Berdoa tapi Tersesat

Rachmat Hidayat*

Pemahaman tentang jawaban atas doa-doamu

Berbicara tentang doa selalu mengingatkan saya pada sebuah kisah yang pernah saya dengar di film. Saya lupa judul filmnya, tapi kurang lebih seperti inilah ceritanya.

Suatu malam di lautan yang luas, sebuah kapal karam terterjang ombak. Ada seorang pelautnya yang terombang-ambing ke sana-ke mari. Di saat tenaganya sudah mulai menipis dan putus asa, ia berdoa pada Tuhan.

Dengan penuh iman dan kepasrahan ia berdoa, “Tuhan, tolong selamatkan saya.” Singkat tapi penuh keyakinan. Tak lama kemudian sebuah kapal datang. Seorang dari dalam kapal menawari akan melemparkan pelampung untuk menolongnya. Tapi ia menolak, dengan keyakinan penuh ia berkata, “Tak perlu repot tuan, Tuhan akan menolong saya.” Lalu kapal itu pergi.

Kemudian selang beberapa saat kapal kedua dan ketiga datang, tapi pelaut yang nyaris tenggelam itu terus menolaknya sembari penuh keyakinan bahwa pertolongan akan datang dari Tuhan. Karena sudah kehabisan tenaga, akhirnya pelaut malang itu meninggal, tenggelam.

Setibanya di surga dia protes, “Tuhan, kurang apa aku ini? Kenapa Kau tak juga menolongku dan membiarkan aku tenggelam?” Lalu Tuhan dengan sedikit murka menjawab, “Sudah ku kirimkan tiga buah kapal untuk menjemputmu tapi bodohnya kau menolak mereka semua.”

Hikmah dari cerita itu menyadarkan saya dari pengalaman yang saya alami dulu. Pengalaman ini hampir mirip secara konteksnya. Kejadian itu bermula pada saat saya mulai merasa ketakutan ketika hendak menghadapi ujian nasional yang menentukan “hidup-mati” siswa SMA di kala itu.

Tahun 2008 tepatnya ketika saya dan beberapa teman mulai merasakan keraguan dalam mengerjakan ujian nasional nantinya. Seingat saya tahun itu adalah percobaan pertama mata pelajaran IPA (fisika, kimia dan biologi) diikutsertakan dalam UN. Dan sialnya, kami baru mengetahui keputusan itu saat kelas 12.

Terlambat, kami tak akan mampu mempelajari kembali materi-materi IPA dari kelas satu. Kami yang terlambat mengetahui informasi itu tak pernah melakukan persiapan dan benar-benar serius untuk mempelajari pelajaran IPA sejak awal kelas 10. Pikir kami, buat apa terlalu over mempelajari pelajaran yang tidak diujikan di UN.

Kami sudah putus asa, sudah merasa bahwa kami tak akan bisa lulus ujian dengan cara biasa. Di tengah pupusnya harapan, kami sadar kami masih punya Tuhan. Maka dari itu kami mulai berdoa, istighosah dan meningkatkan kegiatan ibadah. Kami sadar tak ada yang bisa menolong kami kecuali Dia.

Beberapa bapak-ibu guru yang memahami kondisi kami mencoba untuk menyemangati. Salah satunya seingat saya adalah pak Sam. Setiap bertemu kami, beliau selalu berpesan agar kami terus belajar dan belajar. Namun bukannya senang dengan wejangan itu, kami malah marah, dongkol.

Menurut kami, pak Sam itu guru yang tidak peka. Dia tak pernah mengerti bahwa kami ini sudah lelah belajar. Otak kami sudah terlalu penat digunakan untuk berpikir atau mengerjakan latihan-latihan soal. Enak saja beliau bilang belajar dan belajar. Kami saat itu menganggap belajar tak akan banyak mempengaruhi hasil akhir ujian. Hanya Tuhan-lah yang bisa menolong.

Pada akhirnya tibalah waktu ujian. Di tengah jantung kami yang dipenuhi kekhawatiran, kami mendapat pertolongan. Ini dia, ini yang kami tunggu. Seorang teman bak malaikat datang membawa harapan, secarik kertas yang berisi kunci jawaban. Dengan penuh raya syukur saat itu kami langsung menyalinnya. Tuhan benar-benar hadir dan memberi pertolongan. Kunci jawaban yang datang saat itu terasa seperti sebuah keajaiban.

Kemudian selang satu bulan pengumuman kelulusan datang. Kami semua dinyatakan lulus. Tentu kegembiraan meliputi kami semua. Kami bersyukur pada Tuhan atas pertolongannya. Saya tak pernah benar-benar tahu kalau ketika itu saya tersesat.

Sampai pada ketika saya dewasa dan mulai merenungkan kejadian itu. Saya mulai bertanya-tanya, benarkah yang datang saat itu adalah pertolongan Tuhan? Apakah Tuhan menolong kami dengan cara-cara curang seperti itu? Tidak, jelas tidak, pasti ada yang salah.

Saya akhirnya memahami saat itu kami tersesat dalam memaknai dan memahami jawaban atas doa-doa kami. Ada yang salah saat kami berharap atas jawaban dari doa yang kami panjatkan.

Sama seperti cerita saya di awal tulisan ini. Saya bisa membayangkan, misalnya saya dapat bertanya pada Tuhan, “Oh Tuhan, benarkah kunci jawaban itu adalah pertolongan yang kau berikan?” Dan mungkin Tuhan akan menjawab dengan sedikit geram, “Jelas bukan, ndul. Telah aku kirimkan hamba-Ku, dia adalah gurumu, pak Sam. Ku perintahkan agar dia terus mengingatkanmu agar engkau tak menyerah dalam belajar, tapi kau malah memusuhinya.”

Saya menyesal, saat itu kami abai terhadap pertolongan Tuhan yang sangat nyata melalui pak Sam. Kami justru mengharap keajaiban-keajaiban yang akan menolong kami dengan instan, seperti kunci jawaban. Dan seperti itulah dulu saya kebanyakan berharap pada doa-doa saya.

Kita sering kali berdoa dan mengharapkan keajaiban. Dan mengabaikan pertolongan Tuhan yang nyata. Sering kali Tuhan menolong kita dengan memberikan kita akal yang cerdas, tenaga yang kuat dan hati yang teguh sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Dan sayangnya kita sering mengabaikan pertolongan dalam bentuk tersebut. Kita malah sering terperosok ke dalam cara-cara instan dari bujuk rayu setan yang sering kali kita anggap keajaiban dan keberuntungan.

Tuhan memang maha kuasa untuk menciptakan keajaiban. Dan banyak dari keajaiban-keajaiban itu nyata di sekitar kita. Keajaiban nafas kita, akal yang hanya ada pada manusia, keimanan yang diteguhkan dalam hati adalah keajaiban nyata yang perlu kita sadari dan syukuri.

Rachmat Hidayat*

http://www.qureta.com/post/berdoa-tapi-tersesat

No Comments

    Leave a reply