Antara Ulama dan Penceramah

Persebaran informasi saat ini menjadi semakin cepat dengan bantuan teknologi. Lewat internet, media sosial, informasi sangat mudah diakses hampir oleh setiap lapisan masyarakat, di pelosok desa maupun di kota. Hal ini tentu saja memiliki dampak positif bagi penggunanya, baik sebagai sarana silaturahim maupun sebagai media untuk saling membantu dalam hal kebaikan (ta’awanu ‘ala al birri).

Pada sisi lain, kemajuan teknologi ini tak jarang mendatangkan dampak negatif, seperti cepatnya penyebaran fitnah, seruan kebencian (hate speech), radikalisme, pornografi dan hal lain yang berkaitan dengan kerusakan moral dan integrasi bangsa.

Dewasa ini media sosial rupanya menjadi alternatif bagi kelompok Islam kanan dalam menyebarkan pemahaman keagamaan mereka, semakin marak ceramah yang diunggah ke media sosial, ceramah tersebut diisi tanya-jawab persoalan keagamaan. Dan tak jarang jawaban yang diberikan menjadi kontroversi di tengah masyarakat awam. Maka menjadi wajar jika ceramah mereka mendapatkan penolakan di beberapa daerah tertentu. Seperti yg terjadi di Sidoarjo beberapa waktu yang lalu.

Kelompok ini—bagi penulis—lebih layak disebut sebagai muballigh (penceramah) yang hanya mampu menceritakan kisah masa lalu berdasakan teks keagamaan, berbeda dengan ulama yang memiliki kedalaman pengetahuan keagamaan sehingga mampu menjawab persoalan agama lebih bijaksana. Dalam tulisan ini sedikitnya menyinggung antara muballigh dan ulama.

Kurang “kesadaran”

Syekh Ali Jum’ah menjelaskan bahwa terdapat permasalahan metodologis yang dihadapi kelompok “tekstualis” di atas, yakni mereka tidak dapat membedakan (tepatnya: mencapuradukkan) antara pengajian dan ceramah agama, sehingga menimbulkan aksi “bertindak sebelum memiliki kesadaran” (Ali Jum’ah: 2012).

Pada awalnya, antara pengajian  dan ceramah agama dilakukan oleh satu tokoh; muballigh sekaligus ulama yang ahli fiqh, namun belakangan semakin jarang ditemui orang yang memiliki ilmu yang multi-disipliner khususnya dalam bidang agama (exUshul fiqh, qowaid fiqh, fiqh, ulum al qur’an, ulum al hadits, nahwu, sharaf, balaghah dan seterusnya).

Seorang yang memiliki ilmu pas-pasan, hanya menguasai ilmu hadis ditambah sedikit hafalan al-Quran serta terjemahannya (kadang-kadang mengisi ceramah di beberapa tempat), enggan disebut sebagai muballigh bahkan menganggap dirinya sebagai ulama yang juga memiliki otoritas untuk mengeluarkan “fatwa” keagamaan.

Keadaan seperti di atas menimbulkan ketidakjelasan di mata masyarakat awam, sehingga pendapat-pendapat sekelompok muballigh yang belum menguasai permasalahan agama secara utuh (termasuk di dalamnya fiqh perbandingan) menjadi perdebatan yang tak jarang menimbulkan konflik di dalam internal umat muslim itu sendiri.

Moderat; menghargai lokalitas

Selain persoalan metodologis, hal lain yang—bagi  penulis—menjadi penting untuk diperhatikan berkaitan dengan ulama dan muballigh di atas ialah bagaimana karakter ulama yang memiliki keluasan ilmu sehingga tercermin dalam keluwesan dan kelongaran dalam “mengekspresikan”  keberislamannya.

Dalam beberapa kasus, pakaian yang digunakan oleh kelompok Islam tertentu—tidak menutup kemungkinan termasuk kelompok muballigh di atas—memiliki standar khusus (tidak isbal, tidak syuhrah dsb). Sandaran utama yang mereka terapkan adalah sunnah Nabi. Mereka menganggap bahwa pakaian yang mereka kenakan juga memiliki level keimanan jika sama dengan apa yang dikenakan oleh Nabi.

Ketatnya standar pakaian yang mereka kenakan secara eksplisit merupakan bentuk bagaimana pola pikir mereka yang sangat tekstualis. Berbeda misalnya dengan kyai atau ulama nusantara yang memiliki paham keagamaan tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan tasammuh (toleran). Sebut saja wali songo, tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.

