Dua Worldview yang Menyatu dan Membuktikan Kebenaran Alquran

Pertanyaan terkait alam semesta sudah sejak dulu dan sangat lama diperbincangkan. Terutama mengenai bagaimana proses awal terciptanya alam semesta. Untungnya, di zaman modern dengan kemajuan teknologi ini sains mampu menjelaskan.

Penemuan teori Big Bang menjawab semua itu dan membuktikan kebenaran Al-Qur’an. Peristiwa ledakan besar (Big Bang) mampu menjelaskan terbentuknya alam semesta dan diprediksi terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.

Disebutkan bahwa teori ini pertama kali dicetuskan oleh George Lemaitre, seorang ilmuwan asal Belgia pada tahun 1931. Namun, butuh 80 tahun lebih sampai akhirnya teori itu mulai terungkap.

Wajar jika sebuah teori baru tidak mudah diterima begitu saja. Karena, bukankah kepercayaan memerlukan bukti, bukan sekedar teori? Saya pikir itulah mengapa pada awalnya banyak yang menyangkal teori Big Bang.

Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan sains, muncul penggagas-penggagas lain yang mendukung dan memperkuat teori tersebut. Dari berbagai fakta ilmiah dan penemuan-penemuan lainnya yang mendukung, teori Big Bang akhirnya mendapat persetujuan dunia ilmiah.

Salah satu penemunya yakni Stephen Hawking. Siapa yang tidak kenal Stephen Hawking? Salah satu tokoh sains populer yang juga terlibat teori Big Bang.

Dia menyatakan bahwa jika dunia diputar kembali ke masa lampau 13,7 miliar tahun yang lalu, kita akan menemukan hanya ada satu titik berbentuk bola subatomik. Bola subatomik inilah yang disebut singularitas.

Hawking juga sempat menuliskan sebuah buku dengan berjudul “A Brief History of Time”. Dalam bahasa Indonesia artinya sejarah singkat tentang waktu.

Sejarah singkat? Ya, dari judul ini saya terpikir, kita bisa melihat bahwa waktu yang kita lalui itu sangatlah singkat dibanding lamanya penciptaan dunia sebelum akhirnya bisa dihuni makhluk hidup.

Menurut saya, “A Brief History of Time” ini sangat cocok disandingkan dengan buku “Cosmos” yang ditulis oleh Carl Sagan. Jadi, Sagan menggambarkan luasnya waktu dengan menggunakan kalender kosmik.

Alurnya barangkali semacam ini, coba bayangkan kalau daftar beberapa event penting dalam sejarah alam semesta dirangkum dalam sebuah kalender seperti ini:

Coba kalau event-event itu kita zip jadi 1 tahun. Tanggal 1 Januari adalah Big Bang. Tanggal 31 Desember adalah zaman kita hidup sekarang. Jadi, usia kita hanya sekitar berapa detik saja? Inilah yang disebut oleh Sagan sebagai kalender kosmik.

Dari sini pula, kita bisa menemukan bahwa waktu kita itu singkat. Meski ini sebenarnya tidak begitu terkait dengan “A Brief History of Time” karena yang dimaksud sejarah singkat tentang waktu barangkali adalah sejarah terciptanya ‘waktu’ dalam sekejap.

Dimana menurut Hawking, ‘waktu’ muncul begitu semesta mulai berkembang, ketika terjadi Big Bang.

Jadi, mari kembali ke Big Bang, teori asal mula terciptanya alam semesta. Lagipula, dua konsep tentang penciptaan alam semesta dari dua worldview yang maksud bukanlah mengenai Stephen Hawking dengan Carl Sagan. Hanya sekadar pengantar.

Akan tetapi, ini akan terfokus pada dua worldview yakni pandangan Stephen Hawking dan pandangan Islam oleh Dr. Zakir Naik terkait teori penciptaan alam semesta atau Big Bang.

Ini tentang teori Sains dan ini tentang kebenaran Al-Qur’an, kitab suci umat muslim yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Dalam sebuah artikel yang dimuat pada Oktober 2014, Scientific American menuliskan bahwa teori Big Bang adalah satu-satunya teori yang dapat menjelaskan asal mula alam semesta.

Teori ini menjelaskan bahwa awal mula terbentuknya alam semesta yaitu dari sebuah singularitas, satu titik yang menjadi tempat terkumpulnya seluruh massa yang ada di jagat raya ini. Titik itu tidak memiliki volume, berkerapatan tak terhingga, namun memiliki massa yang sangat besar. Sehingga, suatu ketika terjadilah Big Bang.

Titik itu lalu menyebar, melontarkan materi-materi yang sebelumnya terkumpul dalam satu ke seluruh penjuru akibat sebuah ledakan dahsyat. Dalam sekejap alam semesta sudah berukuran sangat massive. Materi yang sangat banyak itu menyebar dan membentuk benda-benda langit seperti bintang, planet, meteor, asteroid, debu, kosmis, energi, dan partikel-partikel lainnya.

Hingga saat ini, materi-materi tersebut masih terus terpisah, diistilahkan mengembang dan terus mengembang. Edwin Hubble berhasil meneliti dan menemukan bahwa galaksi-galaksi bergerak saling menjauh. Alam semesta yang masih menyebar dan terus berkembang ini dikenal sebagai inflasion.

Meski beberapa ilmuwan beranggapan bahwa alam ini bersifat statis, ada sejak dulu kala tanpa permulaan, banyak yang mulai percaya setelah penelitian oleh NASA.

Pada 1989, George Smoot bersama Tim NASA meluncurkan satelit untuk meneliti asal mula alam semesta dan memperoleh bukti ilmiah mengenai adanya ledakan besar sesuai teori Big Bang.

Bukti lain kebenaran teori Big Bang yaitu berhasil ditemukannya jumlah relatif hidrogen dan helium di alam semesta. Penemuan itu sesuai dengan perhitungan konsentrasi hidrogen-helium yang merupakan sisa dari ledakan maha dahsyat tersebut.

Kalau saja alam ini tetap dan abadi, dalam artian tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir, maka seluruh hidrogen di alam semesta akan berubah menjadi helium.

Akan tetapi, di satu sisi Stephen Hawking, dalam bukunya yang berjudul The Grand Design pada 2010, ada satu hal yang mengandung kontroversi. Dia menuliskan “Tidak perlu meminta Tuhan bertindak dan mengatur alam semesta”, yang secara tidak langsung berpendapat bahwa alam semesta tercipta oleh adanya hukum alam, bukan Tuhan.

Sungguh, kejeniusan justru membuatnya menjadi ateis. Itulah mengapa kita harus senantiasa bersyukur dengan apa adanya kita sekarang ini.

Menurut saya, adanya teori bahwa alam semesta bermula dari satu titik lantas dentuman, ledakan besar menyebarkan materi sehingga menciptakan alam semesta dan terus berkembang bukanlah hal yang patut mendasari bahwa alam ini tercipta dengan sendirinya tanpa ada pencipta.

Saya memberi pernyataan benar bahwa ledakan itu secara tiba-tiba. Tapi, tidak ada yang tahu kapan tepatnya. Tiga belas koma tujuh miliar tahun yang lalu? Tapi ada pula yang mengatakan 13,8 miliar tahun yang lalu. Ada juga sekitar lima belas miliar tahun yang lalu. Artinya, tidak ada kepastian yang bisa menyebutkan.

Lantas bagaimana bisa menyimpulkan tanpa ada pencipta dengan alasan “Jika ada Sang Pencipta menciptakan alam semesta, siapa yang menciptakan Sang Pencipta?”

Stephen Hawking menyatakan bahwa alam semesta muncul secara tiba-tiba, tapi agama kami meyakini bahwa Tuhan ada sebelum tiba-tiba ada. Lagipula, sebelum penemuan abad ke-20 oleh pencetus pertama teori Big Bang, George Lemaitre, Al-Qur’an lebih dulu menjelaskan proses itu bahkan jauh sebelum ilmu astronomi berkembang.

Pandangan orang berbeda-beda tentunya. Tapi, saya pikir penemuan ini menguatkan bahwa pencipta itu ada dan harus dipercaya. Pandangan Sains dan Islam mengenai teori ini searah dan sangat bersesuaian.

Dijelaskan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ ayat 30, Allah SWT berfirman: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”

Ada kalimat “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Jadi, hal ini juga dibuktikan oleh penelitian bahwa setiap makhluk hidup tersusun dari air dan membutuhkan air untuk bertahan hidup. Jika tidak air tidak mungkin ada kehidupan.

Membandingkan penjelasan Al-Qur’an dengan berbagai penemuan ilmiah, kita akan menemukan bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain.

Disebutkan bahwa “Langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya” sejalan dengan teori Big Bang bahwa alam semesta berawal dari satu titik tempat berkumpul seluruh materi yang ada kemudian berpisah oleh sebuah ledakan besar.

Selanjutnya, dalam Al-Qur’an juga dijelaskan pada Surat Az-Zariyat ([51]:47) “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.

Seperti yang saya paparkan tadi mengenai galaksi-galaksi saling menjauh satu sama lain. Tapi, sebelum peneliti menemukan, ayat tersebut telah menjelaskan bahwa ‘langit’ yang dimana di sini diartikan sebagai ‘alam semesta’ terus meluas dan mengembang.

Dr. Zakir Naik dalam bukunya “Miracles of Al Quran and As Sunnah” menjelaskan keterkaitan ayat ini dengan teori Big Bang. Dimana, dia menuliskan “Kesesuaian yang harmoni antara Al Quran dan teori Big Bang adalah suatu hal yang tidak dapat dielakkan” dan “Sungguh menakjubkan! Bagaimana mungkin sebuah kitab yang muncul di padang pasir Arab 1.400 tahun silam mengandung kebenaran ilmiah yang mendalam”

Sementara Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History of Time menyebutkan bahwa penemuan fakta ilmiah alam semesta senantiasa berkembang adalah sebuah revolusi intelektual abad ke-20. Alquran menyebutkan fakta ilmiah ini jauh sebelum manusia belajar membuat sebuah teleskop.

Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa tidak mengherankan jika fakta astronomi dijelaskan dalam Al-Qur’an dengan alasan orang Arab dikenal unggul dalam bidang astronomi.

Nyatanya, orang Arab memang maju dalam bidang astronomi. Tapi, Al-Qur’an mengungkap fakta ilmiah tersebut berabad-abad sebelum orang Arab unggul bidang astronomi. Bukankah semua itu jelas?

Jadi, menurut saya penemuan tentang teori Big Bang hadir membuktikan kebenaran Al-Qur’an yang telah ada sejak lama. Lebih dulu daripada penemuan teori big bang, lebih dulu sebelum kaum Arab ahli di bidang astromi.

Meski sebetulnya, Al-Qur’an tidak butuh penelitian ilmiah untuk membuktikannya karena semua berisi kebenaran. Tetapi, Al-Qur’an juga tidak cukup rinci menjelaskan semuanya. Alam semesta begitu luas dan islam mewajibkan menuntut ilmu.

Maka dari itu, kita perlu bersyukur dengan penemuan-penemuan tersebut. Karena dengan begitu kita bisa mengetahui proses-proses ilmiah serta memahami bahwa ilmu Allah itu memang luas.

Kita hanya memperoleh tidak lebih secuil dari ilmu itu. Perbandingannya, ilmu kita bagaikan setetes air di laut lepas atau lautan luas. Untungnya, teori Big Bang hadir menambah ilmu dan memperluas wawasan kita mengenai alam semesta. Jadi, dapat kita lihat, di sini pandangan Sains dan Islam bersesuaian.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply