Beberapa Argumen Mengapa Jilbab Tak Wajib

Jagat Indonesia, khususnya umat Islam, pernah dihebohkan dengan fatwa M. Quraish Shihab yang mengatakan bahwa jilbab itu tidak wajib. Fatwa ini sontak mendapat sorotan dan kecaman dari berbagai kalangan. Berbagai macam tuduhan segera dialamatkan kepada beliau.

Ada yang melabeli beliau sebagai ‘ulama su’u’, ‘ulama sesat’, dan bahkan yang lebih keras, karena pernyataan M. Quraish Shihab di atas, ada yang mengatakan bahwa beliau sudah tak pantas lagi dipandang sebagai ulama.

Namun ada hal yang penulis kira perlu dikritik dari orang-orang yang melempar tuduhan-tuduhan itu. Penulis menemukan bahwa banyak dari para pengumpat Quraish Shihab tersebut hampir atau belum pernah membaca pendapat beliau secara utuh dan merujuk langsung pada sumber primernya, yakni buku Quraish Shihab yang berjudul Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah. Mereka hanya mengetahui berdasarkan qila wa qola, kata anu dan si anu.

Padahal kalau kita ingin sedikit menghempaskan rasa malas dan meluangkan waktu membaca karya Quraish Shihab tersebut, kita akan menemukan bahwa pendapat tentang hijab tidak wajib adalah pendapat para cendekiawan muslim yang lain, bukan pendapat pribadi milik Quraish Shihab. Beliau hanya memaparkan dan sedikit memberi komentar terhadapnya dan bahkan dalam beberapa kesempatan mengkritik atau membantah.

Selanjutnya seperti judul di atas, penulis tidak ingin berlarut dalam membahas respons atau tanggapan emosional dari orang-orang terhadap Quraish Shihab. Penulis akan memaparkan kepada para pembaca sekalian terkait alur berpikir dan dasar argumen cendekiawan muslim yang mengatakan bahwa hijab tidak wajib.

Sebab banyak yang beranggapan bahwa pendapat tentang tidak wajibnya hijab adalah asing dan tidak berasal dari Islam, melainkan dari musuh-musuhnya. Ini jelas keliru. Sebab dari argumen yang mereka bangun, kita akan menyaksikan kalau pendapat mereka dibangun di atas dasar-dasar atau kaidah-kaidah Islam yang disepakati, baik ulama klasik dan kontemporer. (Quraish Shihab, 2018)

Walaupun tak dapat kita nafikan kalau ada beberapa dari mereka yang kebablasan dan secara membabi-buta mengatakan hijab tidak wajib. Seperti yang dilakukan oleh Asghar Ali Engineer. Ia mengatakan praktik hijab adalah sesuatu yang menggelikan jika memang bukan praktik yang tidak beradab. Lalu menganggapnya sebagai suatu kekakuan yang dipaksakan (Ali Engineer, 2018).

Dan juga seperti yang dilakukan oleh Muhammad Syahrur, dengan mengatakan bahwa hijab (jilbab) bukanlah tuntunan agama, melainkan satu bentuk pakaian yang dituntut oleh masyarakat dan lingkungan. Padahal hijab itu amat jelas tuntunannya dalam Q.S. al-Ahzab [33]: 59

Kembali lagi soal kaidah-kaidah Islam yang mereka gunakan, setidaknya ada empat prinsip yang dijadikan dasar oleh mereka ketika mengemukakan hukum tentang persoalan hijab:

Pertama, Alquran dan hadis sama sekali tak menghendaki masyaqqah (kesulitan). Hal ini berdasar pada surat al-Maidah [5]: 6 dan al-Baqarah [2]: 185.

Kaidah ini dipakai oleh cendekiawan muslim untuk mengatakan bahwa hijab tak wajib. Hijab bagi wanita modern dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan dan merepotkan, apalagi bagi wanita pekerja berat. Terhadap wanita seperti itu, ulama membolehkannya untuk membuka muka, lengan, dan tangan seperti yang dinyatakan oleh ulama hanafiah.

Dan hal ini mendapat pembenaran jika kita melihat sejarah pada zaman Rasulullah di mana antara hijab wanita budak (yang banyak bekerja) dan hijab wanita merdeka (yang banyak diam di rumah) dibedakan. Hijab wanita budak boleh kelihatan dari dada ke atas dan lutut ke bawah. Sedangkan wanita merdeka tertutup seluruhnya. Karena tidak melakukan banyak kegiatan.

Kedua, hadis-hadis Nabi adalah sumber hukum kedua, tapi ia baru disepakati untuk menetapkan sebuah hukum jika dia dinilai sahih oleh yang bersangkutan.

Nah, khusus hadis tentang hijab yang dari Aisyah itu dianggap bermasalah (tidak sohih). Hadisnya adalah Asma binti Abu Bakar masuk kamar Rasulullah saw., dia memakai pakaian yang tipis, maka baginda berpaling darinya seraya berkata, “Wahai Asma! Sesungguhnya perempuan itu kalau sudah sampai (umur) haid tidak pantas untuk dilihat dari (tubuh)-nya kecuali ini dan ini.” Baginda menunjuk ke muka dan telapak tangan.

Hadisnya dianggap bermasalah karena diriwayatkan oleh Khalid bin Durayk. Khalid bin Durayk, menurut Abu Dawud, tidak bertemu dengan Aisyah, artinya sanadnya terputus. Di samping itu, ia juga merupakan sosok yang tidak dikenal (majhul) oleh kalangan pakar hadis. (Husein Muhammad, 2019)

Ketiga, ketetapan hukum berkisar pada ‘illat-nya. Selama illat itu masih ada, maka hukum tetap berlaku; dan bila illat telah tiada, maka gugur pula keberlakuan hukum. Yang dimaksud dengan illat oleh para pakar hukum adalah suatu sifat/subtansi yang melakat pada sesuatu, sehingga atas dasarnya hukum ditetapkan.

Ulama kontemporer menilai bahwa pakaian bukanlah termasuk ajaran agama yang bersifat ta’abbudi. Ia berkaitan dengan muamalah dan adat-istiadat yang dapat dicari serta ditemukan ‘illat-nya. Apa itu illat-nya?

‘Illat di balik perintah hijab adalah, kalau kita menggunakan teori sababun nuzul, pada zaman jahiliyah perempuan merdeka dan perempuan budak terbiasa keluar tanpa jilbab. Di saat seperti inilah pemerkosa akan mengikutinya dan menggodanya. Atas alasan inilah Allah memerintahkan kepada wanita muslimah untuk mengenakan hijab (agar dapat dibedakan dari perempuan budak).

Dan dari sini juga, sebagaimana tulis Asghar Ali Engineer mengutip Imam Fakhruddin ar-Razi, Allah ingin menjelaskan bahwa anjuran untuk mengenakan hijab itu hanya upaya pembedaan dan bukan berarti tak dapat dibuka jika ‘illat itu telah hilang (Ali Engineer, 2018).

Keempat, perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya tidak selalu harus diartikan wajib atau haram, tetapi perintah itu juga bisa berarti anjuran dan larangan yang sebaiknya ditinggalkan. Muhammad Asad dalam hal hijab menggunakan prinsip ini.

Ia, misalnya, menerjemahkan an-Nur [24]: 31 “Katakanlah kepada perempuan beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali pada suami mereka.”, sebagai anjuran, bukan kewajiban yang harus dipatuhi.

Ia bisa saja berubah tergantung pada perkembangan standar moral laki-laki dan terkait apa yang dianggap ‘sopan’ dan ‘tidak sopan’ dalam penampilan seseorang. Misalnya dulu, di Indonesia sebelum ada proses ‘jilbabisasi’ pada tahun 80-an, tidak memakai hijab adalah hal yang biasa dan tidak dianggap sesuatu yang tidak sopan.

Demikianlah kira-kira argumen dan dalil yang digunakan oleh cendekiawan muslim ketika mengatakan hijab tak wajib. Namun perlu untuk ditekankan, penulis tidak meminta pembaca untuk meyakininya dan bahkan menjadikannya sebagai pedoman. Tidak. Penulis dengan tuntutan ilmiah yang diemban hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan. Selebihnya adalah bergantung pada pembaca.

Sumber : qureta.com

Tags: , , ,

No Comments

    Leave a reply