Anak Zaman Now Dijodohin?

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga menjadi salah satu bentuk dari kesempurnaan ciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satu diantaranya adalah cinta dua orang insan yang saling mencintai karena-Nya.

Cinta juga dianggap sebagai bentuk dari rasa kasih sayang, bukan tanpa alasan Allah menumbuhkan rasa tersebut, melainkan untuk ketentraman ciptaan-Nya. Disamping itu, rasa cinta dan kasih sayang adalah tanda-tanda kebesaran-Nya, seperti yang disebutkan dalam Surah Ar-Ruum ayat 21, yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”

Perjodohan adalah salah satu cara yang masih dilakukan oleh sebagian orangtua untuk membuat anak-anaknya bahagia. Sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman sekarang masih saja ada cerita tentang para orangtua yang menjodohkan anaknya, dengan pasangan yang menurut mereka adalah yang terbaik.

Namun, tidak sedikit juga anak yang menolak untuk dijodohkan. Mereka beranggapan bahwa merekalah yang akan menjalani kehidupan setelah menikah nanti, bukan orangtua mereka. Walaupun sebenarnya niat orang tua adalah untuk kebaikan mereka juga.

Anak-anak zaman sekarang, sebagin diantaranya lebih memilih untuk mencari pasangan hidup mereka sendiri, dengan pasangan yang mereka inginkan. Perjodohan, bagi mereka adalah tradisi kuno yang hanya dilakukan oleh orang-orang dulu, termasuk para orangtua mereka yang ingin menjodohkan mereka.

Generasi zaman now menganggap perjodohan merupakan sebuah tembok penghalang untuk hidup mereka, padahal jika dimaknai lebih jauh dan dalam, jodoh yang dipilih orangtua cenderung sudah pasti memiliki bibit, bebet, dan bobotnya. Dan orangtua sudah memikirkan bagaimana hidup anak kedepannya nanti.

Akan tetapi masalah perjodohan ini, terutama dalam pandangam islam merupakan salah satu cara untuk menghindarkan diri dari perbuatan maksiat atau zina. Islam tidak melarang untuk orangtua menjodohkan anaknya dengan seseorang yang mereka pilih, asal dengan persetujuan anak tersebut.

Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakat dalam menikah. Tak ada ketentuan dalam syariat islam yang mengharuskan atau melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang muslim mencari pasangan yang shalih dan baik agamanya.

Dipandang dari segi hukum Islam, memang diperbolehkan bagi setiap orangtua menikahkan putrinya yang masih berstatus gadis dengan laki-laki pilihannya. Nabi SAW bersabda: “seorang janda, ia lebih menentukan dirinya daripada walinya. Sedangkan seorang gadis, yang mengawinkannya adalah ayahnya.”

Meskipun orangtua dapat menikahkan anaknya dengan piliannya, bukan berarti tanpa syarat begitu saja. Terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pernikahan itu sah hukumnya. Jika tidak memenuhi syarat, pernikahan menjadi batal dan tidak sah.

Dalam pernikahan ada syarat-syarat yang wajib di penuhi. Salah satunya, kerelaan calon istri. Wajib bagi orangtua untuk menanyai terlebih dahulu kepada anaknya, dan mengetahui kerelaannya sebelum akad nikah. Islam melarang menikahkan dengan paksa seorang wanita dengan orang yang tidak disenanginya.

Larangan memaksa ini bukan berarti para wali tidak memiliki andil dalam memilih calon suami atau istri bagi pihak yang mereka walikan. Justru dalam hal ini syarat-syarat yang baik juga wajib diberikan oleh wali dan kemudian menanyakan persetujuan bagi pihak yang bersngkutan.

Dalam mendapatkan izin dari yang bersangkutan atas persetujuaanya adalah ditunjukkan dengan, apabilah ia seorang janda maka ia mengucapkannya, dan apabila ia seorang perawan adalah diamnya. Sebagaimana dijelaskan dalilnya di dalam hadits berikut.

Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seorang gadis yang akan dinikahkan oleh keluarganya, apakah perlu dimintai pertimbangannya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Ya, dimintai pertimbangannya.”

Lalu ‘Aisyah berkata, maka aku katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia malu wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Demikianlah pengizinannya, jika ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pernikahan yang dibangun atas dasar keterpaksaan adalah haram, dan jika terus berlanjut, hanya akan mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga anaknya kelak. Padahal yang diharapkan dalam pernikahan adalah kebahagian, malah yang datang kesedihan. Bahkan pada akhirnya akan berujung kepada percerain.

Bagi setiap wanita, memang seharusnya menyerahkan urusan jodohnya kepada orangtuanya. Sebab, orangtua lebih lama hidup di dunia. Mereka lebih tahu mana yang terbaik  untuk putrinya dan mereka lebih berpengalaman dalam mengarungi pahit-getirnya kehidupan.

Untuk para orangtua, apa salahnya mendengarkan keinginan anak-anaknya, apalagi dalam masalah pernikahan, karena mereka sendirilah yang akan menjalaninya. Jangan sampai suatu waktu mereka menyimpan rasa dendam kepada orangtua, karena dipaksa menikah dengan pasangan yang tidak disukainya.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply