Fenomena Hijrah dan Kelucuannya

Belakangan ini kata hijrah semakin marak diperbincangkan. Tak tanggung-tanggung dari orang tua hingga orang muda, dari kalangan artis dan politisi. Dan hampir-hampir dari semua profesi, kata hijrah dihadirkan dalam ruang publik.

Saya bukanlah orang yang paham betul mengenai agama. Tak berkapasitas, tak jua berkualitas. Bahkan tak punya semacam “syarat” sebagai dasar hukum atau legitimasi keilmuan untuk membahas secara dalam-dalam mengenai kata hijrah itu sendiri.

Tapi, dalam pemaknaan kata hijrah, bila merujuk pada sejarahnya, bukankah itu perpindahan fisik Kanjeng Nabi dari Mekah menuju Madinah? Lalu mengapa seolah dilekatkan kepada mereka yang sebetulnya lebih cocok jika kata tobat yang digunakan? Biar apa coba?

Kita bisa berdebat secara serius soal ini. Sebab, sejarah hijrah bukanlah peristiwa yang disembunyikan serupa harta karun yang beribu-ribu tahun tak mampu terjejak keberadaanya.

Beda halnya dengan sejarah. Kita punya banyak data untuk membuktikan itu. Kita punya peninggalan-peninggalan dan saksi hidup yang turun-temurun secara syarat atau memiliki semacam “tiket” mampu membenarkan itu.

Bahkan, dalam pelajaran agama Islam di bangku sekolah dasar pun–jika bukan di sekolah menengah–kita sudah diperkenalkan dengan sejarah hijrahnya Kanjeng Nabi. Terlepas dari sejarah-sejarah yang lain.

Fenomena ini serupa ombak raksasa yang menghantam segala sesuatu di sekitarnya. Luluh lantak sejadinya. Mereka terombang-ambing dalam ruang “hijrah” itu sendiri. Mereka terikut tanpa mampu sebelumnya hendak menolak apalagi berpikir secara sehat.

Fenomena hijrah memang betul-betul menggairahkan. Tak terhitung banyaknya kalangan yang memakai kata “hijrah”, seolah itu untuk menggambarkan sebuah perpindahan atau perubahan secara islami. Secara keimanan. Secara batin. Ah.. sebut tobat sajalah.

Dan parahnya, oleh mereka yang mumpuni dalam hal “keislaman” seolah mendiamkan fenomena ini. Saya bukan tak suka atau tak setuju banyak kalangan yang sudah “hijrah”. Tapi apakah membiasakan kekeliruan adalah hal yang benar? Atau barangkali kita tega membiarkan bangsa ini di jalur kekeliruan?

Lebih jauh, entah mengapa, saya mengamati fenomena hijrah ini hanya sebagai ajang untuk memamerkan diri. Ajang pengakuan diri. Mereka seperti hendak memburu satu pengakuan bahwa mereka sudah berhijrah. Apa pentingnya coba? Saya menawarkan Anda untuk intip beranda media sosial mereka. Perhatikanlah!

Terlepas dari pemaknaan kata hijrah yang saya anggap betul-betul keliru, ada perbedaan yang begitu mencolok dari mereka yang sudah “hijrah” dan mereka yang biasa-biasa saja tapi dalam konteks keilmuan, saya tegaskan tak perlu diragukan.

Di bagian ini, saya barangkali akan menuliskannya dengan sedikit nakal. Haha. Gak lucu. Fenomena kelucuan ini sebagiannya saya rangkum dari teman-teman saya sendiri yang “berhijrah”. Orang dekat, tepatnya.

Pertama, mereka yang “hijrah” itu seolah menutup diri. Padahal, jauh sebelumnya mereka adalah orang-orang yang periang. Mereka seolah membatasi diri dan kelompok sesama hijrahnya dengan kelompok yang lain. Akibatnya, kita terkotak-kotakan. Padahal, menutup diri hanya hidup dalam lagu stingky. Asiiik.

Kedua, sistem patriarki yang disuburkan. Baru-baru ini, saya menyaksikan seorang pendakwa yang tak baik untuk dituliskan namanya, mengatakan bahwa seorang istri yang baik adalah mereka yang tak meninggalkan rumah. Tempatnya hanya di sana. Terkurung. Kurang lebihnya begitu.

Ia menambahkan, bahwa itu adalah kodrat. Ketentuan Tuhan. Bolehlah kita membedah sedikit kata kodrat. Memang betul kodrat adalah ketentuan Tuhan atau bawaan dari lahirnya. Tapi kita mesti memisahkan mana ketentuan dan mana kebiasaan. Bagi saya, kodrat pada perempuan lebih rasional bila yang disebutkan adalah haid, hamil, melahirkan dan menyusui. Itu kodrat.

Jaga rumah, mencuci piring, di kasur, di sumur dan di dapur, itu kebiasaan. Itu penghinaan terhadap derajat perempuan. Kita bisa menghitung berapa banyak pria yang bekerja pada bagian dapur sebuah restoran daripada perempuan jika kita membenarkan bahwa perempuan kodratnya dalam rumah.

Akibat dari ini, saya menilai mengapa banyak wanita muslim yang tak berprestasi sedikit pun. Terkhusus di Indonesia. Sebab bagaimana mungkin mampu berkarya dan berprestasi jika fisiknya terkurung dalam rumah.

Hal ini pula erat kaitannya dengan gerakan Menikah Muda. Dan itu hanya ada di golongan kaum berhijrah saja. Saya hanya menerka hal ini sebagai upaya membatasi ruang gerak para perempuan muslim. Sebab ketika selesai pada soal nikah muda, gerakan selanjutnya adalah gerakan menjaga rumah bagi kaum perempuan atau istri.

Ketiga, dan ini yang terkahir. Ini soal cinta. Saya harus nyesek sebelumnya. Belum lama ini saya bertemu dengan seorang teman. Kami bercerita panjang lebar dan sampailah pada titik soal cinta. Temanku berkata begini: yah kalau gak jodoh mau gimana.

Saya harus tepuk jidat. Itu bahasa orang-orang yang tak mau berjuang. Saya bukan menolak konsep takdir. Bagaimanapun jua ada hal-hal yang memang di luar diri manusia yang tak kuasa untuk dilawan. Tapi bukankah menyerah sebelum berjuang bukan merupakan sifat dari seorang manusia?

Menyerahkan semuanya kepada Tuhan tanpa usaha adalah perendahan yang betul-betul menghina. Pastilah tak berjodoh jika kerjanya hanya diam dalam doa dan tak berusaha. Tak akan mungkin pernikahan berlangsung tanpa latar perjuangan. Bahkan perjodohan sekali pun demikian.

Sebagai akhir, saya akan mengucap terima kasih kepada mereka. Sebab tanpa kata hijrah, tulisan ini tak akan hadir.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply