Azab Allah untuk Penceramah yang Tidak Memperhatikan Etika

Nabi Muhammad saw pernah bersabda, diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Syuraih: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Qiyamat, maka dia sebaiknya berkata yang baik-baik; atau jika tidak bisa bertutur kebaikan, lebih baik dia bungkam” (disepakati Bukhari dan Muslim)

Ternyata cara berbicara, baik dalam hal biasa maupun ketika sedang menyampaikan pidato, tidak sama sekali menjadi masalah serius. Namun isi dari pembicaraanlah yang disoroti hadis di atas.

Berbicara dengan nada tinggi memang ada pemakluman untuknya, walaupun di beberapa kondisi merendahkan nada bicara adalah etika terbaik. Hal yang mendorong gaya bicara adalah perwatakan. Bisa dimaklumi, mungkin penceramah yang terkenal teriak-teriak dalam menyampaikan orasi apa pun itu adalah orang yang pada dasarnya berwatak keras suaranya.

Baiklah. Watak berbicara keras (bernada tinggi) dapat dimaafkan. Karena mengubah watak ialah perkara yang minta ampun sulitnya, walau sebenarnya bisa secara pelan-pelan. Akan tetapi lain halnya dengan substansi pembicaraan yang dampaknya jauh berbeda dibanding dengan hanya sekadar meninggikan suara. Keadaan yang tadinya tenang-tenang saja bisa menjadi keruh jika ada pernyataan yang mengganggu di tengah masyarakat yang mendengarkan.

Dalam gambaran kasus yang lebih spesifik, jarang ditemukan orang yang “pasti marah” saat diberi informasi, atau diajak bicara dengan nada tinggi. Tapi seseorang akan marah jika dia dikatai dengan kata-kata yang merendahkannya, semisal mengatakan “hai banci” kepada seorang laki-laki atau “hai babi” pada orang normal.

Sekarang bagaimana jika pidato yang sarat hujatan menjadi komoditas yang lumayan laris di ranah majlis keagamaan? Di sinilah pokok masalahnya. Kita bisa melihat edaran konten-konten berupa rekaman video ceramah pengajian di media sosial yang isinya sangat memprihatinkan.

Video fenomenal yang mutakhir, yang berisi hujatan dan hinaan kepada kepala negara Indonesia menjadi satu bukti di mana kebobrokan etika berpidato terjadi. Di zaman ilmu pengetahuan mudah diakses, etika berpidato saja tidak dimiliki oleh banyak penceramah Islam kita.

Imam Al-Mawardi dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Diin menyodorkan empat syarat sebuah pidato atau ceramah (bahkan percakapan apa pun):

Pertama, substansi pidato haruslah sebuah poin yang menyerukan aksi-aksi bermanfaat atau seruan agar ada tindakan pencegahan atas resiko buruk apa pun. Tidaklah pantas sebuah ceramah keislaman diisi dengan pidato yang menghasut dan menggiring umat kepada bentuk opini yang merusak. Atau menyerukan aksi-aksi yang tidak ada manfaatnya, seperti menyeru umat agar marah dan melakukan demonstrasi yang absurd.

Kedua, pidato disampaikan di tempat dan suasana yang sesuai. Apakah menghina orang lain, bahkan menuduhnya berbuat tidak-tidak apalagi sekelas pemimpin negara, adalah substansi yang tepat disampaikan di pengajian keislaman? Tentu saja, nalar waras akan menjawab tidak. Toh jika yang diinginkan adalah kritik, tentu yang disasar adalah tindakan pihak yang akan dikritik dan disertakan data pembanding. Bukan dengan menyerang pribadi.

Ketiga dan keempat, isi pidato sesuai kebutuhan dan pidato diisi dengan diksi-diksi pilihan. Dua poin terakhir ini memberikan arahan positif bahwa sebuah pidato atau ceramah apa pun (pengajian sekalipun) haruslah memperhatikan segi persiapan yang baik. Seorang pendakwah atau ustaz, bahkan keturunan Rasulullah sekalipun, tentunya harus memberikan perhatian kepada konten dakwah yang akan mereka sampaikan.

Bagaimana mungkin pengajian memperingati bulan maulid Nabi atau hari besar Islam lainnya, disisipi dengan pembicaraan politis, lebih-lebih dengan joroknya, memainkan isu agama agar emosi jamaah ikut memanas? Itu adalah berlebihan karena keluar dari kebutuhan atau bahkan sebuah kesalahan fatal seorang pendakwah karena salah konten yang disampaikan. Harusnya itu membuatnya sangat malu.

Pun dalam hal pemilihan diksi. Banyak pendakwah Islam di tanah air ini terlihat lepas kontrol dalam menyampaikan pidatonya. Alih-alih menyindir dengan elegan, yang terjadi justru ceramah agama diselingi memaki-maki pihak lain dengan kasar. Tentu kita tidak bisa menghalangi ketidaksetujuan pendakwah pada orang yang dimaki, namun yang berbeda belum tentu musuh yang harus dihujat mati-matian.

Hal yang perlu jadi sorotan saat ini juga adalah ironi bahwa banyak bermunculan penceramah radikal yang kurang bersyukur dengan kondisi Indonesia. Entah menghujat sistem negara, memfitnah pejabatya, bahkan menghina presidennya. Bukannya pendakwah harus mengajak umat menjadi ahli syukur? Bukan menyeret umat menjadi ahli kufur dan penghujat nikmat. Na’udzubillaah.

Harus diingat bahwa Allah akan mengazab orang yang mengufuri nikmatnya. Bisa saja azab itu diturunkan langsung di dunia, misalnya seseorang pendakwah dilaporkan pihak berwajib karena menghina pihak yang tidak bersalah padanya dan pada akhirnya dipenjara. Walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.

Belum sampai di sini. Ketentraman masyarakat juga menjadi tanggung jawab pemuka agama yang punya tugas menyampaikan ajaran agama. Sungguh menjadi hal tabu apabila ada penceramah yang tidak memperhatikan etika berpidato.

Boleh saja meninggikan suara saat pidato, meski padahal sudah memakai pengeras suara. Boleh juga menggunakan lelucon untuk menghibur umat. Tapi akan jadi masalah jika etika berpidato tidak diamalkan dengan baik.

Jika masyarakat rusak atau kacau akibat isi pidato seorang pendakwah, maka azab Allah yang sangat parah dan pedih menanti orang itu. Karena kesesatan masyarakat juga tanggung jawab tokoh agamanya. Bisa di dunia langsung diazab, atau di akhirat kelak. Wallaahu a’lam.

Sumber : Qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply