Akankah Kids Zaman Now Bertemu Imam Mahdi?

Kekonyolan drama yang terjadi di semua lini yang terus-menerus terjadi di negeri ini telah berhasil membuat saya memutuskan untuk menyingkir dari kemelut keramaian itu, beralih ke kegiatan-kegiatan yang sifatnya amat sederhana, belajar dan beribadah tok. Kembali ke fitrah yang haus akan nilai-nilai spiritual.

Hingga pada akhirnya saya menemukan sebuah topik yang maha dahsyat dari sub judul buku Bridge to Eternity karangan Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani, seorang sufi sekaligus mursyid dari tarekat Naqsabandiyah-Muhammadiyah Afrika Selatan yang namanya sudah terkenal di kalangan pemerhati tasawuf; yakni terkait turunnya Imam Mahdi dan Nabi Isa yang konon kedatangannya semakin dekat saja. 

Saking mepetnya, sampai-sampai saya berpikir, apakah mereka akan bertemu dengan kids zaman now yang keadaannya sedang sibuk berlomba-lomba memperoleh banyak like dan love atau memperebutkan perhatian orang banyak sebagaimana yang digambarkan dengan piawai dalam webtoon Lookism.

Terlepas dari respons dan reaksi mereka, tetapi beginilah yang diceritakan oleh Syaikh Al-Haqqani yang mungkin dapat dijadikan ancang-ancang oleh kids zaman now.

Adalah bumi telah mendekati titik penghabisannya yang oleh karena itu beberapa rentetan kejadian penting, sebagaimana diceritakan pula dalam hadis, akan terealisasi, khususnya mengenai peristiwa akbar perang Armagedon di mana terdapat dua buah kubu besar yang saling berperang, yakni antara kubu Barat melawan Timur[1] di mana peperangan terbesar terjadi antara umat beriman (Nabi Isa bersama pengikutnya) versus kaum kafir (dipimpin oleh Anti-Christ/Dajjal).

Uniknya, Syaikh Al-Haqqani menceritakan bahwa saat ini Imam Mahdi sudah ada di muka bumi yang lahir pada kisaran tahun 1930-1940. Bahkan, meski masih berupa pertemuan privat, sudah ada pembaiatan terhadapnya di Bukit Arafah, Hijaz, Mekkah, pada tahun 1960-an yang dilakukan oleh 12.000 auliya (orang suci), yang salah dua di antara mereka ialah Al-Haqqani dan Grand Syaikh-nya sendiri.

Pembaiatan kedua, dilakukan di dimensi lain (alam “mimpi”) yang diperuntukkan bagi orang-orang yang secara fisik tak mampu bertemu dengan Al-Mahdi.

Tetapi, menurut Al-Haqqani menjelaskan bahwa Al-Mahdi tidak akan menampakkan dirinya kepada khalayak sampai pada waktu Allah memerintahkannya, yakni saat terjadi Armagedon yang juga bertepatan pada tahun haji akbar di mana orang-orang berbondong-bondong membaiatnya. Dari sini kita dapat menafsirkan bahwa Al-Mahdi bukanlah sesosok manusia biasa karena dianugerahi karamah-karamah supranatural. 

Kemudian Al-Mahdi bergegas ke Damaskus, karena di sanalah tempat, selain Mekkah dan Madinah, yang aman dari serangan Dajjal dan ia bertakbir tiga kali yang mengakibatkan segala bentuk teknologi menjadi punah/berakhir. Setelah 40 hari berlindung dan menunggu, Nabi Isa turun menemuinya dari surga ke Masjid Ummayyah bertepatan pada waktu shalat subuh.

Pada masa itu ia akan merusak salib, mengklarifikasi kebenaran hakikat dirinya (yang murni hanya manusia biasa) dan ibunya (yang sungguh-sungguh perawan). Haqqani juga menceritakan bahwa Nabi Isa akan datang dengan mengenakan sorban hijau dan ada pedang di sisinya di mana kehadirannya bakal disertai oleh dua malaikat pelindung bersayap.

Setelah berhasil melenyapkan Dajjal, Nabi Isa akan mendirikan kerajaan Surgawi selama 40 tahun dengan suasana layaknya surga, dan masih, tanpa teknologi tetapi setiap orang akan dianugerahi kekuatan supranatural.

Adapun Al-Mahdi bertugas menyemai iman pada hati orang-orang di sana dan, masih menurut Al-Haqqani, mereka akan menjadi seorang hamba Allah yang sempurna (mengisi hidup dengan shalat dan dzikir, berenang di lautan cinta ilahi) hingga pada akhirnya semua orang yang beriman itu akan diwafatkan, termasuk Nabi Isa dan Al-Mahdi, oleh bau wewangian dari surga sehingga hanya akan menyisakan orang-orang kafir (yang katanya perlahan-lahan tumbuh kembali di era kerajaan Nabi Isa) dan pada saat itulah kiamat menghampiri.

Pada halaman 56 buku tersebut, Al-Haqqani mengungkapkan, “When Jesus a.s. comes he will put everything in its place, and no one will be able to object…The 21st century will be the century of truth.” Bombastis bukan? Percaya atau tidak, kita sama-sama menunggunya. Allahu alam.[] 

[1] Saya tidak memahami maksud Al-Haqqani mengenai terminologi Barat-Timur. Apakah itu bermakna pemisahan berdasarkan wilayah yang mungkin berarti peperangan antara Amerika dkk melawan pihak Rusia dan atau Korea Utara? Ataukah hanya merupakan pemisahan yang berdasarkan perbedaan keyakinan (mukmin versus kafir).

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply