Apakah Bersyukur Itu Hanya Perkara Menikmati Saja?

Berbicara tentang bersyukur, banyak orang yang memahaminya kebingungan. Terutama juga mengalami kebingungan dalam memaknai serta menjalani bersyukur itu seperti apa yang sebenarnya.

Apakah hanya diuntaikan lewat lisan di dalam do’a saja? Ataukah seperti apakah sebenarnya pengaplikasian bersyukur iti? Apabila kita memaknai arti bersyukur itu pastinya bersyukur itu adalah perasaan penghargaan yang dirasakan oleh seseorang dengan tanggapan positif serupa atas apa yang seseorang itu rasakan dan dialaminya.

Dan jikalau kita memaknai dari segi maknanya bersyukur itu seperti apa yakni dalam hal ini memiliki lima pondasi penguat rasa bersyukur itu yang harus ada pada diri seseorang itu dalam merealisasikan bersyukur itu sendiri, seperti halnya merendahkan diri dihadapan Dia yang maha pemberi nikmat (Allah SWT).

Mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan baik lahir maupun batin kepada kita, senantiasa Memuji-Nya atas segala nikmat tersebut, dan juga  tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT.

Nikmat-nikmat dari Allah SWT itu seperti halnya , nikmat fitriyah (nikmat yang ada pada diri kita, seperti Allah memberikan kehidupan kita ini, tangan, kaki, wajah, mata, telinga, dan anggota tubuh kita yang lainnya), nikmat Ikhtiariyah (nikmat yang berbentuk atas usaha kita dan semua itu atas izin dari-Nya, seperti harta, kedudukan yang tinggi, ilmu yang tinggi, jabatan, rumah, mobil, dan lain sebagainya).

Nikmat alamah (nikmat sekitar kita, seperti halnya, udara, air, tanah, dan lain-lain sebagainya yang bersifat alamiah), nikmat diiniyah (nikmat agama Islam, yakni Iman, Islam, dan Ikhsan), dan juga nikmat ukhrowiyah (nikmat akhirat, yang kita peroleh dari segala amal perbuatan kita selama hidup didunia ini).

Dalam hal ini ketika kita merasakan kesusahan dan kegundahan dalam hidup kita, maka ingatlah bahwa suatu saat akan ada kesenangan yang menghampiri kita. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah SWT.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Maka ketika kita dalam masa-masa sulit jangan sampai redam rasa bersyukur kita, dan kita hindari mengeluh kepada Allah serta kita introfeksi diri kita, apakah sudah benar atau tidak cara kita hidup didunia ini menjalani segala perintah dan larangan-Nya? selalu ingatlah kepada Allah SWT. Dan Allah juga berfirman di dalam al-Qur’an:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS. Al-Baqarah: 152)

Nikmat-nikmat yang dianugrahkan oleh Allah SWT., kepada kita merupakan pemberian yang terus menerus dan bermacam-macam bentuknya, hanya saja kebanyakan kita manusia lupa akan bersyukur atas segala nikmat-Nya, baik lahir maupun batin yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Dengan demikian bersyukur merupakan bentuk pengakuan dan pembuktian atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan diri dan hati serta hanya kepada Allah lah kita menyandarkan nikmat yang dilimpahkan-Nya, memuji-Nya dan menyebut-nyebut nukmat-Nya.
Setelah itu hati kita senantiasa mencintai-Nya, serta lisan tak berhenti –hentinya menyebut dang menangagungkan nama-Nya.

Jadi pada dasarnya perkara bersyukur ini bukan hanya sebatas menikmati apa yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita. Akan tetapi bersyukur disini kita lakukan secara lisan atau ucapan, serta tidak lupa pula kita kerjakan secara perbuatan

Sumber:Qureta.com

No Comments

    Leave a reply