Artificial Intelligence dan Kepunahan Sapiens

Catatan sejarah menunjukkan, manusia terus berkembang dan selalu berinteraksi dengan teknologi sebagai pengiring perkembangan logika dan kecerdasannya. Manusia selalu menciptakan peralatan dan perkakas guna memudahkan pemenuhan kebutuhannya serta dalam rangka bertahan hidup, menjadikan manusia sebagai sang inovator.

Memasuki abad ke-19, kemampuan manusia sebagai inovator teknologi berkembang semakin pesat dan sangat signifikan jika dibandingkan dengan sebelumnya. Kemampuan manusia untuk berinovasi didukung dengan ketersediaan teknologi yang telah ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Maka dapat dikatakan, teknologi saat ini tidak hanya berkembang, tapi juga berevolusi dengan sangat cepat.

Pernahkah Anda menonton film “Ex Machina”? Pada tahun 2015 “Ex Machina” muncul sebagai film bergenre sains fiksi bertemakan Artificial Intelligence mencuri banyak perhatian penontonnya.

Pasalnya, pada film tersebut kita dihadirkan dengan sebuah robot yang memiliki kecerdasan menyerupai manusia pada umumnya. Lalu, apa sebenarnya Artificial Intelligence (AI) itu? sejak kapan diciptakan? Dan Apakah AI bisa mengambil alih dunia kita? Mari kita simak ulasannya.

Dalam dunia teknologi, AI bukan hal baru. Keberadaannya sudah ada cukup lama hanya saja tidak kasat mata atau masih berupa gagasan dan kajiannya . Artificial Intellegence (AI) mulai diciptakan manusia sejak abad ke 17 oleh para ilmuwan matematika dunia.

Namun gaung ketenaran teknologi tersebut baru mencuat sekitar 1950 silam. Christopher Strachey dari University of Manchester, United Kingdom, merupakan programmer yang pertama kali menuliskan AI pada mesin Ferranti Mark I. Mesin tersebut terdapat di dalam komputer dengan permainan naskah atau bahasa mesin. Kemudian teknologi mulai dikembangkan secara luas, bahkan digunakan pada sistem pertahanan sebuah negara.

Perdebatan mengenai AI memang masih tetap berlangsung. Beberapa ilmuwan menentang pernyataan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan mampu mencapai titik kepintaran manusia atau kecerdasan alami. Namun bagi beberapa ilmuwan dunia, kecerdasan buatan bahkan bisa lebih canggih apabila terus dikembangkan.

John McCarthy, 1956 menjelaskan bahwa kecerdasan buatan adalah usaha memodelkan proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan perilaku manusia. Pengertian lain menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang dalam pandangan manusia adalah cerdas (H. A. Simon, 1987).

Lalu apa hubungan Artificial Intelligence dan Sapiens? Ketika melihat robot yang bereaksi seperti manusia, atau komputer yang menampilkan kecerdasan serupa dengan manusia, terkadang kita bergurau tentang sebuah masa yang akan datang, di mana manusia harus tunduk kepada robot.

Namun, di balik gurauan itu terdapat sebuah kekhawatiran. Tidak semua orang siap menyambut kecerdasan buatan (Artificial Inteliigence) itu sendiri. Beberapa tahun terkahir, seiring dengan terbosoan-terobosan yang dicapai dalam teknologi kecerdasan buatan, tokoh-tokoh dalam teknologi dan ilmu pengetahuan sudah mengingatkan tentang bahaya yang dapat disebabkan oleh kecerdasan buatan terhadap manusia, bahkan kemungkinan bahwa kecerdasan buatan dapat membawa “kiamat” bagi manusia (Sapiens).

Elon Musk adalah salah satu orang yang paling kuat menyuarakan tentang bahaya kecerdasan buatan sejak tahun 2014. Fisikawan Stephen Hawking juga megekspresikan kekhawatirannya tentang kecerdasan buatan yang dianggapnya jahat. Hal tersebut dilansir dari Space, pada 2014 Stephen Hawking mengatakan kepada BBC bahwa pembangunan kecerdasan buatan yang seutuhnya dapat menjadi akhir dari kehidupan manusia itu sendiri.

Yuval Noah Harari pada bukunya yang berjudul “Sapiens: A Brief History of Humankind” menggambarkan sejarah tentang manusia, siapa kita, dan kenapa manusia modern berhasil menyingkirkan saudara-saudara kita sebelumnya. Harari kemudian menerbitkan buku berjudul “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow” menggambarkan saat manusia berubah menjadi “Tuhan”.

Pada buku tersebut dijelaskan bahwa pada akhirnya manusia akan tergantikan oleh manusia-manusia super dengan intelejensia super, yang Harari sebut sebagai Homo Deus. Kita akan musnah, apabila tidak mampu meng-upgrade dan meng-updatesemua informasi dan data yang tersebar bebas di dunia nyata dan maya.

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan merupakan pertanda bahwa Homo Deus sudah ada di sekitar kita (Sapiens). Memasuki era revolusi industri 4.0, Artificial Intelligence mulai mengambil peran bahkan mengambil alih suatu proses pekerjaan yang biasa dilakukan oleh Sapiens.

Buktinya, semakin berkurang jumlah pekerja di pabrik-pabrik, digantikan oleh sistem robot yang dapat dikendalikan. Hal tersebut sama saat Sapiens mampu menyingkirkan saudara-saudara kita sebelumnya dan bertahan hingga sekarang yakni salah satu kemungkinannya adalah Sapiens mendorong mereka menuju kepunahan.

Sapiens merupakan pemburu dan pengumpul yang lebih andal. Mereka memiliki teknologi yang lebih baik dan keterampilan sosial yang lebih hebat, sehingga mereka beranak pinak dan bersebaran. Bukanlah suatu hal yang mustahil dilakukan. Melalui kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, Homo Deus bermaksud mendorong kita (Sapiens) menuju kepunahan.

Apa yang dapat kita lakukan agar mampu bersaing dengan AI serta terhindar dari kepunahan? Jack Ma sang pendiri Alibaba pernah menyampaikan bahwa “Mesin tidak akan pernah mampu menggantikan manusia. Pasalnya, manusia memiliki banyak keunggulan dibanding mesin, salah satunya dan yang paling utama adalah kreativitas”.

Kreativitas ini pula yang membedakan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan alami. Dengan memaksimalkan kreativitas, mampu menyelamatkan Sapiens dari ancaman Artificial Intelligence atau kepunahannya. Bahkan pada akhirnya dengan kreativitasnya Sapiens mampu melewati eliminasi Artificial Intelligence (AI) dan bertransformasi menjadi Homo Deus di masa depan.

Sumber : Qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply