Di Cangkirmu Ada Setan

Memasuki minggu kedua di bulan Ramadhan, saya ingin menyampaikan satu  soalan dari sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan pada saat bulan Ramadhan. Tak terkecuali anakku pada hari pertama kemarin. Pertanyaannya begini, “Yah, bila setan dan Iblis dibelenggu pada bulan Ramadhan, lantas kenapa kita masih saja sering melakukan perbuatan-perbuatan setan. Siapa yang menggoda kita?”

Sesaat saya terdiam, dalil dari pertanyaan ini adalah hadits yang berbunyi: “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).

Lantas saya teringat analogi yang disebarkan lewat meme yang bunyinya begini : ‘Ketika kita mengaduk teh dalam cangkir, airnya akan terus berputar membentuk pusaran walaupun kita mengangkat sendoknya.

Begitulah amalan-amalan buruk yang kita lakukan terus menerus di luar bulan Ramadhan. Dia akan tertanam menjadi kehendak dan kebiasaan pada diri kita berupa etos maksiat,  sehingga kita tetap akan melakukannya pada bulan Ramadhan meskipun tanpa ‘bantuan’ setan. Karena saat itu kita telah menjadi manifestasi dari sifat-sifat setan.

Setan sendiri adalah merupakan terminologi untuk makhluk dari golongan jin dan manusia yang selalu melakukan perbuatan maksiat dan durhaka kepada Allah. Hal ini sesuai dengan sebuah ayat yang mengatakan “Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS Al An’am: 112).

Jadi dalam pemahaman saya, kita tak dapat menemukan setan (dari golongan jin) di tempat-tempat penuh maksiat  seperti  rumah bordil dlsb, karena tempat seperti itu sendiri sudah sesak oleh kaum setan yang berasal dari golongan spesies kita; manusia!

Kita adalah makhluk lemah yang rentan diadukaduk hati dan imannya. Dosa kecil dan besar silih berganti menghampiri kita. Selayaknya kita berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya. Jangan sampai kita menjadi makhluk seperti yang disebutkan dalam ayat tadi (Naudzubila mindzalik).

Untuk itulah Ramadhan disediakan buat kita. Sebagai telaga jernih yang dapat melunturkan jelaga dosa yang menempel di jiwa kita. Sungguh merugi mereka yang mendapati bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya (seperti yang diisyaratkan Jibril kemudian diaminkan oleh Rasulullah).

Semoga saja amalan baik yang kita lakukan di bulan ini akan terus terbawa saat kita sudah berada di luar Ramadhan sampai bertemu Ramadhan berikutnya. Ya! Kita sangat berharap, semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini menjadi proses sendok yang mengaduk teh di dalam cangkir. Kali ini mengaduknya kearah kanan searah jarum jam!

By Robi Wuisan  http://www.qureta.com/post/di-cangkirmu-ada-setan

No Comments

    Leave a reply