Buah yang Jatuh Jauh dari Pohonnya

Sewaktu masih duduk di bangku sekolah, mungkin kita pernah mendengar sebuah kalimat pepatah yang berbunyi: buah jatuh tak jauh dari pohonnya, yang maksudnya bisa saja ditafsirkan dengan sangat luas. Misalnya, keadaan seorang anak yang tidak akan jauh beda dengan kondisi orang tuanya, pengetahuan seorang murid yang memiliki kemiripan dari apa yang pernah diajarkan oleh gurunya, dan lain sebagainya.

Inti dari penafsiran ini adalah berkaitan dengan miripnya sebuah keadaan karena adanya faktor hubungan antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Hal ini merupakan sebuah gambaran yang biasa digunakan oleh seseorang untuk menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan sebuah keadaan tertentu, lazimnya harus dipengaruhi oleh adanya hubungan dengan pihak lainnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi kita, jika kita mengamati kondisi alam sekitar, kita akan mendapati beberapa benda yang terjatuh tidak jauh dari tempat asalnya. Dedaunan jatuh tak jauh dari ranting pohonnya, buah jatuh tak jauh dari tangkainya, dan seterusnya.

Kondisi itu akan terus terjadi kecuali ada faktor-faktor lain yang berpotensi merubahnya. Misalnya, karena ia tertiup angin, dibawa oleh hewan liar, hanyut dibawa arus sungai, dan semacamnya. Dan manakala faktor lain ini muncul, maka potensi terjadinya dugaan dasar ini bisa menjadi tidak berlaku lagi. Sebab, ia bisa saja akan terjatuh jauh dari tempat asalnya.

Kembali pada penafsiran buah yang jatuh dari pohonnya tadi, saya hendak membawanya pada keadaan saya sendiri. Saya hendak membandingkan kemampuan saya dengan kemampuan orang tua saya yang seharusnya dapat saya miliki. Dalam hal ini, secara khusus, adalah kemampuan bapak saya.

Di desa saya, telah banyak orang yang tahu bahwa bapak saya adalah seorang ahli dalam memperbaiki mesin diesel. Mesin diesel yang biasa diperbaiki oleh bapak saya adalah mesin yang biasanya digunakan oleh para petani untuk mengairi tanaman di sawah.

Selain itu, beliau sering mendapat panggilan dari orang-orang yang membutuhkan jasanya. Baik itu untuk memperbaiki diesel sawah, diesel mesin pabrik, kereta odong-odong, bapak saya selalu siap untuk memperbaikinya.

Sejak kecil, saya biasa melihat beliau memperbaiki mesin diesel ini. Terkadang beliau memperbaikinya di rumah pemiliknya, dan sekali waktu, beliau juga memperbaikinya di rumah sendiri. Dalam hal ini, saya melihat beliau sangat telaten dalam menekuni pekerjaannya. Mungkin itulah yang menjadi passion beliau sejak remaja.

Saya sering mendapati beliau bekerja seakan tak kenal waktu, baik siang atau pun malam. Tenaga beliau seakan tak ada habisnya untuk memperbaiki diesel dari para pelanggannya itu. Biasanya, beliau akan saya jumpai di rumah menjelang saat-saat sholat fardhu dan pada saat malam hari. Itulah waktu-waktu beliau untuk keluarga dan tetangga sekitarnya.

Pada waktu-waktu tertentu, saya sering melihat beliau melakukan pekerjaan perbaikan ini hingga malam hari. Beliau bekerja dengan tekun dengan ditemani lampu dop yang sangat terang. Mungkin seterang itulah pikiran dan hati beliau selama bekerja.

Salah satu pelajaran tentang transparansi yang saya peroleh dari beliau adalah beliau biasa meminta pelanggannya untuk berbelanja sendiri onderdil diesel di toko spare part-nya. Bahkan, jika pelanggannya itu masih bingung dengan detail onderdil yang perlu diganti, biasanya beliau juga akan ikut mengantarkan ke toko. Dengan demikian, pelanggan bapak pun akan tahun berapa nilai belanja mereka secara langsung dari tokonya.

Namun, sungguh aneh. Kemampuan memperbaiki mesin diesel ini tidak menurun sedikit pun pada saya. Jangankan untuk memperbaikinya, bahkan untuk sekadar mengenal nama bagiannya pun saya tidak paham.

Yang saya tahu, mungkin hanyalah slenger. Ya. Alat untuk menghidupkan mesin diesel itu. Dan selebihnya saya tidak tahu sama sekali. Saya benar-benar tidak mewarisi sedikit pun kemampuan ilmu montir diesel dari bapak saya. Ibaratnya, saya adalah buah yang jatuh jauh dari pohonnya.

Entah, faktor apa yang telah menjauhkan kemampuan saya dari kemampuan bapak saya ini. Mungkin saja, saya telah dibawa terbang oleh burung peradaban yang bernama pendidikan. Burung itu telah mematuki saya, mencengkram saya, dan membawa saya terbang jauh dari pohon pengetahuan montir yang seharusnya akrab dalam kehidupan saya.

Saya menyesalinya? Bisa iya, bisa tidak. Iya, karena saya telah kehilangan peluang untuk mendapatkan sebuah ilmu dan keahlian, yang seharusnya dengan mudah dan murahnya saya dapatkan. Tidak, sebab barangkali dengan tidak adanya ilmu dan keahlian di bidang montir ini, saya berbaik sangka, akan ada kemampuan lain yang masih bisa saya dapatkan.

Misalnya saja, barangkali dengan tidak menjadi montir ini saya masih berkesempatan menjadi seorang penulis, pedagang, pengajar atau menekuni profesi yang lainnya.

Buah tetaplah buah, mangga tetaplah mangga. Seberapa pun jauh ia terlempar, maka ia akan berpotensi tumbuh mewarisi sifat induknya. Tak mungkin mangga berubah menjadi durian atau buah lainnya, kecuali ada yang mengganti pohon dan benihnya.

Apakah ini berarti saya berpeluang memperbaiki mesin diesel? Kenapa tidak? Semuanya tidak akan pernah tahu jika tidak pernah belajar dan mencoba. Rupanya itulah masalah saya selama ini. Saya tidak pernah belajar lebih giat dan mencoba mempraktikkan teknik memperbaiki diesel yang benar dari ahlinya, secara langsung.

Atau kalau boleh meminjam istilahnya Pak Gundul, saya tidak belajar dari sang ahlinya ahli, intinya inti, core of the core. Beliaulah pakar diesel dari bangku pendidikan yang bernama alam. Beliau mempelajari teknik ini secara otodidak dan mungkin sebagian dari kawannya yang lebih dahulu berpengalaman.

Pernah suatu kali saya melihat buku panduan untuk memperbaiki diesel milik beliau yang tertulis dengan bahasa Inggris. Beberapa halaman saya membacanya, kepala saya mulai pusing, mungkin karena terlalu sesak terjejali oleh tugas-tugas pelajaran yang juga menuntut saya agar lekas paham. Saya menyesalinya? Sama sekali tidak, sebab belajar merupakan proses yang harus siapa saja dalam kehidupan.

Saya hanya berharap semoga buah pengetahuan yang telah terhempas jauh dari pohonnya itu akan tumbuh kembali menjadi benih pengetahuan yang baru. Dimana dari benih itu akan menjadi pohon yang berbuah lebat yang memberi manfaat di tempat lainnya.

Semoga saja buah yang terlempar begitu jauh dari pohonnya itu dapat bersesuaian dengan habitat tanahnya yang baru sehingga ia dapat tumbuh dengan sempurna. Dan buah pun tidak akan lupa untuk berdoa, semoga pohon induknya itu senantiasa diberikan ketegaran, kesehatan, dan umur yang panjang.

Muhammad Adib Mawardi

Sumber: https://www.qureta.com/next/post/buah-yang-jatuh-jauh-dari-pohonnya

No Comments

    Leave a reply