AL QUR’AN SEBAGAI TOLAK UKUR KEMAJUAN PERADABAN

Peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan dinasti yang sangat berkuasa pada masanya. Dinasti tersebut bernama  Dinasti Abbasiyah. Pada masa dinasti ini, terutama pada masa  pemerintahan Khalifah Harun Ar- Rasyid Islam mengalami kemajuan di segala aspek seperti pemerintahan, kemanan, kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan  dan lain sebagainya.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah  terjadi perkembangan yang sangat pesat dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti ilmu Al Qur’an, qira’at, fiqh, ilmu kalam, dan sastra. Disamping ilmu agama, ilmu lain yang juga berkembang pada masa ini adalah ilmu filsafat, logika, metafsisika, ilmu alam, geografi, aljabar, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran, dan kimia.

Perkembangan ilmu pengetahuan ini fasilitasi  oleh pemerintah dengan mendirikansebuah perpustakaan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan intelektual para cendekiawan. Perpustakaan tersebut diberi nama Baitul Hikmah, tempat ini dijadikan sebagai tempat untuk membaca buku, menulis dan berdiskusi.

Kemajuan intelektual tersebut ditandai dengan lahirnya ilmuan-ilmuan muslim yang sangat terkenal dan bahkan banyak dari karya-karya mereka yang  masih bisa dinikmati hingga sekarang. Pada bidang fiqh, terdapat para ahli fiqh terkenal  dan pendiri empat madzhab yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Bin Hambal.

Dibidang ilmu hadis terdapat tokoh yang tersohor seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, Imam An Nasai dan Imam Baihaqi.

Dalam bidang tafsir terdapat tokoh seperti Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Athiyah Al Andalusi dan Abu Muslim Muhammad Bin Bahar Isfahani. Tidak hanya melahirkan ilmuan-ilmuan di bidang agama, pada masa ini juga lahir ilmuan-ilmuan dibidang umum seperti filsafat, kedokteran , astronomi ,geografi, sejarah dan sastra.

Pada masa Dinasti Abbasiyah juga terjadi penerjemahan filsafat Yunani secara besar-besaran yang menjadikan kajian filsafat mengalami kemajuan yang sangat pesat. Diantara filusuf Islam yang terkenal yaitu Abu Ishaq Al Kindi , dan Abu Nasr Al Farabi yang diberi gelar sebagai guru kedua filsafat setelah Aristoteles.

Selain al farabi, filusuf yang lahir pada masa Abbasiyah adalah Ibnu Sina yang di Barat terkenal dengan Avicenna. Selain  terkenal sebagai fulusuf, ia juga merupakan seorang dokter yang terkenal. Diantara bukunya yang terkenal adalah As- syifa, dan Al Qanun fi Ath-Thib ( Conon of Medicine ).

Sebagai sebuah pemerintahan Islam, kemajuan yang diperoleh tentunya  tidak terlepas dari motivasi agama. Kemajuan dan kehebatan ini sangat berhubungan erat dengan keberhasilan umat Islam dalam memahami, menyerap, mentransfer, serta melaksanakan ajaran agama  secara konsisten, dinamis, dan kreatif. Umat Islam pada masa ini berhasil menjadikan Al Qur’an sebagai kitab yang tidak hanya dibaca, tetapi juga di tadabburi atau di hayati dan di  implementasikan dalam kehidupan.

Dari sejarah kejayaan  peradaban umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah tersebut,  dapat di amati bahwa kemajuan suatu peradaban berbanding lurus dengan kemampuan umat Islam dalam  mengimplementasikan agama sebagai motivasi dalam pencarian ilmu.

Hal ini sesuai dengan spirit ayat Al Qur’an yang pertama kali turun yaitu surah Al- Alaq ayat 1-5 yang memerintahkan manusia untuk membaca. Perintah membaca dalam ayat ini merupakan isyarat mengenai pentingnya untuk mencari  ilmu pengetahuan.

Memasuki era kontemporer umat Islam dihadapkan dengan keadaan yang menyedihkan. Umat islam mengalami kemunduran diberbagai bidang seperti intelektual dan teknologi.  Sementara itu, di belahan bumi Barat sedang mengalami kemajuan yang pesat, terutama  dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.

Banyak penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan baru yang di temukan oleh ilmuan Barat. Bahkan, banyak peristiwa di dalam Al Qur’an yang justru di teliti oleh ilmuan Barat yang akhirnya mengantarkan kepada bukti kebenaran dan kemukjizatan Al Qur’an.

Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuan Barat, terbukti bahwa kandungan Al Qur’an relevan dengan ilmu sains . Banyak hal yang sudah dijelaskan dalam Al Qur’an, kemudian dapat dibuktikan kebenarannya melalui penelitian ilmiah seperti proses pembentukan hujan, proses perkembangan janin di dalam rahim, serta fenomena adanya sungai di dalam laut dan lain sebagainya.

Berbagai penelitian dan penemuan  yang dilakukan oleh ilmuan Barat mengantarkan mereka kepada peradaban yang maju. Barat saat ini menjadi kiblat  dalam berbagai hal terutama dalam hal pendidikan. Tidak heran jika banyak pelajar yang menjadikan  Barat sebagai tujuan untuk melanjutkan studi nya.

Dari pemaparan mengenai perubahan drastis  yang terjadi di dunia Islam  tersebut bisa disimpulkan bahwa keadaan yang bertolak belakang ini terjadi karena umat Islam telah “Menjauhi Al-Qur’an”. Maksud menjauh disini bukan menjauh secara lahiriah, namun menjauh secara batiniah.

Umat Islam sudah tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai bacaan yang dibaca setiap sehabis shalat tanpa mengetahui substansi atau spirit yang terkandung di dalamnya.

“ Aku melihat kaum muslim di Timur tanpa kehadiran Islam. Aku melihat Islam di Barat tanpa kehadiran kaum muslim.” (Muhammad Abduh). Ungkapan tersebut merupakan refleksi atas gambaran keadaan umat Islam yang semakin jauh  dari nilai Islam itu sendiri, sedangkan kaum yang notabene bukan umat Islam justru mampu

mengamalkan nilai-nilai  yang terkandung di dalam Islam. Hal ini membuktikan bahwa keislaman tidak cukup hanya dijadikan ideologi yang di praktekkan dengan ritual rutinitas  saja, tetapi juga harus mengambil pelajaran dari apa yang terkandung di dalamnya, serta menjadikannya sebagai jalan dan landasan dalam kehidupan.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam Al Qur’an harus bisa di maknai sebagai suatu yang benar-benar harus di amalkan dengan penuh keyakinan bahwa  pengamalan ini pasti akan membawa kepada kebenaran dan keselamatan .Dengan mengamalkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an, diharapkan  umat Islam akan kembali menemukan jati dirinya sebagai khalifah atau pemimpin di bumi ini, dan akhirnya bisa membentuk sebuah peradaban yang kembali berjaya seperti yang pernah terjadi sebelumnya  di sejarah  dunia Islam.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply