Apa Itu Islam?

Suatu kali salah seorang teman non-muslim mengajukan pertanyaan di atas kepada saya, di samping pertanyaan seputar jihad, terorisme, hukum mengucapkan selamat natal, mengucapkan salam kepada orang yang berbeda agama, dan pertanyaan-pertanyaan normatif lainnya yang sering diajukan oleh orang-orang awam di luar Islam.

Pertanyaan di atas tentu sangat sederhana. Tapi, untuk menjawab pertanyaan tersebut, orang Islam sendiri kadang keliru memberikan jawaban. Pada akhirnya, jawaban yang keliru seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Terlebih dewasa ini agama Islam sering ditampilkan sebagai agama yang haus darah, mengusung kekerasan, bahkan melegalkan pembunuhan yang tak berprikemanusiaan.

Kala itu, sebagai seorang Muslim saya pun dengan antusias memberikan jawaban yang lumayan panjang. Salah satu petikan jawaban yang saya kemukakan ialah: Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw bukanlah agama baru, melainkan episode lanjutan dari ajaran para nabi terdahulu.

Yang menjadi titik pembeda antara Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dengan Islam yang dibawa oleh para nabi sebelumnya hanya dalam tatanan syariat saja. Sementara bangunan teologis dan prinsip-prinsip universal ajarannya tidak jauh berbeda.

Di samping itu, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw lebih universal, sementara Islam yang dibawa oleh para nabi sebelumnya bersifat lokal dan temporal. Nabi sebelumnya hanya diutus untuk kaum tertentu, sementara nabi Muhammad diutus untuk semua kalangan.

Karena itu, Islam pada dasarnya bukan hanya agama satu nabi, melainkan agama seluruh nabi. Artinya, agama yang didakwahkan oleh nabi Musa, nabi Isa, nabi Muhammad, dan nabi-nabi lain, yang jumlahnya ratusan ribu itu, pada dasarnya adalah satu, yaitu Islam.

Yang dibawa Yesus (Isa) itu adalah Islam. Yang dibawa oleh Nabi Musa itu adalah Islam. Dan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw itu juga Islam.

Begitulah kira-kira jawaban yang saya kemukakan pada waktu. Tak disangka, jawaban tersebut ternyata membuat teman saya sedikit kaget. Mungkin selama ini dia mengira—sebagaimana orang non-muslim pada umumnya—bahwa Islam itu adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw semata. Kitab sucinya al-Quran, dan kiblatnya adalah ka’bah.

Padahal, pandangan ini tidak sepenuhnya benar, kalau enggan berkata salah. Definisi Islam yang benar itu, seperti kata Syekh Ahmad Thayyeb, ialah: “Agama yang dibawa oleh seluruh nabi, sejak nabi Adam hingga Nabi Muhammad Saw.”

Definisi ini lebih tepat dan menyeluruh ketimbang definisi yang kita kenal. Meminjam terminologi ilmu logika, ta’rif/definisi yang dikemukakan Grand Syekh al-Azhar di atas masuk kategori ta’rif yang “jâmi’an mâni’an”Jâmi’an artinya menghimpun seluruh unsur yang didefiniskan, dan mâni’an artinya mencegah masuknya seluruh unsur yang tidak terkait dengan definisi yang hendak dirumuskan.

Kalau kita mendefiniskan Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw semata, definisi itu jelas kurang tepat, karena Nabi Muhammad Saw hanyalah salah satu—sekaligus yang paling akhir—dari sekian banyak nabi yang membawa agama bernama Islam itu.

Bukan Agama Baru

Sebangun dengan pandangan Ahmad Thayyeb di atas, dalam bukunya yang berdujul al-Dînbuhûts mumahhidah li dirâsat târîkh al-Adyân, salah seorang sarjana terkemuka al-Azhar bernama Abdulllah Diraz menulis sebagai berikut:

“Jika kita ingin memaknai kata Islam dengan pemaknaan quranik, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada relevansinya kita mempertanyakan hubungan antara Islam dengan agama-agama samawi lainnya. Islam, dalam terminologi al-Quran, bukan nama untuk satu agama tertentu, akan tetapi ia merupakan sebuah nama bagi kesatuan agama yang didakwahkan oleh seluruh utusan Tuhan, dan kepada agama itu pulalah para pengikut nabi-nabi tersebut dinisbatkan.”

Karena itu, tegasnya lebih jauh, tidak heran jika ditemukan bahwa dalam al-Quran sendiri para nabi sebelum nabi Muhammad Saw menyebut dirinya sebagai muslim, yang secara kebahasaan artinya “orang yang pasrah dan tunduk”, karena pada dasarnya, Islam bukan agama baru, yang dibawa oleh nabi tertentu. Akan tetapi ia adalah agama semua nabi, tanpa terkecuali.

Pertanyaannya: “kalau memang semua nabi itu membawa satu agama bernama Islam, lantas apa inti dari agama yang satu yang bernama Islam itu?” Ulama al-Azhar yang pernah meraih gelar doktor dari Universitas Sorbonne itu melanjutkan bahwa inti dari agama yang bernama Islam ini ialah penyembahan kepada Tuhan semesta alam dalam bingkai ketundukan dan kepasrahan mutlak yang terbebas dari segala jenis kemusyrikan.

Juga, agama yang bernama Islam ini mengajarkan umatnya agar percaya terhadap semua ajaran yang datang dari Tuhan, melalui lisan nabi manapun, kapanpun, dan di manapun, tanpa ada unsur pembengkangan dan membeda-bedakan antara satu kitab suci dengan kitab suci yang lain, antara nabi yang satu dengan nabi yang lain (Abdullah Diraz, al-Dîn; buhûts mumahhidah li târîkh al-Adyân, Kairo: Muassasah Iqra, hlm. 165)

Singkatnya, Islam adalah agama yang mengajarkan tauhid dan kepasrahan mutlak kepada Tuhan yang Maha Esa. Dan sebagai konsekuensi logis dari ketundukan pada Tuhan yang Maha Esa itu, seorang muslim diharuskan untuk percaya kepada semua utusan Tuhan, dan seluruh ajaran yang dibawanya, tanpa dibeda-bedakan.

Karena itu, ketika al-Quran menyatakan bahwa agama yang diradai oleh-Nya hanyalah Islam (Q 3: 19), maka kata Islam dalam ayat tersebut perlu dipahami sebagai sebuah agama yang menjadi semen perekat seluruh nabi, bukan agama yang dibawa oleh nabi tertentu saja. Dengan kata lain, Islam yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah agama tauhid, agama yang dibawa oleh Musa, Isa, Muhammad, dan nabi-nabi lainnya.

Pertanyaannya: Kenapa Allah hanya meridai agama yang satu itu? Jawabannya sederhana: Karena agama yang otentik berasal dari Tuhan hanya ada satu, yaitu Islam. Islam yang mana? Bukan hanya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, tapi Islam yang dibawa Ibrahim, Ismail, Musa, Isa, Muhammad dan nabi-nabi lainnya. Itulah yang dimaksud dengan kata Islam dalam istilah al-Quran.

Karena itu, kalau Anda ingin memeluk agama yang diridai oleh Allah, yang bernama Islam itu, maka di samping Anda harus beriman pada Tuhan yang Maha Esa, Anda juga harus beriman kepada semua utusan Tuhan, tanpa membeda-bedakan antara satu utusan dengan utusan yang lain. Anda harus percaya kepada semua kitab suci yang Tuhan turunkan, tanpa memilih kitab suci tertentu, dan menegasikan kitab suci yang lain.

Kalau Anda beriman kepada Isa, maka keimanan Anda terhadap Isa tidaklah sempurna kecuali setelah Anda beriman kepada Musa, Muhammad, dan nabi-nabi lainnya. Kalau Anda beriman kepada Muhammad, maka Anda harus beriman kepada al-Quran. Kalau Anda beriman kepada al-Quran, maka Anda harus beriman kepada Injil, Taurat, Zabur, dan kitab-kitab suci lainnya.

Singkatnya, Agama yang bernama Islam ini hendak menandaskan bahwa keimanan kepada Tuhan, para nabi, kitab suci, malaikat, dan hari akhir merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sekali saja Anda mengingkari salah satu nabi, atau salah kitab suci, atau salah seorang malaikat, maka ketika itu keimanan Anda menjadi tidak sempurna. Dan kalau keimanan Anda tidak sempurna, maka sudah barang tentu keimanan Anda tidak akan diterima oleh yang Mahakuasa.

Dengan demikian, dari sudut bangunan teologis, Islam adalah agama yang sempurna. Karena konsep keimanan dalam Islam bersifat holistik dan menyeluruh. Islam memercayai semua kitab suci, juga memercayai semua nabi. Kalau Anda beriman dengan konsep keimanan seperti tadi, maka ketika itu Anda disebut sebagai muslim, yang secara kebahasaan bermakna pasrah. Keimanan kita kepada semua utusan Tuhan merupkan wujud kepasrahan dan ketundukan kita kepada Tuhan.

Kalau Anda tidak beriman kepada Isa As, maka Anda bukan muslim. Kalau Anda tidak beriman kepada Injil, maka Anda juga bukan muslim. Orang yang hanya percaya kepada Nabi Muhammad saja, tidak layak disebut muslim. Sebagaimana orang yang hanya percaya kepada al-Quran semata, juga tidak berhak menyandang gelar muslim.

Lalu siapa itu Muslim? Muslim adalah orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah dengan mengimani semua prinsip-prinsip keimanan yang telah Tuhan tetapkan. Ia tidak membeda-bedakan antara Musa, Isa, dan Muhammad Saw. Karena semuanya adalah utusan Tuhan, dan semuanya membawa satu agama yang bernama Islam.

Pertanyaan yang tak kalah penting selanjutnya ialah: Kalau memang yang dibawa oleh Nabi Musa, Isa, dan Muhammad Saw itu adalah satu, yaitu Islam, dan semuanya mengajarkan tauhid, lantas mengapa di kemudian hari masing-masing dari pengikut nabi itu memiliki konsepsi keyakinan yang berbeda? Konsep keyakinan orang Kristen sekarang, misalnya, berbeda dengan konsep keyakinan yang tertuang dalam ajaran Islam.

Apakah trinitas versi Kristen dengan tauhid versi Islam itu kedua-duanya bisa dianggap benar, atau salah satu dari keduanya ada yang salah dan menyimpang? Sejak dulu para nabi mengajarkan bahwa Tuhan itu satu. Bahkan orang Yahudi sendiri mengimani itu. Artinya, kalau tiba-tiba di kemudian hari ada orang yang mengamini tiga Tuhan—yang mereka yakini sebagai satu—berarti keyakinan tersebut, menurut Islam, sudah menyimpang. Dan itulah yang hendak diluruskan oleh ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Kendati demikian, Islam tetap memandang orang-orang yang berbeda keyakinan—bahkan orang yang tak berkeyakinan sekalipun—sebagai saudara yang perlu diperlakukan secara wajar. Mengoreksi keyakinan satu hal, aturan dalam hubungan sosial adalah hal lain. Mengoreksi keyakinan pihak lain tak lantas mengumandangkan permusuhan kepada yang lain.

Selama orang lain bersikap damai, maka sikap yang sama harus kita tunjukan. Karena semua manusia, dalam pandangan Islam, terajut dalam tali ikatan persaudaraan yang sama, yakni sebagai keturunan Adam As. Itulah Islam. Agama yang damai. Agama yang dibawa oleh Musa, Isa, dan Muhammad Saw. Demikian, Allahu ‘alam bisshawab.

Sumber : Qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply