Fazlur Rahman: Takwa sebagai Proses Aktif-Kreatif

Takwa merupakan sebuah istilah yang populer di kalangan umat muslim. Hal itu tidaklah mengejutkan, dapat dilihat bahwa term takwa dalam Alquran terdapat 259 kali dengan berbagai bentuk derivasinya. Hal itu dicatat oleh Muhammad Fuad Al-Baqiy dalam Mu’jam Mufahros li Alfadzi Qur’an al-Karim.

Melihat takwa mendapatkan perhatian yang serius dan berulang kali disampaikan dalam Alquran, begitu pula para ulama yang sering kali menekankan takwa dalam berbagai kesempatan, pada akhirnya menimbulkan pemahaman yang beragam untuk dijadikan landasan manusia dalam kehidupan.

Mayoritas ulama sepakat bahwa takwa merupakan upaya untuk menjaga dan memelihara diri dari kecenderungan nafsu. Itulah poin pentingnya. Setidaknya, hasil dari pemahaman literal “takwa kepada Allah” dimaknai sebagai “takut terhadap Allah” tidaklah salah, melainkan memerlukan pemahaman yang lebih komprehensif.

Pasalnya, rasa takut tersebut seharusnya tidak sama dengan rasa takut kepada setan, serigala, atau seorang pemimpin yang lalim dan semena-mena. Karena Allah merupakan Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, walaupun hukuman Allah tetap berlaku dalam konsep keadilan-Nya.

Pemahaman yang komprehensif seharusnya cukup penting dilakukan, karena tema-tema mendasar semacam ini sering menjadi landasan dari berbagai macam prinsip yang ada. Karena jika sudah mengarah pada satu pemahaman mendasar, maka konsep-konsep yang lainnya juga akan berjalan sesuai dengan landasan pemahaman tersebut. Itulah yang melatarbelakangi karakteristik aliran-aliran pemikiran yang sudah ada.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pendapat Fazlur Rahman dalam Tafsirnya, Major Themes of the Qur’an. Ia menafsirkan takwa sebagai proses aktif-kreatif yang positif. Hal ini tidak dapat dijelaskan semata-mata dalam kerangka hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan penekanan pada upaya manusia untuk menguasai dirinya sendiri.

Rahman mengungkapkan bahwa kelemahan manusia yang paling dasar yang menyebabkan semua dosa-dosa besarnya, seperti yang dijelaskan Alquran, adalah kepicikan (dha’if) dan kesempitan pikiran (qathr). Kepicikan mengakibatkan manusia menjadi sombong, maupun sebaliknya, yakni mudah putus asa.

Kedua hal tersebut adalah dua tensi yang berlawanan; sombong karena menganggap dirinya sebagai hukum tertinggi, sedangkan putus asa karena menganggap dirinya tak berdaya apa-apa.

Kemudian kesempitan pikiran adalah sebab yang mengakibatkan manusia mementingkan diri sendiri, kikir, tamak, ceroboh, panik, dan kekhawatiran yang terus-menerus menghantuinya.

Kedua term di atas pada dasarnya saling berjalin-berkelindan yang pada akhirnya dapat menimbulkan perilaku-perilaku yang tidak semestinya. Itu jelas sekali ditekankan dalam Al-Qur’an. Betapa tidak ada makhluk lain yang dapat menjadi sombong dan berputus asa sedemikian gampangnya kecuali manusia.

Kesadaran semacam ini penting kita pahami, bahwa manusia memiliki sifat yang goyah, yang senantiasa beralih dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lainnya. Rahman menganggap bahwa sikap-sikap ekstrem yang saling bertentangan ini bukan sebuah “masalah” yang harus dipecahkan oleh pemikiran teologis, melainkan sebagai tensi-tensi yang harus dihadapi jika seseorang ingin menjadi manusia yang benar-benar religius atau hamba Allah yang sejati.

Pada dasarnya, pemahaman ini menekankan dasar moral bagi manusia yang sering kali mengabaikan kondisi-kondisi yang ada pada dirinya sendiri, sehingga meniscayakan kondisi yang disebut Rahman sebagai “nihilisme moral”. Solusi yang ditawarkan Rahman dalam hal ini adalah “jalan tengah”.

Jalan tengah yang dimaksud adalah tengah yang positif dan kreatif, sebuah proses organisme moral yang integral, tengah yang berusaha untuk menyeimbangkan tensi-tensi ekstrem manusia yang telah disebutkan di atas. Itulah sebabnya mengapa “tengah” ini tidak dapat tercapai secara otomatis, tetapi hanya dapat tercapai dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang manusia miliki.

Usaha untuk menyeimbangkan tensi-tensi yang berlawanan tersebutlah yang dimaksud Rahman sebagai “takwa” yang menjadi penekanan Alquran. Takwa pada tingkatan tertinggi menunjukkan kepribadian manusia yang benar-benar utuh dan integral, semacam stabilitas yang terjadi setelah semua unsur-unsur yang positif diserap masuk ke dalam diri manusia.

Akar perkataan takwa adalah waqy yang berarti “berjaga-jaga, memelihara, atau melindungi diri dari sesuatu”. Dengan demikian, istilah “takut kepada Allah” dengan pengertian takut kepada akibat-akibat perbuatan sendiri – baik akibat langsung di dunia atau di akhirat nanti – dianggap Rahman tepat sekali. Dengan kata lain, inilah rasa takut yang timbul karena kita menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat.

Jika seorang manusia benar-benar menyadari hal ini dalam hidupnya, maka manusia tersebut benar-benar memiliki takwa. Jadi, takwa berarti kekokohan di dalam tensi-tensi moral atau di dalam “batas-batas yang telah ditetapkan Allah”, dan tidak menggoyahkan keseimbangan di antara tensi-tensi tersebut atau melanggar batas-batas tersebut.

Rahman mengungkapkan bahwa walaupun dalam Alquran terdapat kisah-kisah tragis mengenai manusia, namun Alquran pun memiliki sikap yang optimis sehubungan dengan perjuangan manusia. Alquran menyerukan pengertian moral yang sehat. Ia tidak menghendaki sikap menyiksa diri sendiri dan kegilaan moral.

Kegilaan moral berarti menghilangkan potensi perjuangan manusia dengan hanya cenderung pada satu posisi saja, terlalu pasrah pada kekejaman dunia, begitu pula menganggap dirinya adalah hukum tertinggi adalah representasinya. Integrasi antara potensi kebebasan berkehendak manusia di satu sisi, dan kehadiran Tuhan sebagai Realitas Tertinggi di sisi lain, meniscayakan kualitas pribadi manusia yang utuh.

Kontribusi pemikiran Rahman memberikan gambaran yang cukup nyata terkait dengan perbuatan manusia yang cenderung ekstrem pada satu sisi. Kecenderungan-kecenderungan yang berpihak terhadap individu, komunitas, atau lembaga, terkadang melupakan esensi kehidupan manusia yang mengarah pada penentuan oposisi biner yang masih kabur.

Tugas manusia di dunia adalah menjadi manusia seutuhnya, memahami bahwa dalam diri ini terdapat kelemahan-kelemahan yang tak terelakkan, pun terdapat potensi-potensi yang luar biasa dalam perjuangan manusia, adalah wujud dari kesempurnaan manusia yang senantiasa terwujud di bawah kekuasaan-Nya.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply