Angka: Ciptaan Manusia yang Ternyata Tidak Manusiawi

 

Sewaktu masih sekolah tingkat dasar dulu, salah satu pelajaran favorit saya adalah Matematika. Mata pelajaran hitung-menghitung yang berkutat dengan segala macam angka. Alasan saya cukup sederhana, karena di pelajaran ini saya tidak perlu mengerutkan dahi terlalu kencang untuk menghafal materi. Matematika itu cukup dipahami, dan tidak perlu harus dihafalkan.

Tapi sebaliknya, anak saya, ketiga-tiganya ternyata tidak menyukai pelajaran ini. Entah kenapa mereka menjadi tidak suka terhadap pelajaran ini. Karena mereka sudah tidak suka, maka walhasil pelajaran Matematika menjadi momok bagi mereka.

Maka di satu sisi, ayahnya, menikmati betul permainan angka di pelajaran ini. Namun di sisi yang lain, anak-anak saya malah merasa seakan diteror ketika berhadapan dengan angka-angka dalam pelajaran ini. Susahnya minta ampun untuk menjelaskan materi sederhana saja, seperti perkalian maupun pembagian saja. Dan tiba-tiba tekanan darah saya meninggi, manakala mengajari anak-anak saya untuk belajar Matematika. Atau mungkin materinya yang terlalu rumit untuk anak seusianya, entahlah.

Matematika adalah satu objek yang sama, namun ternyata harus dihadapi dalam perspektif yang berbeda. Meski dalam garis genetika yang sejajar sekalipun.

Matematika memang tidak melulu mempelajari tentang angka, ia lebih kepada sistematika berpikir dan mengolah logika. Namun porsi angka ada dalam sebagian besar pelajaran ini.

Angka senyatanya telah mengambil peran yang signifikan dalam kehidupan dunia modern ini. Semua hal masih diragukan kebenarannya jika belum menampilkan angka. Kadang saya merasa takut jika angka kelak berubah menjadi berhala yang dipuja dan pasti benar. Angka yang sejatinya adalah simbol kuantitatif, kini mulai mengambil alih peran kualitatif dalam percaturan kehidupan bermasyarakat.

Sudah mulai bingung? Jangan dulu, karena di tulisan ini saya belum menuliskan satu pun angka lho!

Saya tidak dapat membayangkan jika hidup ini tak ada angka. Semua butuh angka. Kaya dan miskin ditentukan oleh angka. Pintar dan bodoh digambarkan dengan angka. Kurus dan gemuk dituliskan dengan angka. Sampai-sampai keputihan kulit seseorang pun digambarkan dengan gradasi melalui angka, tak cukup hanya dengan hitam putih saja.

Sudah sejak lama angka menjadi salah satu simbol penting dalam kehidupan. Terlepas dari peran sentralnya, nyatanya angka bisa berubah menjadi sosok yang menebarkan teror. Angka bisa sangat sensitif bagi beberapa pihak, hingga dapat menciptakan ketakutan-ketakutan tersendiri.

Pada dasarnya angka bermain dalam wilayah ilmu pasti. 1+1 hasilnya pasti 2. Kemudian oleh beberapa pihak diperumit dengan modifikasi angka, walau hasilnya tetep sama, maka menjadi 1+1 hasilnya adalah 4-2 atau 1,5 + 0,5. Dan rumitan-rumitan yang lain.

Pengolahan-pengolahan angka telah memasuki wilayah-wilayah yang jauh dari kekuasaannya semula. Angka telah dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga menciptakan ruang-ruang teror bagi pihak-pihak yang merasa tertekan oleh angka-angka rekaan tadi.

Misalnya saja, kasus meteran listrik dengan lonjakan pembayaran yang mengagetkan, apalagi di masa krisis korona ini. Angka-angka yang tercetak dalam struk pembayaran membengkak berkali-kali lipat dari biasanya. Tarik ulur masalah angka antara produsen dan konsumen. Angka-angka yang menurut beberapa pelanggan tidak masuk akal yang ternyata membuat gerah pihak produsen juga. Perdebatan terus saja terjadi, masing-masing memegang data angkanya sendiri-sendiri.

Teror angka juga dirasakan oleh anak perempuan saya yang menginjak usia remaja. Angka-angka di timbangan membuatnya merasa takut untuk menginjaknya, padahal hanya sekadar ingin tahu berapa berat badan ia saat ini. Namun nyatanya gambaran angka-angka di papan-papan timbangan dapat menciptakan teror tersendiri.

Contoh yang lain, kita dapat melihat paparan jumlah pasien Covid-19 yang ditayangkan setiap harinya. Angka-angka yang terus beranjak naik setiap saat. Data terinfeksi bertambah, data meninggal juga bertambah, data yang sembuh pun juga demikian.

Di sini saya merasa terteror juga, bagaimana angka-angka yang ditampilkan tidak pernah berkurang. Padahal yang sembuh atau yang meninggal terus saja bertambah. Apakah tidak ada mekanisme pengurangan data yang sedang tertular dengan data pasien yang sembuh maupun yang meninggal.

Teror angka ini mungkin tidak terlalu menekan, jika angka-angka terinfeksi secara realtime dikurangi dengan pasien yang sudah sembuh maupun yang meninggal. Manakala angka-angka yang ditampilkan hanya yang berisi angka penderita secara riil, niscaya jumlah penderita bisa bertambah bisa juga berkurang. Sehingga angka yang disuguhkan tidak terus saja menaik dan meroket.

Melihat angka yang terus menanjak pada sebaran penderita Covid-19, sadar atau tidak sadar akan menciptakan terornya sendiri. Ya, di satu sisi hal ini akan berakibat pada meningkatnya kewaspadaan masyarakat secara umum. Tetapi jangan lupa, hal ini juga akan mengakibatkan teror yang membayangi benak-benak para awam seperti kebanyakan masyarakat kita.

“Ini kenapa angka kasus positifnya tidak pernah turun?” seloroh salah satu teman saya. “Ya pasti tidak pernah turun, wong tidak pernah dikurangi kok!” begitu penjelasan singkat saya.

Maka langkah bijak adalah apabila data yang ditampilkan juga menyebutkan angka penderita secara riil dengan dikurangi oleh pasien yang sembuh maupun yang meninggal. Agar bayangan seram Covid-19 tidak seseram yang selama ini kita bayangkan.

Menjadi lebih waspada tetaplah utama, namun dengan menampilkan angka yang lebih manusiawi, maka pengurangan beban pikiran terhadap teror angka niscaya akan mengakibatkan imun tubuh meningkat juga. Sebab dengan meningkatnya imun tubuh akan meningkatkan pula daya tahan tubuh terhadap serangan virus ini. Katanya sih!

Sofyan AzizSumber: https://www.qureta.com/next/post/angka-ciptaan-manusia-yang-ternyata-tidak-manusiawi

No Comments

    Leave a reply