Agama Kemanusiaan

Jika ada pertanyaan “Agama apakah yang paling banyak mengatur peradaban manusia?”, maka jawabnya adalah “Islam”. Jawaban ini sekaligus menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang paling paripurna dibanding agama-agama yang lain. (QS. al-Maidah/5: 3).

Islam memberikan tuntunan hidup bagi manusia dari persoalan yang paling kecil hingga kepada urusan yang paling besar, mulai dari urusan rumah tangga, tidur, makan dan minum, sampai pada urusan bangsa dan negara.

Tentu tidaklah berlebihan jika HAR. Gibb dalam bukunya Whiter Islam menyatakan bahwa Islam is indeed much more than a system of theology is complete civilization (Islam tidak hanya sekadar berisikan ajaran teologi semata, tetapi ia sarat dengan peradaban).

Secara garis besar, ruang lingkup ajaran Islam meliputi tiga permasalahan. Pertama, masalah keyakinan (akidah). Kedua, masalah yang berhubungan dengan peraturan dan perundang-undangan (syariah). Ketiga, masalah yang berkaitan dengan tingkah laku baik dan buruk (akhlak).

Jika persoalan akidah lebih berorientasi vertikal-transendental, maka syariah dan akhlak berorientasi horizontal. Tetapi kedua hal tersebut, yakni vertikal dan horizontal, harus integral. Dalam artian, tidak boleh senjang.

Dengan demikian, maka agama Islam memiliki keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi, antara vertikal dan horizontal, atau, dengan kata lain, antara teologis dan sosiologis.

Membicarakan persoalan relasi antara sistem keimanan dengan sistem sosial, maka dalam ajaran Islam tentu antara keduanya jelas tidak bisa dipisahkan. Hal ini kerena Allah swt memberikan penegasan dalam beberapa surah dan ayat-ayat-Nya di dalam Alquran, antara lain: QS. An-Nisa/4: 36-37, QS. Al-An’am/6: 151, QS. Al-Baqarah/2: 177, dan QS. Al-Qashash/28: 77.

Rasyid Ridha dalam kitab tafsirnya Al-Manar, ketika menjelaskan tentang beberapa surat dan ayat-ayat yang disebutkan di atas, beliau menekankan bahwa ayat-ayat tersebut merupakan bukti representatif bahwa ajaran Islam sangat manaruh perhatian yang begitu besar terhadap masalah-masalah kemanusiaan.

Secara alamiah, Islam dimulai dari gerakan moral dan kemanusiaan. Hal ini diperkuat dengan adanya pengakuan Nabi dalam sebuah hadisnya: Innama buistu li utammima makarima al-akhlak, bahwa Nabi diutus oleh Allah swt untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Artinya, gerakan yang dilakukan oleh Nabi saw berorientasi pada masalah-masalah pembangunan umat dan pembinaan masyarakat yang bebas dari eksploitasi, penindasan, serta ketidakadilan dalam bentuk apa pun.

Ketika Alquran secara tegas mengutuk penindasan dan ketidakadilan, maka perhatiannya terhadap wujud sosial yang baik dari masyarakat yang egaliter tentu tidak bisa disangkal lagi. Karena itu, istilah-istilah Alquran juga mempunyai konotasi-konotasi yang berorientasi pada permasalahan sosial-ekonomi-politik-budaya yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, term kafir yang kerap kali kita jumpai dalam Alquran tidak hanya bermakna ingkar terhadap Tuhan, melainkan secara tidak langsung juga menantang terhadap masalah-masalah keadilan dan kejujuran yang seharusnya diwujudkan dalam suatu kehidupan bermasyarakat.

Oleh karenanya, orang yang mengaku beriman kepada Allah harus menunjukkan keberpihakannya (komitmen) terhadap orang-orang yang lemah (mustadh’afin), seperti: anak-anak yatim, orang miskin, orang terlantar, serta menegakkan keadilan dan kejujuran di muka bumi ini.

Berdasarkan hal tersebut, nilai-nilai ajaran Islam pada dasarnya bersifat all-embracing (menyeluruh) bagi penataan sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Untuk itu, tugas terbesar Islam sesungguhnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan mengadopsi nilai-nilai yang termaktub di dalam ajaran Islam.

Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat untuk alam semesta, termasuk kemanusiaan.

Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Inilah inti dasar dari ajaran Islam. Humanisme Islam adalah humanisme teosentrik. Artinya, ia merupakan sebuah agama yang memusatkan dirinya pada persoalan keimanan terhadap Tuhan, tetapi mengarahkan perjuangan untuk kemulian peradaban manusia.

Dalam hadis Nabi saw menegaskan: “Bahwa tidak dianggap sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Apa yang ditegaskan dan diajarkan oleh Nabi ini sebetulnya memiliki makna yang dalam jika dikaitkan dengan isu-isu kontemporer dan problema sosial yang terjadi dewasa ini. Misalnya, masalah hak asasi manusia (HAM), keadilan, persatuan, pengentasan kemiskinan, dan sebagainya.

Ini artinya bahwa dimensi Islam tidak hanya bercorak teosentris, tetapi juga antroposentris. Karena agama diturunkan Tuhan untuk manusia dan manusia tidak lepas dari katergantungan dengan manusia yang lain, atau juga dengan alam ciptaan Tuhan.

Maka, bagaimanapun, persoalan ini tidak boleh terabaikan. Sehingga dengan demikian, dimensi tauhid dalam Islam tidak terlepas dari dimensi sosialnya. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban kemanusiaan

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply