Cari Kebaikan Sebelum Terlambat

Manusia pada sejatinya akan mati. Ketika kita telah mati apa yang kita bawa setelah kematian? Tentu bukan harta. Yang dibawa adalah semua hasil yang telah kita perbuat selama di dunia. Namun, saya terlebih dahulu akan membahas lebih ringkas mengenai perbuatan yang baik dan buruk di mata hukum manusia (peraturan undang–undang) dan juga di mata agama.

Suatu hukum dibuat oleh pemerintah tujuannya untuk membentuk manusia yang baik. Tujuan lainnya yaitu menciptakan keadilan dan kesejahteraan. Jika melanggar hukum maka perbuatan itu dapat diasumsikan buruk. Contohnya seseorang yang membunuh kawannya. Dalam undang-undang membunuh jelas merupakan suatu pelanggaran hukum, maka dapat disimpulkan tindakan pembunuhan merupakan tindakan yang buruk.

Aturan yang telah dituliskan dalam undang- undang berasal dari niai-nilai yang hidup di masyarakat khususnya agama. Misal tindakan pembunuhan tadi merupakan tindakan yang melawan hukum. Dalam perspektif agama tindakan pembunuhan juga dilarang oleh seluruh agama di Indonesia.

Mengapa tindakan pembunuhan melanggar perintah yang ada dalam agama? Agama di buat agar hidup manusia menjadi lebih baik dari pada saat ini. Agama merupakan salah satu sarana agar hidup manusia menjadi terarah dan mempunyai tujuan. Di dalam agama, ada beberapa perintah yang telah di atur oleh para nabi pada zaman dahulu, misalnya agama Islam. Agama Islam telah memiliki pedoman Al-Quran sebagai dasar hidup beriman masyarakat Muslim.

Di dalam Al-Quran terdapat perintah-perintah Nabi Muhammad SAW yang telah di wariskan turun temurun sehingga menjadi suatu kebenaran iman. Tujuan di berikannya perintah adalah agar manusia memiliki hidup yang tenteram dan damai. Manusia diharapkan nantinya mempunyai bekal setelah kematian dengan melaksanakan perintah yang telah di percayai. Saya yakin, semua agama mengajarkan manusia untuk memiliki tujuan dan arah hidup yang lebih baik.

Jika didalam agama perintah dan pedoman merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidup manusia, maka manusia juga tidak bisa lepas dari akal budi dan hati nuraninya. Setiap manusia dilahirkan menjadi makhluk yang “sempurna” dibanding dengan makhluk lainnya yaitu memiliki akal budi dan hati nurani.

Hati nurani merupakan tanda bagi manusia untuk memutuskan segala keputusannya sesuai dengan kehendaknya. Jika di dalam agama, hati nurani adalah sebagai sarana untuk komunikasi antara Tuhan dengan manusia, agar manusia tetap hidup di jalan yang benar. Hati nurani menjadi tujuan agar manusia menjadi baik di hadapan sesamanya. Jika tidak ada hati nurani pada manusia, mungkin manusia akan sama dengan hewan.

Akhir-akhir ini, banyak peristiwa mengenai pembunuhan sadis yang terjadi di tanah air. Ada pembunuhan satu keluarga di Bekasi, ada juga pembunuhan yang jenazahnya dimasukkan ke dalam tong dan lemari kamar. Saya hanya berpikir, apakah pelaku pembunuhan tidak memiliki hati nurani? Tidak. Pelaku pembunuhan masih memiliki hati nurani.

Namun, hati nurani di dalam dirinya telah ”mati” dan “buta”. Ia telah melanggar perintah agama, dan peraturan undang–undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah.Penyebab utama yang sering dijadikan motif pelaku melakukan pembunuhan yaitu sakit hati terhadap seseorang. Ia dengan rasa “sakit hatinya” tega membunuh sesamanya dengan keji. Memang, barangkali di zaman modern ini, nyawa bukan lagi menjadi barang berharga lagi.

Menyikapi peristiwa ini, kita semua patut berefleksi. Sebagai manusia yang beragama dan beriman, tentu manusia akan berfikir seratus kali untuk melakukan tindakan itu. Kita mengharapkan kedepannya manusia memiliki tujuan akhir hidup yaitu kebaikan. Dalam setahun sekali misalnya, umat Muslim merayakan Idul Fitri sebagai salah satu sarana untuk bersilahturami dengan sesamanya, dengan itu kita diajarkan untuk memiliki rasa kasih dan menjalin persaudaraan diantara sesama.

Dengan demikian, menjadi manusia yang benar-benar baik tentu tidak mudah. Manusia akan mengalami banyak kesulitan-kesulitan. Iri hati, sakit hati merupakan salah satu hambatan untuk hidup menjadi manusia yang baik. Dari semua kesulitan yang ada, niscaya Tuhan akan membantu manusia untuk lepas dari kesulitan yang dihadapinya.

Cepat atau lambat, manusia akan kembali kepada Yang Ilahi. Maka, mulailah dari saat ini membenahi diri, dan menjaga hati agar manusia tidak larut dalam iri hati dan sakit hati. Ingatlah, Tuhan akan mencatat semua kebaikan dan kejahatan yang manusia lakukan selama di dunia. Hakim yang paling adil yaitu Tuhan sendiri.

Kita mati tidak membawa anak, istri, maupun orang tua. Kita hanya membawa segala kebaikan yang telah kita perbuat semasa kita masih hidup di dunia. Kita hanya bisa bertindak baik dan berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mampu mengampuni kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply