Agama sebagai Penggerak Nilai Kemanusiaan yang Memanusiakan Manusia

Musibah yang datang silih berganti yang menimpa manusia di dunia ini, tentu mengundang keprihatinan serta simpati dari manusia lainnya dari belahan dunia. Berbagai upaya tentu saja dilakukan dalam rangka mengurangi beban penderitaan yang di alami. Manusia yang tidak terkena musibah, kemudian ada yang datang berbondong-bondong untuk melakukan pertolongan.

Bantuan yang dicurahkan pun seringkali tidak terhitung. Baik dari tenaga, pikiran maupun harta. Bahkan nyawa terkadang meski rela dipertaruhkan pada saat perjuangan memberi pertolongan berlangsung. Namun, pemandangan indah mengenai betapa gigih para pekerja kemanusiaan dapat disaksikan di tengah puing-puing yang tersisa.

Kepekaan hati yang terjalin antara manusia satu dengan manusia lainnya, menghasilkan tindakan mulia yang enak di dengar, di lihat bahkan dirasakan. Saling bahu-membahu memberi bantuan, pertolongan kepada orang yang sedang dilanda kesusahan adalah tradisi yang seyogianya mendapat dukungan serta apresiasi guna terus dilestarikan hingga akhir zaman.

Tentu saja, sikap mengerti akan betapa sedih dan berdukanya orang lain pada saat tertimpa musibah merupakan manifestasi dari kepekaan hati yang hakiki.

Manusia, sebagai makhluk yang diciptakan dengan sempurna oleh Sang Khaliq merupakan modal utama untuk menebarkan kesempurnaan tersebut kepada seluruh alam dan isinya. Artinya, tendensi agar menyemarakkan kebaikan melalui kesempurnaan yang disandangnya adalah hal yang sangat dianjurkan.

Sejalan dengan perintah Yang Maha Kuasa melalui keberadaan agama, berikut ini ada beberapa poin mendasar yang dijadikan pondasi dalam andil menangani pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan:

“Para Penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit”.  (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud)

Perintah untuk menyayangi penduduk bumi secara kesuluruhan, ternyata berdampak mampu mendatangkan kasih sayang Allah kepada yang punya sifat penyayang. Dari sini muncul tekad kuat untuk memproklamasikan diri masuk dalam golongan manusia yang bertabiat penyayang tadi. Sikap iba yang diapresiasikan kepada korban bencana atau orang yang sedang dilanda kesusahan, merupakan manifestasi sejuk dari tulusnya sifat penyayang yang dimiliki.

Memandang saudara korban bencana dengan kasih sayang, berkomunikasi korban bencana dengan kasih sayang, mendengarkan keluh kesah mereka para korban bencan dengan kasih sayang adalah saksi abadi kemuliaan jiwa yang terpatri dalam dada sanubari manusia pilihan yang mau berusaha mengabdikan diri dan hidupnya untuk membantu manusia lain hanya mengharap kasih sayang Allah.

“Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Menolong saudara yang tengah dilanda kesusahan adalah anjuran yang patut dijunjung tinggi. Karena dengan demikian, Allah dengan serta merta akan balik menolong orang yang memberi pertolongan tersebut. Logikanya, siapa yang sanggup menghalang-halangi, jika Allah telah berkehendak untuk menolong seorang hamba yang hobinya memberi pertolongan kepada sesama?

Kebiasaan untuk senantiasa ringan tangan memberikan pertolongan kepada orang yang tengah kesusahan melahirkan ketenteraman jiwa, sebab dirinya yakin kepada pertolongan Allah yang akan selalu berpihak padanya. Pertolongan Allah kadang datang tidak disangka-sangka. Allah pun Maha Mengetahui tentang niat dan tujuan hamba-Nya yang memiliki ketulusan memberi pertolongan.

“Barangsiapa mengurus kebutuhan saudaranya niscata Allah akan mengurus kebutuhan dirinya”. (Hadits Shahih Bukhari)

Motivasi terbaik adalah manakala datang dan disandarkan kepada Yang Maha Kuasa. Seperti yang disampaikan pada hadits di atas, bahwa Allah sendiri yang bakal mengurus kebutuhan seorang hamba yang selalu peduli untuk mengurus kebutuhan saudaranya.

Kebutuhan saudara, apalagi manakala sedang dirundung kesusahan, sungguh sangat diharapkan kedatangannya. Bisa dibayangkan, pada saat bencana itu datang, terkadang seluruh harta dan tanam-tanaman yang ada di sekelilingnya pun musnah tiada tersisa.

“Dan kerjakanlah amal kebaikan agar kalian beruntung!” (QS. Al-Hajj [22]: 77).

Allah Subhanahu Wata’ala sendiri menjamin keberuntungan bagi orang yang mengerjakan amal kebaikan. Menolong saudara yang kesusahan adalah amal kebaikan diantara sekian banyak amal kebaikan lainnya. Di saat seseorang sangat menyukai untuk menolong siapa pun yang sedang tertimpa musibah atau kesulitan, maka yang akan ia dapatkan tiada lain adalah keberuntungan.

Seseorang yang telah ditetapkan oleh Allah untuk beruntung, maka sungguh teramat sangat beruntung dari orang yang punya predikat beruntung. Amal kebaikan yang membawa keuntungan adalah janji Sang Pencipta kepada hambanya sebagai imbalan tiada terkira. Mantapnya hati dengan harapan keuntungan dari Allah semata, semakin menambah nutrisi bagus untuk selalu giat mengerjakan amal kebajikan di mana pun dan kepada siapa pun.

“Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata”. (HR Abu Daud dan Nasa’i)

Beberapa poin yang disampaikan, ditutup dengan hadits di atas, ternyata mempunyai efek yang luar biasa terhadap kondisi hati seorang hamba ketika melaksanakan amal kebaikan. Keikhlasan yang terpancang di dalam dada, semata-mata mengharap ridhanya Allah, cintanya Allah, sayangnya Allah merupakan simbol dari kepatuhan tingkat tinggi.

Jika sudah demikian, segala perihal yang berkenaan dengan keuntungan dunia semata, sangat dijauhkan dari bisikan hati yang memiliki kualitas ikhlas berkapasitas super.

Mengapa perlu disampaikan poin-poin di atas tadi? Karena mempunyai maksud dan tujuan guna lebih memantapkan serta mencerahkan wajah penerima informasi yakni para penggiat pekerjaan kemanusiaan. Terlebih lagi, ini sebagai bukti bahwa agama ternyata sanggup menjadi muara dari munculnya kebaikan-kebaikan yang bermanfaat untuk manusia lainnya.

Dari ungkapan di ini, dapat diketahui tentang tujuan akhir dari berbuat baik, menyayangi manusia lainnya adalah semata-mata untuk kepentingan kehidupan yang akan datang. Kehidupan nan abadi yakni akhirat. Menolong bukanlah mengandung maksud untuk menumpuk imbalan yang bisa didapat di dunia fana ini. Terlebih lagi dalam agama diperintahkan tentang adanya unsur “ikhlas”.

Perbuatan apa pun, jika tidak dilandasi dengan ikhlas, maka akan sia-sia belaka. Keikhlasan akan nampak jika rintangan datang menerpa dalam melaksanakan pekerjaaan kemanusiaan, namun hatinya selalu tidak mengeluh, apalagi mengumbar keluhan tersebut kepada orang lain. Tentu saja hal ini tidak mungkin akan dilakukan.

Dengan bermodalkan tekad yang kuat dalam hati, keyakinan beragama yang menghujam dalam sanubari, maka sanggup menghasilkan tenaga yang luar biasa. Lelah yang dialami terasa sebagai nikmat perjuangan yang tidak boleh dikeluhkesahkan. Karena, hal tersebut dikhawatirkan akan menodai keikhlasan yang senantiasa mesti dijaga kelanggengannya. Pekerjaan yang berat untuk menolong sesama, selalu dirasakan ringan-ringan saja. Sudah terbayang keindahan kepada imbalan yang bakal diperoleh langsung dari Yang Maha Pemurah, baik di dunia ini, terlebih di akhirat kelak.

Semakin yakin dengan kebenaran ajaran agama, maka seseorang akan semakin kelihatan buah dari keyakinan tersebut, dituangkan dalam perilaku yang selalu memberi manfaat bagi sekeliling, masyarakat, sampai tak terbatas waktu dan tempat. Semua yang dilakukan dalam rangka untuk menolong siapa pun dalam pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan, apabila berangkat dan dilandasi dengan ajaran agama, maka akan terpancar sinar keindahan, keikhlasan, kebersamaan yang akan mendatangkan efek kebahagiaan bagi yang ditolong maupun yang menolong.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply