BERAGAMA CANDU, FANTASI, DAN HALUSINASI

Agama, suatu tata aturan yang membentuk tata etika manusia dalam menjalani kehidupan. Mengkonstruksi nalar dan keimanan manusia. Membuat manusia rela mati-matian, mengorbankan jiwa dan raganya untuk membela dan memperjuangkannya.

Agama, di satu sisi menjadi pemicu utama kemajuan dan perkembangan peradaban manusia. Di sisi yang lain, kita dapati karena faktor agamalah kekacauan, peperangan, dan kerusakan mental manusia itu terjadi. Setidaknya jika kita cermati alur sejarah dari masa ke masa. Ataupun yang terjadi saat ini di berbagai lingkup kehidupan.

Orang membenci karena landasan agama, orang mengasihi juga karena landasan agama. Membunuh, mencerca, menindas, atau menyelamatkan, memaklumkan, mengadili, dan lain-lain, semua karena satu alasan, agama! Satu pihak berbuat karena ajaran agama, pihak lainnya juga berbuat karena ajaran agama.

Semua pihak berdiri di atas landasan dan ajarannya masing-masing, kendati dari kitab yang sama, atau dari ajaran agama yang mereka pelajari, atau setidaknya yang mereka terima dari “ulama-ulama, pendeta-pendeta, pastur-pastur, rabi-rabi, biksu-biksu, atau pemuka-pemuka agama” yang mereka ikuti.

Kita sulit membedakan mana ajaran yang orisinal; orisinalitas ajaran agama yang memang bersih dan murni dari segala macam ekslusivitas kelompok, mazhab atau aliran. Kristen terpecah-pecah menjadi banyak sekte. Islam pun demikian. Begitu pula agama-agama besar yang menjadi sumber tata kehidupan umat manusia di dunia.

Kristen berpendirian dengan alasan-alasan skriptualnya, bahwa mereka yang benar, yang selamat, yang kelak akan menikmati indahnya kehidupan di surga. Sementara yang lain juga demikian. Apalagi Islam, tak kalah juga perdebatannya. Sebagian kalangan telah beranggapan bahwa hanya Islamlah yang selamat, yang diridai oleh Allah swt, sementara yang lain sesat, kafir, dan akan masuk neraka jahanam! Setidaknya berdasarkan tafsiran mereka terhadap nash-nash yang mereka pelajari.

Sementara perdebatan-perdebatan itu sedang terjadi, di belahan dunia lain, dan di ruang-ruang yang berbeda, sebagian kalangan justru sedang menertawakan habis-habisan perselisihan di antara kaum agamawan. Dengan anggapan bahwa kaum agamawan itu sedang memperebutkan sesuatu yang absurd, yang ilutif, sesuatu yang diperebutkan dengan alasan-alasan halusinasi manusia yang egois semata.

Mereka berusaha mematok tanah-tanah surga, sementara mereka sendiri tidak meyakini secara jelas dan pasti. Jikalaupun mereka keukeuh meyakini dan mengimaninya, maka keyakinan dan keimanan itu berdiri di atas prasangka-prasangka semata. Mereka hanya sedang berusaha menghibur diri mereka sendiri.

Sebenarnya, pemaknaan agama yang selama ini kita pahami mesti dikonstruksi ulang, mesti diredefenisi kembali. Apakah selama ini pemaknaan kita terhadap agama dan fungsinya telah sesuai sebagaimana adanya dan mestinya, ataukah selama ini kita telah keliru dan bahkan jauh dari hakikat bergama? Ini mesti di lakukan agar kita jauh dari sifat dan sikap kerdil lagi jahil.

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah agama banyak ataukah hanya satu? Kalau banyak, maka pertanyaan selanjutnya, apakah itu keniscayaan dan kehendak dari Tuhan ataukah tidak? Jika hanya produk manusia semata, maka apa jaminannya satu agama itu benar-benar agama sehingga yang lainnya batil?

Namun jika semua agama dari Tuhan, dan hanya satu agama saja yang diridai, lalu agama yang manakah yang benar-benar diridai? Sementara semua klaim mengatakan bahwa merekalah yang diridai sedangkan yang lainnya batil! Dan klaim-klaim itu bersumber dari kitab-kitab masing-masing.

Yahudi mengklaim berdasarkan kitabnya, bahwa mereka adalah bangsa dan agama pilihan Tuhan. Kristen juga mengklaim bahwa Yesus berkata, “…barangsiapa yang ingin selamat, maka ikutilah jalanku..”

Lalu Islam pun demikian, dikatakan dalam Alquran, “Telah Kusempurnakan Islam sebagai agamamu…” Atau agama yang diridai oleh Allah hanyalah Islam, begitu seterusnya. Sehingga dengan begitu mereka mengklaim merekalah yang suci, yang mulia, sementara yang lain pendosa dan hina. Padahal dalam kitabnya, Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 49; “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”

Masing-masing mengemukakan argumen-argumennya. Karena mereka menegaskan bahwa agama mereka adalah berbeda satu dengan yang lainnya, maka dengan demikian Yahudi, Kristen dan Islam, atau bahkan juga Hindu, Budha, dan agama-agama lainnya adalah berbeda.

Jika demikian, maka di sini akan muncul masalah besar. Pertama, semua agama akan saling mendiskreditkan satu dengan yang lainnya. Kedua, mereka akan saling menegasikan. Jikapun secara lahiriah mereka tampak toleran, maka dalam hatinya mereka akan tetap menganggap yang lain batil dan kafir dan hanya mereka yang benar. Bukankah kondisi ini menggambarkan sedang terjadi kemunafikan sosial di antara pengikut-pengikutnya? Dan yang ketiga, hal ini adalah merupakan semacam bom waktu yang setiap saat akan menciptakan perang antaragama, karena klaim-klaim di atas.

Jika agama dimaknai sebagai tata aturan manusia untuk menjalani kehidupan sebagaimana adanya dan mestinya, yang dengan tata aturan itu manusia dapat berjalan di atas jalan keselamatan, maka manakah tata aturan yang lebih komplit dan sempurna untuk memberi penerang bagi perjalanan kehidupan manusia? Sebab semua pengikut agama mengklaim hanya tata aturan (agama) mereka sajalah yang benar-benar tata aturan dari Tuhan, sementara selainnya batil. Tata aturan mereka itulah jalan keselamatan, sedangkan yang lain tidak, dan hanya menuju kehancuran.

Membaca kembali Legenhausen, Hasan Qaramaliki, Amstrong, Muthahari, dan lain sebagainya yang lebih dulu mengulas seputar tema-tema agama secara luas dan mendalam, maka kita akan mendapat gambaran yang cukup jelas mengenai tema-tema seputar hal ini.

Kita, manusia, hakikatnya ingin bersatu, bersama dan hidup dalam suasana kebatinan yang harmonis, akur, dan tenteram. Seorang penjahat sekalipun ingin hidup tenang, damai, dan harmonis. Hanya saja, apakah yang mampu membuat kita bersatu, berdamai, akur, dan harmonis?

Jika alasan kita berdamai hanya karena faktor alamiah bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hakikatnya ingin bersatu, berkumpul bersama, dan menjalankan relasi di antara sesama untuk kepentingan bersama, maka untuk apa ada agama jika tanpa agama manusia bisa berdamai dan hidup dalam suasana yang harmonis?

Simbol-simbol keagamaan yang selama ini disucikan oleh tiap-tiap pengikutnya hanya mampu mempersatukan perselisihan di antara mereka saja. Ka’bah menyatukan umat Islam yang bermazhab-mazhab. Yerusalem menyatukan Kristen yang bersekte-sekte dan Yahudi yang bersuku-suku. Tetapi Ka’bah dan Yerusalem tidak mampu menyatukan umat manusia secara keseluruhan.

Lalu, apa yang mampu menyatukan umat manusia? Apa yang mampu menjadi landasan bagi persaudaraan umat manusia tanpa pandang latar belakang ras, agama, suku, dan lainnya? Adalah nilai Kemanusiaan.

Sayyidina ‘Ali RA berkata, “Manusia itu hanya ada dalam dua hal, saudaramu dalam iman, dan saudaramu dalam kemanusiaan.” Ketika membacanya, mungkin ada yang segera terbakar amarah, tersulut emosi, atau bahkan mengamuk lantaran seakan-akan kemanusiaan lebih tinggi dari agama. Padahal agama datang untuk menjaga nilai kemanusiaan, bukan kemanusiaan untuk menjaga agama. Agama untuk menghidupkan kemanusiaan, bukan membunuhnya.

Karena jika menelaah lebih dalam, persaudaraan agama hanyalah satu fase menuju persaudaraan kemanusiaan. Karena orang yang benar-benar beriman adalah yang paling tinggi sifat kemanusiaannya. Karena ketinggian kemanusiaan itu adalah pancaran sifat ilahiah yang termanifestasi dalam sikap welas asih antarsesama manusia, tanpa pandang latar belakangnya. Persis seperti yang dikatakan Gus Dur, “Menolong orang itu jangan liat apa agamanya.” Tapi menolong karena kita sesama manusia, kesatuan tunggal alam semesta.

Dengan paradigma semacam ini, dengan dasar-dasar ini, maka kita tidak lagi beragama seperti seorang pecandu, yang mau nikmat sendiri dengan kelompok atau manhaj sendiri, yang berfantasi setelah menelan pil ekstasi dogma-dogma surgawi. Atau seperti seorang pemimpi, berhalusinasi mengenai surga dan ingin merebut “73 bidadari” seorang diri. Maka marilah beragama dengan kesadaran, nalar, dan intuisi yang kokoh, yang tidak seperti agama fantasi, agama candu, apalagi agama halusinasi!

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply