberapa agama atau keyakinan yang lain. Di setiap agama yang dianut punya simbol-simbol tertentu sebagai identitas pembeda dari agama lain.

Makanan juga begitu. Tempe, misalnya, ia mempunyai simbol dan identitas tertentu sebagai pembeda makanan lain. Berasal dari kedelai, agak keras, dan sering dijual dalam bentuk kotak.

Menariknya, tempe sudah tidak dikonsumsi oleh daerah lokal Jawa atau bahkan Nusantara, tetapi sudah dirasakan oleh sebagian besar bangsa di dunia, seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat (Wikipedia).

Khasnya suatu makanan dan khasnya suatu agama – seiring perkembangannya – menyebar luas dengan berbagai kepentingannya. Bisa karena politik, ekonomi, dan kebutuhan yang sesuai dengan latar sosio-historisnya.

Hal yang mungkin muncul di dalam benak kita, mengapa dalam hal beragama, kita tidak bisa merasakan enaknya agama lain? Sebagaimana menikmati tempe, yang enaknya sudah dirasakan di belahan dunia tanpa memandang kriteria tertentu.

Toleransi Beragama dan Toleransi Makanan

Parameter toleransi beragama adalah bagaimana caranya manusia agar tetap bisa menjaga keyakinannya supaya selamat di akhirat. Sedangkan dalam hal makanan, toleransinya adalah bagaimana caranya manusia bisa menjaga pola makannya agar bisa menjaga kesehatan jasmaninya dan tetap bertahan hidup.

Apabila dipisahkan keduanya, maka patut kiranya bertanya kepada ulama (agama) dan dokter (makanan) agar tidak tersesat.

Namun tidak sedikit yang mencampur-adukkan keduanya. Ulama mengharuskan manusia makan dan minum sesuai ajaran kitab suci. Sedangkan dokter, mengharuskan pasien untuk makan dan minum dengan tidak lupa berdoa kepada Tuhan untuk kesehatan dan kesembuhannya.

Parahnya, agama sering kali ikut campur secara overdosis dalam semua lini kehidupan, terutama apabila dikaitkan dengan negara. Negara yang memiliki sistem agama tertentu sebagai pijakannya akan dapat merusak keberagamaan.

Agama, yang meskipun mengatur segala aktibitas manusia, tidak harus diperlakukan secara overdosis, melainkan proporsional. Sebagaimana makanan, apabila makan secara proposional, maka akan mampu menyehatkan badan dan membuat hidup lebih semangat.

Jalan keselamatan dalam agama – sebagaimana penulis kutip dalam ceramah Gus Mus – bukanlah “ghayah” (tujuan akhir), melainkan “washilah” (perantara). Orang beragama apa pun hanyalah perantara (washilah) menuju Tuhan (ghayah). Sama seperti makanan, orang makan apa pun hanyalah perantara (washilah) menuju bertahannya hidup (ghayah).

Oleh karenanya, penting dicatat bahwa proporsi kita dalam hal beragama adalah menuju keselamatan Tuhan dan tidak merusak variasi keberagamaan. Dan proporsi kita dalam hal makanan adalah yang menyehatkan badan dan dilakukan secara teratur.

Manusia bisa merasakan nikmatnya agama lain sebagaimana makanan apabila ia tetap memegang ciri khas agama yang dipeluk, tidak merusak citra agama lain, dan sama-sama menuju jalan keselamatan.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply