APA ITU ITTIHAD AL-‘AQIL WAL MA’QUL?

Beberapa hari belakangan ini mata saya tersihir oleh keanggunan seorang wanita yang baru saya kenal belum terlalu lama. Lazimnya orang jatuh cinta, wajah perempuan itu hampir tak pernah luput dari ingatan saya. Kenal belum terlalu jauh, tapi rasa sudah terhujam sedemikian dalam.

Saya kira di dunia ini bukan hanya saya yang pernah merasakan hal itu. Kata orang itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, lepas dari apapun namanya, yang jelas saya belum berkenalan lebih jauh dengan perempuan itu. Meskipun wajahnya selalu teringat. Sampai sekarang. Dan entah kapan bayangan itu akan hilang.

Apa yang saya alami itu mengingatkan saya akan satu teori penting dalam filsafat Mulla Sadra (w. 1050 H) tentang apa yang ia sebut sebagai ittihâd al-‘Aqil wal Ma’qûlIttihâditu artinya penyatuan. ‘Aqil artinya subjek yang mengetahui. Sedangkan ma’qul ialah pengetahuannya itu sendiri.

Melalui contoh di atas, saya disebut sebagai ‘âqil (yang mengetahui). Gambaran wajah perempuan yang mendarat di kepala saya itu disebut sebagai ma’qûl (yang diketahui). Dan penyatuan antara jiwa saya dengan gambaran perempuan itu diistilahkan dengan ittihad al-‘Aqil wal Ma’qul.

Sekarang kita akan menjawab pertanyaan yang satu ini: Ketika saya mengetahui perempuan itu, apakah saya dan pengetahuan saya tentang perempuan tadi itu benar-benar menyatu? Kalau iya, apa yang dimaksud dengan penyatuan itu?

Apakah yang dimaksud dengan penyatuan itu adalah penyatuan wujud dan esensi? Atau yang dimaksud dengan penyatuan itu ialah penyatuan antara subjek dengan gambaran dari sesuatu yang sudah dia ketahui?

Dengan pertanyaan yang lebih sederhana. Di sana ada saya, dan dzat lain di luar diri saya, yakni perempuan tadi, yang sudah saya ketahui. Ketika saya mengetahui dia, apakah ketika itu saya menjadi dia dan dia menjadi saya? Apakah saya dan dia itu melebur menjadi satu?

Orang awam akan segera berkata: Tentu saja tidak! Mana mungkin dua wujud yang berbeda bisa menyatu dalam satu wujud yang sama. Tapi para filsuf Muslim akan menjawab iya. Dengan satu catatan bahwa yang dimaksud dengan ma’qûl itu ialah pengetahuan saya tentang perempuan tadi, bukan wujud perempuannya sebagai realitas yang berdiri sendiri.

Inilah yang mereka sebut dengan ittihâd al-‘Aqil wal Ma’qûl, penyatuan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Artinya di sana tidak ada dualisme wujud. Hanya ada satu wujud, yaitu dzat yang mengetahui itu sendiri. Mengapa bisa demikian? Penjelasannya bisa kita lihat melalui uraian sebagai berikut:

Tidak ada perbedaan di kalangan para filsuf bahwa pengetahuan kita akan diri kita itu adalah satu. Saya tahu akan diri saya. Dan ketika itu pengetahuan saya dan saya adalah saya sendiri. Saya sebagai ‘aqil, dan saya juga sebagai ma’qul. Tidak ada wujud yang lain selain saya. Semua orang, saya kira, tak akan menolak pernyataan ini.

Tapi, yang memunculkan perdebatan di antara mereka ialah soal pengetahuan kita akan sesuatu di luar diri kita. Ketika kita mengetahui sesuatu, katakanlah pohon, misalnya, apakah kita menyatu dengan gambaran pohon yang kita ketahui itu?

Sebelum dijawab, sekali lagi, penting dibedakan antara wujud pohon sebagai realitas eksternal (wujud khariji) dengan gambaran tentang pohon yang berada dalam pikiran (wujud dzihni). Yang kita maksudkan bukan wujud pohon, melainkan gambaran tentang pohon yang kita ketahui itu.

Begitu juga dengan perempuan tadi. Yang kita maksudkan bukan wujud perempuannya, ataupun esensi keperempuanannya, melainkan pengetahuan saya tentang perempuan itu.

Ketika itu ada penyatuan atau tidak? Dari sini terbelahlah dua mazhab: Satu mazhab mengatakan: Ya, keduanya menyatu. Tapi mazhab yang lain mengatakan; Tidak, keduanya tidak menyatu. Kedua mazhab ini akan saya uraikan secara ringkas sebagai berikut:

Mazhab Pertama 

Mazhab pertama mewakili pandangan Mulla Sadra (w. 1050 H) dan para pengikutnya yang mengamini teori ittihâd al-‘Aqil wal Ma’qûl. Bahwa antara subjek (al-‘Aqil) dan objek yang diketahuinya (al-Ma’qûl) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dengan kata lain, jiwa manusia yang menerima pengetahuan itu, dalam pandangan Sadra, dapat menerima perluasan (qabil lil ittisa). Karena itu, semakin banyak pengetahuan baik yang diserap, semakin mudahlah dia mencapai tingkat kesempurnaan. Artinya tingkatan jiwa manusia itu bergantung pada pengetahuan yang ia terima.

Hubungan antara subjek dengan objek, menurut mazhab ini, ialah seperti halnya hubungan materi (maddah/matter) dengan bentuk (shûrah/form). Bukan seperti hubungan antara substansi (jauhar/substance) dengan aksiden (‘aradh/accident).

Dengan demikian, menurut mazhab pertama, ketika kita mengetahui sesuatu, maka itu tak berarti bahwa kita memiliki pengetahuan tentang sesuatu, tetapi maknanya ialah bahwa diri (baca: jiwa) kita sendiri berubah menjadi sesuatu itu. Memiliki sesuatu dengan berubah menjadi sesuatu itu tentu saja berbeda.

Sekarang kita ambil contoh sederhana untuk memahami jalan pikir kelompok yang pertama ini. Bedakan antara pernyataan “gelas itu menjadi berwarna merah”, dengan pernyataan “sperma itu menjadi manusia”, atau “benih itu menjadi tanaman”. Dengan kata lain, kita harus bisa membedakan antara “kepemilikan sesuatu” (milk al-Syai), dengan “perubahan sesuatu” (shairurat al-Syai).

Ketika kita mengatakan bahwa gelas yang ada di hadapan kita itu menjadi berwarna merah, tentu itu tak berarti bahwa gelas—sebagai substansi—itu melepas substansialitasnya dan berubah menjadi merah. Dengan kata lain, sebagai substansi gelas itu tetaplah gelas. Dia adalah jauhar (substansi) yang tidak mungkin berubah menjadi ‘aradh (aksiden).

Paling jauh kita hanya bisa mengatakan bahwa gelas itu tadinya tidak memiliki sesuatu, yakni warna merah—sebagai aksiden—lalu setelah itu ialah memiliki sesuatu yang tadinya tidak dia miliki itu. Dengan begitu, pernyataan yang menyebutkan bahwa gelas itu berwarna merah secara lebih jelas ingin menyatakan bahwa gelas itu memilikiwarna merah.

Ini berbeda dengan pernyataan kedua yang menyebutkan bahwa “sperma itu berubah menjadi manusia”, atau “benih itu menjadi tanaman”. Dalam pernyataan kedua ini kita melihat adanya perubahan dari sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Saya tidak bisa mengatakan bahwa sel telur itu memiliki kemanusiaan, atau benih itu memiliki tanaman, tapi yang bisa saya katakan ialah bahwa yang satu berubah menjadi yang lain.

Ketika Anda menyatakan “benih itu menjadi tanaman”, lalu ada orang bertanya: Sekarang di mana letak keberadaan benih itu? Tidak ada lagi. Mengapa? Karena dia sudah menyatu dengan tanaman. Seperti halnya sperma yang sudah menjadi satu kesatuan dengan manusia. Artinya di sana tidak ada dualisme lagi.

Nah, mazhab pertama ini melihat hubungan antara subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahuinya persis seperti hubungan antara sperma dan manusia itu. Artinya mereka tidak memandang pengetahuan itu sebagai sesuatu yang dimiliki oleh subjek, melainkan sebagai sesuatu yang menyatu dengan subjek.

Mazhab Kedua

Ibnu Sina (w. 427 H) memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, hubungan antara subjek yang mengetahui dengan pengetahuannya itu sama seperti hubungan antara substansi dengan aksiden. Atau seperti hubungan antara gelas dan warna merah tadi. Ibnu Sina tak memandang ‘aqil dan ma’qul itu sebagai penyatuan (ittihad), melainkan sebagai “gabungan” (indhimam).

Dengan demikian, menurut mazhab kedua ini, pengetahuan yang diresepsi oleh jiwa itu hanyalah aksiden (‘aradh). Jiwa kita tetaplah sebagaimana adanya sebagai substansi (jauhar). Adapun pengetahuan (‘ilm) tak lebih dari sekedar aksiden yang melekat dalam jauhar.

Artinya, ketika kita mengetahui sesuatu, itu artinya kita memiliki pengetahuan tentang sesuatu, bukan berarti bahwa jiwa kita itu berubah menjadi sesuatu yang kita ketahui itu, seperti halnya mazhab pertama. Tidak ada penyatuan di sana. Substansi tetaplah sebagai substansi. Dan aksiden tetaplah sebagai aksiden. Tidak mungkin yang satu berubah menjadi yang lain.

Atas dasar itu, jika kita mengamini pandangan kedua ini, jiwa seorang filsuf tidak jauh beda dengan jiwa anak kecil. Yang membedakan keduanya hanyalah aksiden yang diterima oleh keduanya. Tidak ada penyatuan antara ‘âqil dengan ma’qûl. Kalaupun ada penyatuan, penyatuan itu tidak meniscayakan perubahan yang satu kepada sesuatu yang lain.

Yang mau uraian lebih detail tentang masalah ini, bacalah, misalnya, magnum opus-nya Mulla Sadra yang berjudul al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Arba’ah (9 jilid). Atau, jika ingin uraian yang lebih mudah, Anda bisa baca bukunya Murtadha Muthahhari yang berjudul Durus Falsafiyyah fi Syarh al-Manzhumah (2 jilid).

Uraian di atas mungkin terkesan simplistis. Bahkan hampir terasa tak ada relevansinya dalam konteks kehidupan nyata. Tapi, jika ingin dieksplorasi lebih jauh, diskusi mengenai hal ini sejujurnya akan menjadi lebih menarik lagi. Sayangnya kertas pendek ini tak cukup untuk merekam perdebatan tentang hal itu.

Sampai di sini mungkin Anda akan bertanya: Lalu mana pandangan yang bisa kita terima dari kedua mazhab di atas? Saya kira mazhab pertama lebih mungkin diterima ketimbang mazhab kedua. Buktinya sampai sekarang saya masih merasakan kesatuan dengan perempuan yang saya cintai itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply