De Grooten Boeng, dari Songkok sampai al-Azhar

Bung.. bung.. Hei Bung!

Bung, panggilan yang kini mulai banyak dipakai lagi dalam perbincangan. Di layar kaca, beberapa politisi menyapa rekan debatnya dengan Bung, Bung A, Bung B, yang mengingatkan kita pada catatan di banyak buku lawas yang bercerita tentang sejarah orang-orang dulu.

Dalam buku dan catatan sejarah, kita mengenal nama-nama seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Bung Sjahrir, dan banyak lagi nama pahlawan atau tokoh lain yang dikenal dengan nama sapaannya, sapaan yang juga akrab kita dengar di film-film Indonesia keluaraan tahun 70-80an.

Dari sapaan atau panggilan Bung dari tokoh-tokoh di atas, kita tahu ada beberapa tambahan nama yang disandingkan dengan kata Bung, seperti Bung Kecil untuk menyebut Sutan Sjahrir, lalu Bung Besar untuk menyebut Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia itu. Hal ini berhubungan dengan sosok yang menjadi objek dari sapaan itu. Orang Belanda atau orang asing pada zaman itu juga ikut-ikutan menggunakan panggilan yang sama.

Dalam sejarah Indonesia, setidaknya ada dua nama yang mendapat julukan De Grooten Boeng yang artinya Bung Besar. Nama pertama adalah F.H. de Hoog. Namanya disebut dalam De Communistische Beweging in Nederlandsch- Indie karya Petrus Blumberger, buku pertama yang menulis tentang gerakan komunis di Hindia-Belanda.

Blumberger lebih memilih F.H. de Hoog, bukan tokoh lainnya seperti Douwes Dekker atau yang lain, yang disebutnya sebagai tokoh kaum Indo, yang masuk dalam IEV (Indo-Europeesch Verbond), organisasi kaum indo yang diperhitungkan saat itu. De Hoog dipilih sebab ia disebut berhasil dalam kariernya, dari seorang klerk menjadi pegawai tinggi di Jawatan Kereta-api. Hal semacam ini menjadi pertimbangan yang berbobot ditinjau dalam pergerakan zaman itu, pergerakan komunisme. Karena alasan itu, de Hoog menerima gelar De Grooten Boeng atau Bung Besar dari kaumnya.

Dalam karyanya, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, P. Swantoro menyinggung tentang de Hoog, meski memang tidak sampai jauh menjelaskan ujung dari nasib de Hoog selanjutnya. Ia hanya menjelaskan sedikit saja dalam ulasannya mengenai karya Pertus Blumberger.

Selain de Hooq, ada tokoh lainnya yang juga dipanggil dengan De Grooten Boeng. Orang itu adalah Ir. Soekarno, yang memiliki tapak jejak heroik yang hampir serupa jika kita berbicara mengenai sejarah perjuangan kemanusiaan dan kemerdekaan untuk orang banyak. De Grooten Boeng yang kali ini orang Jawa totok yang keras kepala juga dalam soal memperjuangkan nasib rakyat kecil.

Dalam tulisan ini, saya tidak membahas De Grooten Boeng Soekarno dalam soal lain, seperti kekuasaan atau politik. Saya akan membicarakannya dalam kapasitasnya sebagai seorang agamis-nasionalis yang berjuang dan menjalankan kewajiban agamanya, sekaligus berjuang untuk negaranya.

Ozi D. Prabaswara menulis banyak cerita pengalaman De Grooten Boeng dalam bukunya, Para Penjaga Terakhir Bung Karno, Biografi, Perjuangan, Kesaksian, dan Loyalitas Mereka pada Bung Karno. Ozi dalam bukunya itu menyebut sisi lain dari De Grooten Boeng, yaitu cerita kedekatan Bung Besar dengan orang-orang penting di sekelilingnya, seperti kedekatannya dengan Bung Hatta, Dr. Johannes Leimena, Chaerul Saleh, Ali Sadikin, Omar Dani, Dr. Subandrio, Ni Luh Putu Sugianitri, Njoto, Oei Tjoe Tat, Umar Said, dan Ngatimin.

Dalam bukunya itu, ada satu catatan Ozi D. yang menarik, bercerita mengenai Bung Besar yang menjadi ‘calo’ perkawinan antara seorang gadis bernama Rahmi dengan kawan dekatnya, kawan paling penting dalam sejarah hidupnya, yaitu Bung Hatta.

Soal Bung Karno, saya masih ingat cerita ibu saya waktu ia berangkat haji tahun 1991 silam. Ia bangga sekali menceritakan pengalamannya mengenai rasa hormat warga negara Arab kepada De Grooten Boeng Sukarno. Ia bercerita bahwa di antara jasa De Grooten Boeng Karno di Arab Saudi adalah usulannya kepada Raja Arab Saudi supaya menanam pohon di wilayah padang Arafah, padang gersang yang menjadi lokasi ibadah wukuf jamaah haji.

Usulan itu diterima Raja Arab. Jenis pohon yang diusulkan De Grooten Boeng sampai sekarang masih bisa kita temui di lokasi yang sama. Pohon-pohon itu berjajar di padang Arafah, memayungi ribuan jamaah haji dari terik mentari, menjadi simbol jasa orang Indonesia di tanah Arab.

Kedekatan Sukarno dengan ulama juga sering disinggung oleh banyak sejarawan. Seperti inisiatifnya untuk membangun Masjid Istiqlal, masjid terbesar se-Asia Tenggara. Sukarno juga disebut sebagai orang pertama yang menyitir ayat Alquran dalam sidang PBB. Bahkan apa yang dikenakannya seperti songkok hitam yang dipakainya menjadi identitas khusus, simbol muslimin Indonesia.

Soal songkok hitam ala De Grooten Boeng, putra dari Syekh Said Romadhon al Bouti yang bernama Dr. Taufiq Romadhon al Bouti berbicara di depan banyak orang mengenai kecintaannya mengenakan songkok hitam itu sebagai salah satu penutup kepala yang dipilihnya. Alasan ia memilih songkok hitam, karena ia sangat mengagumi cara ber-Islam masyarakat muslim Indonesia.

Syekh Said Romadhon alBouti, ayah dari Dr. Taufiq, wafat pada saat menggelar pengajian rutin tafsir Alquran di masjid. Dr. Romadhon Bouti wafat terkena ledakan bom yang dilakukan oleh kelompok teroris di Suriah. Dr. Said Romadhon disasar teror karena ia tegas memihak negara dalam krisis di Suriah. Ia membela negaranya agar tetap utuh, sebab itulah ia dikenang sebagai ulama nasionalis dari Suriah.

Dalam banyak kesempatan, Dr. Taufiq mengenakan songkok ala Indonesia itu. Pada saat ia berbicara mengenai pandangan ideal tentang Islam di banyak negara, juga pada saat ia menjadi imam salat jenazah ayah dan anaknya.

Ginting, dalam artikelnya di Harian Republika berjudul Kopiah adalah Indonesia, menceritakan soal Songkok Sukarno ini. Saat istirahat dalam sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959, Sukarno mengungkapkan tentang identitas nasional:

“Seandainya saya adalah Idham Chalid yang merupakan Ketua Partai Nahdlatul Ulama (NU), atau seperti Suwiryo yang menjabat Ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” kata Sukarno.

“Tetapi soal peci hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini. Benar tidak Kiai Wahab?” tanya Sukarno kepada KH. Abdul Wahab Hasbullah, anggota DPA yang juga merupakan Rais Aam NU.

“Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam, Saudara tampak lebih gagah seperti para mubaligh NU,”  jawab Kiai Wahab.

Selain kepada ulama NU, De Grooten Boeng Sukarno juga menaruh hati kepada ulama-ulama dari Muhammadiyah, seperti kepada Buya Hamka. Meski Buya Hamka pernah berseteru keras dengan Bung Karno, tapi ia tetap menganggap Buya Hamka sebagai ulama yang patut dihormati. Seperti pada masa akhir hidupnya, De Grooten Boeng menitipkan pesan yang disampaikan melalui ajudan Presiden Soeharto, Mayjen. Soeryo, pada 16 Juni 1970:

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku.”

Buya Hamka yang mendapat pesan tersebut terharu sekaligus terkejut. Tanpa pikir panjang, Buya Hamka kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Besar disemayamkan. Sesuai wasiat, Buya Hamka memimpin salat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu,” ucap Buya Hamka.

De Grooten Boeng Karno juga disebut berjasa bagi bangsa Mesir dan dunia keilmuan Islam. Syekh Ali Goumah, ulama yang pernah menjabat sebagai Mufti Mesir dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Haiah Kibaril Ulama, badan khusus yang mewadahi ulama-ulama senior di Universitas al-Azhar, pernah mengemukakan bahwa Bung Karno menyelamatkan al-Azhar dari ancaman penutupan oleh Presiden Gamal Abdul Nasser. Alasan penutupan karena ulama al-Azhar diduga banyak yang bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin untuk merongrong kekuasaan.

Ketika Nasser berniat menutup al Azhar, De Grooten Boeng maju mempertanyakan niat penutupan itu:

“Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup al-Azhar? Ya Gamal, al-Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir justru karena ada al-Azhar,” kata Bung Karno.

“Ya, itulah langkah terbaik bagi kita semua,” jawab Presiden Nasser.

“Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan. Anda wajib menata kembali al-Azhar, mendukungnya dan mengembangkannya, bukan menutupnya.”

Berkat jasa-jasa Bung Karno tersebut, Universitas al-Azhar menganugerahkan doktor kehormatan atau Doktor Honoris Causa kepada Bung Karno dalam kunjungan ketiganya ke Mesir pada April 1960.

Selain jasa yang disebutkan di atas, masih banyak jasa De Grooten Boeng yang lain bagi dunia Islam, seperti usulannya kepada Presiden Sovyet Nikita Kruschev agar ia mencari, menjaga, dan merawat makam Imam Bukhari, penulis kitab hadis kenamaan itu. Maka picik sajalah orang yang memandang De Grooten Boeng Karno dengan pandangan negatif, atau memanfaatkan namanya untuk kepentingan duniawi yang remeh-temeh.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply