CORAK PENAFSIRAN AL-QUR’AN ALIRAN KHAWARIJ DALAM MASYARAKAT AWAM

Secara historis umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan (aliran), yaitu golongan Khawarij, golongan Syiah (Ali), dan golongan Muawiyah. Perpecahan tersebut sangatlah bepengaruh pada penafsiran mereka terhadap teks Al-Qur’an yang cenderung memihak serta menguatkan golongannya sendiri. Golongan khawarij yang terbentuk pada masa kekhalifahan Ali r.a menafsirkan Al-Qur’an dengan gaya atau corak mereka yang pastilah lebih mendukung pemikiran dan argumentasi mereka itu sendiri.

Dalam aspek penafsirannya terhadap ayat Al-Qur’an khawarij tidak memiliki kedalaman ilmu tentang takwil, tetapi mereka hanya terhenti dan terbatas kepada tataran lafziyah saja. Dalam hal ini sangatlah berkaitan dengan keadaan masyarakat awam. Mereka menafsirkan Al-Qur’an secara lafziyah saja atau secara apa yang tertulis dalam Al-Qur’an itu sendiri. Contoh dalam masyarakat terdapat penafsiran surah yusuf dan surah maryam serta penafsiran yang berkaitan dengan aksi damai 212.

Sebagian masayarakat awam beranggapan bahwa jika ingin mempunyai anak yang cantik atau tampan, maka dianjurkan kepada sang ibu agar senantiasa membiasakan diri membaca surah Yusuf dan Maryam selama masa mengandung. Fenomena seperti tadi adalah sebuah contoh kekeliruan penafsiran terhadap Al-Qur’an. Dalam hadits tidak pernah disebutkan perihal anjuran agar membaca surah Maryam dan Yusuf bagi ibu hamil yang menginginkan anaknya terlahir dengan paras cantik atau tampan.

Maka dengan hal tersebut tadi dapat dikatakan bahwa pembacaan surah Maryam dan Yusuf bagi ibu hamil adalah suatu bentuk kesalahan dalam penafsiran maksud dari suatu surah yang ada dalam Al-Qur’an karena tidak berdasar kepada sumber agama, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw.

Kalangan teroris yang menyatakan bahwa jihad mereka adalah bagian dari ajaran Islam dalam melakukan aksi terornya juga berdalil dengan satu ayat Al-Qur’an di surah at-Taubah yang artinya, “apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka…”(at-Taubah: 5).

Pada ayat diatas, jika kita salah tafsir atau hanya membacanya sepotong saja, maka akan menimbulkan kekeliruan yang berdampak pada permusuhan antar umat beragama. Bayangkan saja jika setiap orang Islam salah menafsirkan ayat ini, maka ketika mereka bertemu dengan orang-orang musyrik atau non muslim akan terjadi pembunuhan diakibatkan salah menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 32  berbunyi, “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Allah melarang melakukan pembunuhan, karena jika seseorang membunuh seorang temannya yang berbeda agama, maka seakan ia telah membunuh seluruh manusia.

Contoh lain ketika terjadi aksi damai 212 yang terjadi 2 tahun yang lalu. Banyak bermunculan penafsiran awam dikalangan masyarakat yang pro dan kontra  terhadap aksi tersebut. Kalangan pro menafsirkan bahwa aksi damai 212 itu seperti yang tergambar dalam surah al-Baqarah ayat 212 yang artinya, “kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.

Mereka beranggapan bahwa ayat tadi berkaitan dan menggambarkan keadaan mereka yang sedang melakukan aksi pada saat itu yang pesertanya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Saat itu para peserta mendapatkan berbagai macam rezeki berupa makanan ataupun minuman gratis dari para masyarakat di sepanjang jalan menuju tempat aksi tersebut.

Lain halnya dengan kalangan kontra terhadap aksi tersebut. Mereka mengaitkan angka 212 dengan Al-Qur’an dengan cara menjadikan angka 2 sebagai urutan surah, yaitu surah al-Baqarah dan angka 12 sebagai ayat yang akan dikaji pada surah al-Baqarah tersebut. Jika dibuka surah al-Baqarah ayat 12 akan didapati arti ayat ini, yaitu “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. Ayat tadi menjadi dasar bagi kalangan kontra untuk mencela dan melarang orang-orang dikelompok mereka mengikuti aksi tersebut.

Dapat disimpulkan dari beberapa contoh tadi sangatlah berkesesuaian dengan cara aliran Khawarij dalam menafsirkan Al-Qur’an yang hanya tekstual saja dan tanpa menggunakan ilmu yang mendalam. Dari contoh fenomena tadi, dapat disimpulkan bahwa keadaan masyarakat kita hari ini dalam penafsiran Al-Qur’an adalah hanya sebatas teks saja dan sebatas apa yang telah ada di masyarakat pada umumnya yang dalam kata lain dapat dikatakan bahwa mayoritas mereka keliru dalam menafsiran Al-Qur’an.

Solusi untuk mengatasi kekeliruan penafsiran ini ialah dengan memberikan pemahaman yang benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw. Serta mengajarkan beberapa disiplin ilmu yang mendukung untuk menafsirkan Al-Qur’an bagi yang memiliki kepahaman tentang hal tersebut agar masyarakat tidak keliru dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply