Beragama dengan Cinta

Seorang yang mencintai belum tentu mendapatkan timbal balik yang sama halnya dari seorang yang merasa dicintai. Karena cinta itu berbicara dua subjek yang saling berhubungan dan saling memberi kasih dan ketergantungan nafsu untuk ditunggalkan dan dispesialkan. Membumbungnya perasaan akan kenikmatan dicintai kadang membuat kita sendiri lupa untuk mencinta.

Seorang  yang sedang mencinta dipicu oleh ketertarikannya pada keanggunan, kemolekan, dan kecantikan yang identik dengan bayangan ideal akan keutuhan pasangan. Keutuhan yang dimaksud adalah kriteria-kriteria yang dibentuk oleh keinginan dan dorongan dari nafsu untuk bisa mencinta secara maksimum.

Gambaran itu kadang ambigu dan menipu. Imajinasi yang dibentuk kadang menafikan realita-realita yang ada. Keinginan yang terlalu berhasrat sampai lupa bahwa kadang bayangan harapan itu kandas dalam benak-benak yang tersisa. Kondisi ini terjadi ketika seorang mengalami gejala mencinta namun tak dicinta atau sebaliknya.

Sedikit menarik garis dari upaya kita memahami cinta secara fair. Dalam hal ini ada hak-hak dari seorang yang sedang mencinta, kondisi ini bukan sekadar seorang yang mencinta mencurahkan cintanya saja tetapi berhak untuk merasa dicinta. Begitupun seseorang yang merasa dicinta mesti membalas cinta dari yang mencintainya. Pasifitas mencinta kadang menjadi problem orang untuk memahami makna cinta yang sebenarnya.

Cinta itu adalah bicara visi dalam menata perasaan. Karena cinta tidak sama dengan menikah, maka seyogyanya harus dipahami secara cermat. Hidup berumah tangga tidak sama dengan hidup berasmara. Komplikasi yang dijalani hidup berumah tangga itu adalah melihat posisi struktural secara kelembagaan family. Menekankan kita pada posisi bias gender yang terpola sebagai suami sebagai kepala keluarga, ibu dan anak-anak sebagai anggota keluarga.

Jika kita berbicara tentang menata asmara maka yang dipandang adalah sejoli, pasangan sekasih, penuh penghormatan atas perbedaan. Hal ini ditujukan sebagai ekspresi kedalaman cinta ketika sudah tak lagi melihat jabatan, tahta, kesukuan, serta kewajiban karena yang ada hanyalah hak untuk dicintai dan mencintai.

Seperti yang dikatakan oleh filsuf asal Jerman, Erich Fromm dalam bukunya The Art of Love, bahwa cinta adalah wujud dari kondisi untuk saling memberi. Cinta itu harus seimbang, seseorang harus mencintai untuk dapat dicintai. Karena akses dari cinta itu adalah saling memberi bukan hanya merasa paling dicintai atau orang yang berhak mencintai tanpa ada timbal balik.

Sekilas kita lihat bagaimana hiruk-pikuk yang dijalani seseorang dalam bercinta. Selepas kita tinggalkan cinta yang dimaksud tadi dan beralih pada konteks cinta pada struktur makro pada masyarakat yaitu beragama.

Sungguh jadi pertanyaan  besar berbicara struktur cinta  dalam kaitannya dengan konteks beragama. Jika agama merupakan sumber kedamaian, kebaikan dan kasih sayang, maka sudah barang tentu cinta adalah prospek utama kita dalam beragama. Orang beragama akan menimbulkan rasa cinta pada agama yang diyakininya. Maka cinta harus bisa menjadi inti umat beragama dalam bertindak laku sebagai penganut agama.

Namun dalam melihat konteks agama kita kadang tak pernah vis a vis dalam menjalani keberagamaan. Kita beragama kadang masih menimbulkan kontradiksi antara Tuhan dan Manusia dalam menciptakan hubungannya sebagai kesatuan. Dalam persepsi yang keliru kadang seorang yang menjadi hamba Tuhan, malah kehilangan sisi kemanusiaannya. Membela Tuhan namun sekaligus jadi pembela nafsunya yang malah menjadikannya pembuat onar ditengah masyarakat.

Menghadirkan cinta dalam beragama ini yang justru tak pernah disadari oleh Agamawan. Dengan beragama seharusnya seseorang menjadi penumbuh rasa cinta antar sesama. Dengan kita mencintai agama yang kita yakini seharusnya menjadi wujud dari loyalitas atau komitmen kita membela kedamaian. Adapun dicintai oleh agama yang kita yakini berarti memberi pemahaman kepada seseorang akan whole systemkehidupan. Wujud dari cinta ini bukan jatuh pada fanatisme buta, melainkan  timbul kesepahaman antara dalil teologis dan argumentasi rasional.

Seorang agaman mestilah memahami betul ajaran-ajaran inti dari agamanya. Karena hanya dengannya lah cinta untuk meyakini agamanya itu bisa tumbuh dengan sehat. Kejadian-kejadian yang  meliputi tragedi keagamaan yang berkembang hari ini disebabkan kesalahan kita dalam memahami inti ajaran agama yang ada. Dengan pola pemahaman yang dogmatis kerap kali menimbulkan ciri beragama yang penuh prasangka curiga.

Kembali menalar beragama yang sehat adalah dengan mencari , berkelana di samudra ilmu bukan menjadi penerima tanpa usaha. Beragama itu simple namun ketika tidak dibarengi dengan keikhlasan mencari keberanian maka yang ada adalah kesemrawutan. Mencintai agama tertentu bukan berarti menjadikan kita tertutup dengan yang lainnya. Dicintai agama bukan menjadikan kita menjadi orang paling benar di mata Tuhan. Tapi dengan mencintai dan dicintai agama yang kita yakini dia menjadikan seseorang menjadi manusia yang paripurna.

Manusia paripurna disini adalah dia yang menjadikan agama sebagai cara dia menebar kebaikan dan menjadi teladan ditengah masyarakat. Menimbulkan kesadaran akan cinta universal yang terjalin lewat hubungan Tuhan manusia dan alam. Kesemuanya berelasi atas nama cinta, sehingga keteraturan alam, kesempurnaan akan Budi manusia dan ke Mana Kuasa Tuhan kehendak cinta itu menjadi pengikat semuanya

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply