Dari Fanatik ke Fundamental

Terlebih dahulu penting untuk mengulas pengertian dua istilah fanatik dan fundamental. Fanatik atau fanatisme adalah sikap terlampau kuat memegang keyakinan sehingga sulit menerima unsur-unsur ajaran atau pandangan baru. Beberapa orang mengatakan tak apalah kita fanatik terhadap golongan tertentu atau ideologi tertentu, yang penting terbuka pada orang lain.

Kedua, fundamental asalnya fundamen yang artinya pokok, dasar atau inti. Istilah ini awalnya disematkan kepada golongan yang menolak reinterpretasi bibel dengan maksud melestarikan ajaran pokok kepercayaan. Bisa dikatakan sikap fundamental adalah sikap berpegang  teguh pada ajaran pokok. Kemudian istilah ini diasosikan kepada orang-orang yang memiliki pemahaman tekstualis-literalis atas teks keagamaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang seseorang tak sadarkan diri dalam memposisikan diri. Seseorang cenderung fanatik ketika bernaung di bawah satu lembaga atau ormas tertentu. Sikap ini membawa kecenderungan mempertahankan anutannya dan menolak hal-hal luar yang berseberangan. Bahkan tak jarang sikap ini menggiring seseorang untuk mencela dan menjatuhkan orang yang berada di luar komunitasnya.

Sikap fanatik yang berlebihan akan mengarahkan seseorang bersikap fundamental. Orang yang fanatik dalam memahami ajaran hasil formalisasi dari ormas keagamaan tertentu akan ikut tergiring pada sikap fundamental jika tak sadarkan diri. Bukan esensi ajaran keagamaan yang ingin diperjuangkan, tetapi sebatas formalitas ajaran yang berdasarkan ormas keagamaan yang dianut.

Mereka akan sangat terganggu jika format ini terusik. Jika demikian, caci-maki, celaan dan tindakan anarkis pun tak bisa dihindarkan. Hal inilah yang membuat orang fanatik yang berlebihan akan tak sadarkan diri dan menggiring dirinya menjadi orang fundamental, menolak dan menyalahkan pendapat orang lain.

Persoalan kegigihan untuk menunjukkan identitas masing-masing adalah hal yang wajar. Namun, sikap menutup diri kepada orang yang berbeda ormas keagamaan menjadikan mereka sama dengan orang fundamentalis yang tidak toleran. Bahkan ada kecenderungan mengakui keberadaan dan menunjukkan sikap menghargai penganut ormas keagamaan yang lain lebih sulit dibanding penganut agama lain.

Mengasosiasikan diri kepada ormas keagamaan tertentu atau tidak sama sekali adalah sebuah pilihan. Bagi yang memilih berafiliasi tentu hal baik karena punya wadah untuk mengekspresikan semangat keagamaannya. Begitu juga, tak berafiliasi ke ormas keagamaan tidak serta merta buruk. Bisa jadi itu membuatnya lebih terbuka, lebih mudah berlapang dada kepada semua orang, tak mudah tersinggung atau kebakaran jenggot dan jujur menerima kebenaran dari siapa pun.

Maka, persoalannya bukan pada sikap memilih bergabung atau tidak, tetapi pada kedewasaan mengekspresikan rasa keberagamaan tanpa fanatik berlebihan.

Saya kira bangsa Indonesia sudah cukup berpengalaman dalam hal keragaman kepercayaan dan toleransi antar agama. Sebelum Indonesia lahir, tanah leluhur kita telah didiami berbagai agama samawi ataupun non-samawi. Itu artinya silsilah genealogi ke ke belakang entah urutan ke berapa, para leluhur kita sangat beragam dalam menganut kepercayaan; animisme, dinamisme, politisme, menoteisme dan sebagainya.

Genetik toleransi yang diwariskan harusnya sudah tergambar dalam sikap masyarakat bangsa Indonesia sekarang. Hal yang perlu diwaspadai sekarang adalah bukan kegaduhan antara agama yang berbeda, tetapi antar ormas keagamaan dalam agama yang sama.

Mengapa demikian? Saya kira salah satu pemicunya adalah kontestasi. Girah kontestasi untuk menunjukkan identitas lebih memanas dalam perseturuan antar ormas keagamaan dibanding antar agama. Persaingan perebutan wacana dan promosi konsep lebih terasa. Jargon keagamaan kadang hanya sebagai baju untuk menarik simpati. Esensi ajaran Islam sama sekali bukan proritas utama, karena terjebak pada kefanatikan ormas keagamaan secara berlebihan.

Maka sikap yang seharusnya diambil adalah kesadaran bersama untuk fokus kepada visi yang lebih jauh ke depan. Persoalan perbedaan ormas keagamaan bukanlah pertentangan, tetapi harusnya menjadi perbedaan yang mewarnai keindahan keragaman bangsa ini. Bentuk pengamalan ajaran tidak harus dibawa kemana-mana untuk dipaksakan ke orang lain.

Cukup diamalkan dalam komunitasnya dengan tetap terbuka saling membangun dalam ibadah sosial yang berguna bagi kehidupan bersama. Sekian.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply