Bagaimana Ekonomi Digital Menghambat Penyebaran Virus Corona

Gaungan yang makin menggelora terkait social distancing dan work from home (WfH) memaksa manusia untuk terus berada di rumah. Ini adalah langkah efektif untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Bahkan, pusat perbelanjaan, destinasi wisata, dan tempat di mana orang cenderung berkumpul telah kehilangan pelanggan secara drastis.

Penurunan permintaan bahan mentah di negara terdampak mengganggu sektor ekspor Indonesia, yang dapat menyebabkan turunnya harga komoditas dan barang tambang. Jutaan pekerja juga tidak bisa bekerja karena karantina ataupun terinfeksi.

Banyak manusia yang ketakutan. Virus dapat menular tanpa disadari, bahkan tanpa gejala apapun. Artinya, seseorang berpotensi untuk menginfeksi orang lain, mulai dari keluarga, teman, dan siapa saja yang ia temui. Siapa yang mau mengambil risiko pada sesuatu yang dapat membahayakan keluarga mereka?

Namun, ekonomi digital membuat banyak orang terhubung untuk berperan di dalamnya. Dimana letak geografis dan waktu pun tidak jadi masalah.

Beberapa tahun terakhir, iklim ekonomi digital makin kondusif untuk dijelajahi bagi setiap orang. Strategi digitalisasi ekonomi terbukti telah membawa berbagai perubahan radikal dalam berbagai lini di tengah dinamika kehidupan yang makin dinamis.

Faktor penting dalam ekonomi digital adalah menawarkan ‘kemudahan’ bagi para pengguna. Karena, setidaknya transformasi ini memberikan faedah yang signifikan sehingga meraih efektivitas, efisiensi, turunnya biaya produksi, hingga kolaborasi.

Di Cina, Tingkat ketergantungan terhadap e-commerce meningkat drastis. Penjualan sayuran tumbuh sembilan kali lipat serta penjualan daging dan telur 7,5 kali lebih besar dari tahun sebelumnya.

Aplikasi lainnya juga memungkinkan pelanggan untuk melakukan virtual test drive experience yang membantu para dealer dalam berbisnis, sehingga siklus pembelian mobil tetap terjaga. Museum pun dapat dikunjungi secara virtual bagi mereka yang ingin mengunjunginya tapi terhalang untuk saat ini.

Pemerintah Italia telah meminta pertandingan sepak bola untuk dimainkan tanpa penggemar. Sebagai gantinya akan disiarkan langsung sehingga memungkinkan masyarakat tetap menonton tanpa risiko infeksi.

Lansia, yang rentan terhadap virus, tidak harus keluar rumah untuk membeli makanan dan obat-obatan. Aplikasi, pelayanan pengiriman, asisten virtual, dan opsi belanja online  memungkinkan untuk memesan apa yang mereka butuhkan tanpa perlu keluar rumah.

Bolt, peusahaan transportasi online, menawarkan solusi alternatif untuk mengorder  Bolt Food. Sebagai pencegahan ekstra, Pengguna yang berada di karantina atau yang tidak ingin berhubungan dengan orang lain, bisa memberikan catatan kepada kurir untuk meninggalkan pesanan di ambang pintu atau area yang ditunjuk yang mereka pilih.

Ketika WHO memperingatkan bahwa kemungkinan uang kertas dapat menyebarkan virus, orang bisa menggunakan alternatif e-wallet seperti Gopay dan Dana. Aplikasi berbasis Telemedicine dan Telehealth juga memberikan lebih banyak akses untuk berkonsultasi tanpa harus antre di rumah sakit saat memiliki gejala penyakit.

Melalui smart speaker dan video call, Anggota keluarga dapat memeriksa ibu dan ayah mereka secara visual untuk mengetahui keadaannya, tanpa harus datang secara fisik ke rumahnya. Ini memberikan tingkat kenyamanan yang tidak mungkin dilakukan melalui telepon biasa.

Dengan menggunakan Learning Management System (LMS), siswa dapat mengakses video pembelajaran interaktif yang dapat diputar ulang. Bahkan, Platform Ruangguru bekerja sama dengan Telkomsel untuk memberikan kuota internet 30GB gratis selama sebulan.

Peningkatan sistem telekomunikasi juga tak kalah penting. Ekonomi digital di Cina saat ini memang sedang dalam bayang-bayang wabah virus. Namun, mereka menunjukan potensi besar pasar Cina. Pertumbuhan ekonomi digital ini didasari atas keunggulannya dalam teknologi seperti 5G yang terus mendorong transformasi ekonomi Cina.

Sebelumnya, kita melihat secara buta seakan-akan tidak ada sisi terang dari dampak COVID-19. Bisnis mungkin akan gagal dan pekerja akan kehilangan pekerjaan tetapnya.

Di sisi yang berbeda, ekonomi digital datang dan menawarkan banyak keuntungan. Diantaraya, penciptaan lapangan pekerjaan baru. Pada tahun 2022 diprediksi akan memunculkan 26 juta pekerjaan baru yang kebanyakan dipengaruhi oleh perkembangan usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM).

Lalu ada social equality, yang memungkinkan inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan, dan menyelesaikan masalah sosial lainnya. Kemudian ada financial benefits. Bank Indonesia mengestimasi nilai transaksi di 14 e-commerce terbesar Indonesia mencapai mencapai Rp265,07 triliun sepanjang tahun 2019.

Faktanya, banyak dari startup di dunia ini justru lebih mudah untuk menumpulkan dampak dari virus corona. Mereka terus menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Efek dari virus sepertinya akan bertahan lama bila tak segera ditangani. Tetapi, krisis akan mempercepat perpindahan bisnis ke dunia digital dan memaksa untuk lebih mengandalkan solusi digital. Sehingga, kemungkinan di masa depan akan melahirkan gelombang inovasi baru.

Ini memang bukan solusi yang sempurna. Tetapi, tanpa ekonomi digital banyak perkara bisa tertimpa dan imbasnya menjadi lebih buruk. Sudah selayaknya kita mengaktualkan jalan alternatif ini untuk pertumbuhan ekonomi yang baru.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply