BELAJAR DARI TSUNAMI ACEH

Efektifnya Cerita Rakyat “Smong” pada Manajemen Risiko Bencana Tsunami Masyarakat Simeulue

Setelah dilakukan perhitungan jumlah korban pada peristiwa Tsunami Aceh, 26 Desember 2004, terdapat data yang mengejutkan. Tsunami Aceh di Indonesia menelan 220.000 korban jiwa. Namun Kepulauan Simeulue yang pada saat itu menjadi menjadi titik epicentrum gempa justru berkali-kali lipat lebih sedikit jumlah korbannya, yakni tiga korban jiwa.

Setelah pemulihan situasi pascabencana, banyak peneliti yang berusaha menjawab fenomena unik tersebut. Salah satu peneliti yang terjun meriset hal tersebut yakni Alfi Rahman, M.Si., Ph.D, peneliti dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala.

Alfi Rahman pada 2018 lalu mempublikasikan hasil temuannya tersebut yang sekaligus menjadi disertasi doktoralnya dari salah satu universitas di Jepang. Alfi Rahman menyebutkan bahwa faktor utama banyaknya masyarakat Simeulue yang selamat karena kapasitas yang dimiliki masyarakatnya mengenai tsunami.

Kapasitas yang dimiliki masyarakat tidak muncul tiba-tiba. Alfi menuturkan bahwa masyarakat memiliki memori kolektif yang terus menerus ditransfer antar generasi mengenai kejadian tsunami dan upaya preventifnya. Dalam bahasa lokal, warga menyebutkan fenomena tsunami sebagai smong.

Memori kolektif masyarakat ini terus eksis melalui cerita masyarakat melalui lisan dalam bentuk dongeng pengantar tidur, atau dalam bahasa lokal Simeulue disebut nafi-nafi. Memori kolektif ini pun diperkuat melalui nyanyian-nyanyian masyarakat dengan sebutan nandong yang fungsinya tidak jauh berbeda dari nafi-nafi yakni pengantar tidur anak.

Setelah menelusuri lebih dalam, memori kolektif ini terbentuk karena terdapat satu fenomena serupa jauh sebelum tahun 2004 yang menciptakan kesedihan mendalam masyarakat Simeulue. Tsunami sebelumnya pernah terjadi juga di Simeulue pada 4 Januari 1907 dengan sebelumnya mengalami gempa berkekuatan 7.6 SR.

Fenomena smong atau tsunami ini menelan lebih dari 50% (beberapa data menyebutkan hingga 70%) korban jiwa dari masyarakat Simeulue. Kesedihan mendalam karena kejadian tersebutlah yang menjadi titik pembelajaran masyarakat untuk mencegah dampak dari smong-smong yang akan hadir di masa depan. Nafi-nafi dan nandong adalah hasil dari pembelajaran masyarakat atas pengalaman empirisnya dan sebagai upaya “sosialisasi bencana” sejak dini.

Berikut merupakan contoh nafi-nafi yang sudah ditranskrip ke dalam bahasa Inggris oleh Alfi Rahman:

“This is the story of our ancestors’ experence that happened a long time ago, around year seven. They passed this story to us for remembering what had happened in the past as a reflection.

A strong earthquake occured, and people cannot stand upright. People found the seawater was receding, and fish were floundering on the beach.

Unfortunately, many villager ran to the beach to collect the fish. The big wave came from the sea and reached the land. The older person started shouting Smong repeatedly. But, many people did not have much time to run up to the hill. We discovered that many people, buffaloes, and chickens died, and some were stuck on the top of a tree, and some stranded on the hill, which was the height of 10-15 meters.

When the big earthquake occurs, immediately observe the changing of sea water level at the beach or the river; if you find the water receding, please be in a hurry to run away from the beach. Please bring rice, sugar, light, knife, matches, and clothes. Please remember this story and pass it to the next generation”

Dan berikut merupakan contoh nandong berbahasa lokal dan transkripnya dalam bahasa Inggris oleh Alfi Rahman:

Enggelmon saocurito/ Please listen to this story
Inangma sose monan/ one day in the past
Manoknop saofano/ a village was sinking
Uwilah da sesewan/ that what have been told
Unen ne aleklinon/ starting with earthquakes
Fesang bakan ne mali/ following by giant wave
Manokrop saohampong/ whole the country was sinking
Tibo-tibo mawi/ immediately
Angalinon ne mali/ if the strong earthquake
Owek suruik sahuli/ followed by the lowering of sea water
Maheyamiha wali/ please find in hurry
Fano me sengatenggi/ a higher place
Ede semong kahanne/ it is called Smong
Turiang da nenekta/ 
a history of our ancestor
Miredemteher rere/ please always remember
Pesan navi navi da/ the message and instruction
Smong dumek-dumekno/ Smong is your bath
Linon uwak-uwakmo/ earthquakes is your swing bed
Elaik keundang-keundangmo/ thunderstorm is your music
Kilek suluk-sulukmo/ thunderlight is your lamp

Pada folklore atau cerita rakyat dalam dua bentuk tersebut, tergambar dua besar bagian pada masing-masing, yakni bagian pesan yang menggambarkan keadaan dan bagian pengetahuan tentang aksi.

Pada bagian pesan, digambarkan suasana dan ciri yang terjadi ketika smong atau tsunami akan datang. Sedangkan pada bagian pengetahuan tentang aksi, digambarkan bagaimana harus bersikap ketika masyarakat sudah melihat tanda-tanda smong akan datang, tidak hanya aksi sesaat namun mempersiapkan hingga kemungkinan terburuk seperti mengungsi berhari-hari.

Memori kolektif lokal yang sebenarnya data dan informasi mengenai tanggap bencana ini merupakan cara ampuh dalam mengantisipasi risiko dari sebuah fenomena bencana tsunami. Dari data dan informasi tersebut, masyarakat tahu mengenai risiko bencana yang akan terjadi dan bagaimana mengurangi dan terhindar dari dampaknya.

Dari data dan informasi yang sudah dikelola menjadi pengetahuan kolektif tersebutlah ketangguhan masyarakat menghadapi risiko-risiko bencana terbentuk.

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebenarnya dapat menghidupkan dari akar-rumput sosialisasi mengenai kebencanaan. Pengetahuan mengenai smong merupakan salah satu gambaran bahwa Indonesia sejak sebelum berdirinya pun sudah sering mengalami bencana sehingga masyarakat memiliki memori kolektif tentang hal tersebut.

Menghidupkan budaya yang sudah ada dalam bentuk transfer pengetahuan kebencanaan antar generasi merupakan salah satu alternatif solusi masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Pemerintah pada satu sisi-sisi tidak harus selalu “top-down” dalam merancang program penanggulangan bencana. Pemerintah dapat menghidupkan dan kembali membumikan cara-cara lokal dalam mensosialisasikan bencana, seperti melalui nafi-nafi ataupun nandong.

Manajemen risiko berbasis grass-root inilah yang diharapkan dapat mencegah dan mengurangi dampak negatif dari tragedi-tragedi seperti Tsunami Aceh, Pangandaran, Palu-Donggala maupun Banten-Lampung kemarin.

No Comments

    Leave a reply