Dalam beberapa lukisan yang sering kita temui, tak jarang mereka digambarkan menggunakan pakaian khas daerah tertentu, seperti Sunan Kalijaga yang menggunakan belangkon sebagai penutup kepala, kemeja/baju surjan dan kain batik digunakan sebagai penutup bagian bawah.

Konon menurut Jadul Maula, pakaian Sunan Kalijaga memiliki makna filosofis tersendiri. Hal ini mengisyaratkan keunggulan wali songo dari segi keilmuan sehingga mampu “mendamaikan” ajaran agama dan tradisi lokal.

Keterbukaan wali songo dalam menggunakan pakaian umum yang digunakan oleh masyarakat lokal merupakan sebuah corak Islam yang mampu menyesuaikan diri dengan dengan waktu dan tempat (solih likulli az-zaman wa al-makan) dan tidak menganggap itu sebagai betuk syuhrah, sebagaimana asy-Syaukani dalam Nail al-Authar yang mengartikan syuhrah (pakaian kemasyhuran; mengundang perhatian) sebagai pakaian yang berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh masyarakat di daerah tertentu.

Selagi tidak bertentangan dengan kaidah umum syariat; laa yashifu wa laa yasyiffu wa laa yaksyifu (tidak menggambarkan bentuk tubuh, tidak tembus pandang dan tidak menyingkap).

Memilki jalur keilmuan (sanad)

Hal lain yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan singkat ini adalah umumnya ulama memiliki jalur keilmuan yang berkesinambungan antara guru-murid dalam hal transfer knowledge. Bahwa sangat mungkin suatu disiplin ilmu dapat dipelajari secara otodidak, namun kehadiran seorang guru jauh lebih terjamin dan terpercaya kebenarannya. Agar kemudian tidak menghasilkan pemahaman yang keliru ketika disampaikan ke tengah masyarakat.

Salah satu lembaga pendidikan yang sampai saat ini masih menggunakan mata-rantai keilmuan (tradisi sanad) adalah Pesantren di kalangan Nahdlatul Ulama.  Dengan istilah lain, transmisi keilmuan dianggap valid jika muttashil (bersambung tidak terputus dari guru ke murid). Pun ketika seorang hendak menyampaikan pemahaman keagamaan idealnya memiliki sanad yang muttashil agar tidak menghasilkan pemahaman yang keliru.

Sebagai contoh sanad kitab yang dikaji di seluruh pesantren adalah kitab Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Syuyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli. Penulis menggunakan sanad dari KH. Syaerozie (pengasuh Pondok Pesantren As Salafie, Babakan Ciwaringin) yang memiliki dua jalur sanad, pertama dari pondok pesantren Lasem, yakni dari Syekh Masduqi Lasem yang mempunyai guru bernama Syekh Umar bin Hamdan Al-Maky, Syekh Umar bin Hamdan adalah murid dari Abu Bakar Syatha.

Sedangkan Abu Bakar Syatha mempunyai guru bernama Ahmad Zaini Dahlan murid dari Utsman Hasan Al-Dimyathi. Ia adalah murid Abdullah Khajazi As-Syarqowi. Abdullah Khajazi mempunyai guru bernama Muhammad Salim Al-Khafani. Al-Khafani mempunyai guru bernama Muhammad bin Muhammad ad-Diry murid Syibromilisi yang belajar pada Ali Khalaby. Sedangkan Ali Khalabi adalah murid dari Ali az-Ziyaadi.

Al-Zayadi murid dari Yusuf Al-Aramiyyuni yang berguru pada Jalaluddin Al-Syuyuthi yang menyambungkan keilmuannya dari seorang mufassir bernama Jalaluddin Al-Mahalli.

Sedangkan matarantai keilmuan dari jalur Sarang sebagai berikut: KH. Syaerozie berguru pada Syaekh Zubaer bin Dahlan. Pengasuh pondok Sarang ini berguru pada Syekh Kaya’i Faqihul Imam al-‘Alim yang menjadi muridnya Umar Ibnu Hamdan al-Maky. dan keatasnya sama seperti jalur keilmuan Lasem.

Kiranya tulisan ringkas ini menjadi refleksi bagi kita bersama berkenaan dengan pilihan informasi yang bertebaran di media sosial. Karena bagaimanapun juga persoalan keagamaan adalah salah satu masalah yang mudah menyulut konflik jika tidak disikapi dengan bijaksana.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply