Fakta dan Sains  Kebenaran Korespondensi dalam Sains

Sejak lahir, manusia mempunyai daya intelek. Daya intelek berasal dari otak. dari sinilah ilmu pengetahuan muncul. Dalam sejarah filsafat Yunani kuno, ada filsuf yang memulai pemikirannya mengenai ilmu pengetahuan. Dialah Aristoteles. Ia memelopori teknik logika, observasi, penyelidikan, dan demonstrasi. Ini akan membentuk budaya filosofis dan ilmiah Barat melalui Abad Pertengahan dan era modern awal, dan akan mempengaruhi beberapa aspek ilmu alam bahkan sampai abad kedelapan belas

Namun ilmu pengetahuan  tentunya tidak serta merta menjadi suatu kebenaran absolut. Ilmu pengetahuan hanya dapat memprediksi suatu keadaan. Misalnya gempa bumi. Di dunia, masih tidak ada alat untuk mengetahui kapan, dimana, seberapa besar gempa bumi yang mengguncang dunia. Seismograf hanya dapat mengetahui gempa itu terjadi.

Dalam pelajaran anak SD hingga SMA selalu diajarkan mengenai ilmu-ilmu alam. Contoh ilmu alam yang dipelajari anak SD yaitu jenis-jenis gunung, proses mencair, membeku, dan sebagainya. Namun disisi lain, anak SD seolah-olah menerima semua pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan yang sudah pasti. padahal, ilmu pengetahuan terus berubah dari yang tradisional menuju yang modern.

Permasalahan yang lain yakni ilmu pengetahuan tidak dapat di samakan dengan pengetahuan agama. Misalnya di dalam ilmu pengetahuan selalu di dasarkan pada bukti empiris kemudian di telitinya. Tetapi di dalam agama, semua pengetahuan agama tidak dapat di salahkan apakah pengetahuan tersebut benar atau tidak.

Pengetahuan agama tidak dapat di sangkal karena hal itu berhubungan dengan Tuhan. Pengetahuan tentang agama juga di dasarkan pada iman seseorang yang percaya akan adikodrati. Sedangkan, pengetahuan yang di dalam ilmu bisa di bantahkan melalui penelitian ilmiah.

Dari beberapa permaslahan diatas, penulis mencoba menjabarkan teori kebenaran yang cocok menggambarkan fenomena Sains (Ilmu Pengetahuan). Apakah Ilmu Pengetahuan sudah dianggap menjadi suatu kebenaran yang absolut? Bagaimana teori-teori kebenaran memandang Ilmu pengetahuan?

Ilmu Pengetahuan dipandang dari segi Teori Korespondensi.

Teori ini, sampai tingkat tertentu sudah dimunculkan aristoteles. Menurut Aristoteles, mengatakan ahal yang ada sebagai tidak ada, atau yang tidak ada sebagai ada adalah salah. Sebaliknya mengatakan hal yang ada sebagai ada, atau hal yang tidak ada sebagai tidak ada adalah benar. Dengan ini Aristoteles sudah meletakkan dasr bagi teori kebenaran sebagai persesuaian bahwa kebenaran adalah penyesuaiaan anatara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatau pernyataan dianggap benar kalau apa yang dinyatakan sesuai dengan kenyataan.

Menurut Michael Dua dalam bukunya “Ilmu Pengetahuan sebuah tinjauan filosofis” mengatakan bahwa teori ini dianggap suatu kebenaran jika ada kesuaian dengan yang diklaim sebagai diketahui sebagai kenyataan yang sebenarnya. Salah satu contoh  yang dapat diaplikasikan dengan teori ini adalah sebagai berikut:

Bumi itu bulat. Adalah sesuatu dianggap benar jika ada kesuaian dengan faktanya.  Faktanya yakni bumi itu bulat.  Hal ini dapat dibuktikan dengan cara belayar dari satu titik A akan kembali lagi ke titik A.  Dalam Sains juga berkaitakan dengan fakta. Jika tidak ada fakta di dalam sains maka, tidak ada ilmu pengetahuan.

Salah satu contoh bahwa sains membutuhkan kesesuaian anatara fakta dengan ucaopan yakni es yang mencair. Dalam pembicaraan sehari-hari manusia selalu mengatakan bahwa es dapat mencair jika mencapai suhiu 20 derajat celcius. Maka jika benar pembuktian tersebut maka kebenaran itu terjadi.

Dengan demikian, sains membutuhkan fakta, data, yang akurat sebelum menguji di dalam laboratorium.  Namun menurut Michael Dua ada beberapa catatan mengenai teori korespondensi. Pertama, teori ini sangat menghargai pengamatan, perobataan atau pengujian empiris untuk mengungkapkan kenyataannya yang sebenarnya.  Sehubungan dengan itu, teori ini lebih mengeutamakan cara kerja dan pengetahuan aposteori, yaitu pengetahuan yang terungkap hanya melalui setelah pengalaman dan percobaan empiris.

Kedua, teori ini juga cenderung menegaskan dualitas antara subjek dan objek. Dengan titik tolak dualitas, teori ini menekankan pentinganya objek bagi kebenaran pengetahuan manusia.  yang paling berperan bagi kebenaran pengetahuan manusia adalah objek. Subjek atau akal budi hanya mengeolah lebih jauh apa yang diberikan oleh objek.

Ketiga, teori ini sangat menekankan bukti (evidence) bagi kebenaran suatu pengetahuan. Tetapi bukti ini bukan di berikan sevara apriori oleh akal bukti. Bukti ini bukan konstruksi akal budi.  Maka, yang di sebut dengan pembuktian atau justifikasi bukan proses validasi yang meu memperlihatkan apakah proposisi yang menjadi keimpulan telah ditarik secara valid dari proposisi tertentu yang telah di terima.

Dalam kehiduapan manusia, manusia memiliki hasrat untuk mengetahui sesuatu. Misal filsuf yunani mengawali dengan segala seuatu berasal dari air. Melihat pandangan seperti itu, tentu manusia terus bertanya tanya apakah benar segala sesuatu berasal dari air. Dari sanalah manusia memulai memakai pikiran logis untuk mencari segala seuatu. Maka, pengetahuan berasal dari fakta yang ada. Dari fakta muncul teori-teori yang baru.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply