ALHIKMAH DARIPADA FILEM KUNGFU PANDA

Dalam film Kungfu Panda, tidak disangka-sangka Po the Panda dilantik sebagai the Dragon Warrior oleh Grand Master Oogway. Po tidak mempunyai kemampuan ilmu kung fu sama sekali. Bagi pihak lain, pelantikan ini sebuah kesalahan. Namun, bagi sang Grand Master, penunjukkan ini kehendak langit dan akan ada rahsia tersendiri di kemudian hari.

Po dilantik untuk melawan Tai Lung sang macan yang sangat hebat ilmu kungfunya.Setelah menjalani berbagai latihan berat, Po hanya dibekali dengan the Dragon Scroll. Semua orang sudah membayangkan akan ada mantera ajaib di dalamnya. Bagaimanapun,setelah gulungan kertas itu dibuka, isinya ternyata kosong, tak ada apa-apa. Adakah sang Grand Master memperolok-olok dengan hanya meletakkan Scroll yang jadi rebutan dunia per-kungfu-an itu? Apa yang boleh dilakukan Po dengan kertas kosong itu?

Iya kosong. hanya kertas putih.Bagaimana? Belum faham juga?

Rahsia terbesar dari kemampuan diri adalah mengosongkan segalanya.Kembali ke titik nol. Ulama menyebutnya kembali kepada fitrah bagai kertas putih atau bayi yang baru lahir.  Sejauh mana perjalanan kita tempuh, pada hakikatnya kita tidak pernah beranjak pergi. Yang dicari bukan diluar sana, tetapi ada di dalam diri.

Kita tidak akan meraih kebahagiaan dan ketenangan kalau mencarinya di luar diri kita sendiri–tak kisah berapa banyak zikir yang kita baca atau berapa kali ulang alik ke tanah suci. Selama kita belum berhasil meleburkan diri kita hingga ke titik nol, kita belum memahami rahsia ini: when you disappear, God will appear. Kerana jiwa kita kosong, maka kita akan dipenuhi-Nya.

Grand Master Oogway berkata dengan bijaksana: “kadangkala orang justeru menemukan takdirnya pada jalan yang dia ingin hindari.”  Master Shifu yang menghabiskan semua umurnya di tokong dan merasa itulah jalan takdirnya masih juga belum faham.Bagaimana orang yang biasa-biasa seperti Po  menjadi Pendekar Naga yang ditunggu-tunggu kehadirannya?

Ini serupa dengan ungkapan orang kafir Mekkah yang bertanya-tanya: Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” (QS al-Furqan ayat 7). Dengan kata lain, kenapa seorang Muhammad yang menjadi rasul terakhir? Dia seorang yatim-piatu, tidak bolehmembaca dan menulis, dan hanya orang biasa yang makan dan berjalan di pasar? Tidak layak, sungguh tidak layak, begitu fikiran para pembesar jahiliyah ketika itu.Tentu maksud mereka, yang layak itu adalah mereka sendiri.

Takdir sudah memilihkan jalan dengan cara-Nya yang luar biasa. Grand Master Oogway sesaat sebelum menuju alam baqa berpesan pendek kepada Master Shifu: “awak hanya harus percaya pada ini semua!” Ya, pada titik ini, kita hanya harus percaya.

Jikalau kekosongan itu di-isi dengan keimanan, maka kita akan mampu melakukan sesuatu yang tidak mungkin; membalik kelemahan menjadi sebuah kekuatan; melipatgandakan potensi diri menuju hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Masalahnya: bagi orang yang telah mencapai banyak hal dan percaya pada amalan diri, mereka tidak rela kembali lagi ke titik nol –mengosongkan segala yang ada, yang sudah diraih dengan susah payah. Maka tragedi kemanusiaan pun bermula seperti dilukiskan dalam surat di bawah ini:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
sampai kamu kelak masuk ke dalam kubur
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui
dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu raih pada hari ini).” (QS. At Takatsur: 1-8).

Sumber: nadirhosen.net

Tags:

No Comments

    Leave a reply