Fitnah, Anak Unta, dan Keberpihakan

Di dalam Alquran disebutkan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Hal tersebut dinyatakan di dua ayat dengan dua kalimat yang berbeda. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 191 disebutkan dengan kalimat “al-fitnah asyaddu min al-qatli” dan dalam ayat 217 dinyatakan dengan kalimat “al-fitnah akbaru min al-qatli”. 

Kedua ayat tersebut bermakna sama, namun dengan penekanan yang berbeda. Kata asyaddu dalam ayat pertama adalah kata sifat perbandingan antara fitnah dengan pembunuhan yang menunjukkan bahwa fitnah lebih berbahaya atau lebih besar dampaknya daripada pembunuhan. Adapun kata akbaru lebih bermakna bahwa fitnah lebih berdosa daripada pembunuhan.

Kenapa fitnah disebut lebih kejam dan lebih berdosa daripada pembunuhan menurut dua ayat tersebut?

Hal itu dikarenakan fitnah dapat menjadi sebab kekacauan, perselisihan, dan bahkan peperangan. Hal tersebut dapat dilihat dari konteks ayat tentang fitnah yang kedua-duanya disebutkan dalam ayat yang menceritakan tentang peperangan.

Pada saat terjadi fitnah hingga tersebarnya banyak berita bohong di tengah masyarakat, umumnya disebabkan adanya tiga unsur, yaitu pertama, pencipta fitnah. Hal ini dilatarbelakangi penyakit hati seperti iri, dengki atau motif permusuhan, dan bisa juga karena orang tersebut adalah sebagai produsen fitnah. Hal ini termuat dalam QS. At-Taubah: 47-48:

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan (fitnah) di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan (fitnah) dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

Orang munafik selalu memfitnah terhadap orang-orang baik untuk memeranginya atau untuk menutup-nutupi kesalahan atau karakter dirinya. Mereka tidak segan-segan melakukannya bahkan walaupun dengan cara memutarbalikan fakta, sebagaimana seorang munafik mengatakan pada Nabi Saw yang diabadikan dalam QS. At-Taubah: 49:

Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah”. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. 

Kedua, ada pihak yang suka mendengarkan fitnah dan berita bohong.  Hal ini seperti terlihat jelas dalam ayat di atas (QS. 9: 47), bahwa “di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan (bohong) mereka”.

Ketiga, ada kelompok penyebar fitnah. Kelompok ini adalah orang-orang yang memang suka terhadap tersebarnya fitnah, kekacauan, dan berita bohong (hoax) di tengah masyarakat. Terhadap mereka Allah mengancamnya dengan siksa pedih di dunia dan di akherat, sebagaimana termuat dalam QS. An-Nur: 19:

Sesungguhnya orang-orang yang suka agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Ayat di atas, diperuntukkan untuk orang yang suka atas tersiarnya suatu fitnah. Dalam ushul fiqh, secara mafhum muwafaqoh, siksa bagi para penyebar fitnah tentunya lebih besar lagi.

Dari QS. At-Taubah: 49 di atas pun dapat dimaknai bahwa pencipta fitnah dan berita bohong (hoax), dengan sendirinya akan terjemurus di dalamnya dan akan memperoleh hasil perbuatannya dengan segera.

Ketika seseorang menebarkan fitnah yang menimbulkan kekacauan, Allah Swt menyebutkan dalam ayat di atas dengan kalimat “Alla fi al-fitnah saqothuu”, yang dapat dimaknai bahwa fitnah itu akan mengenai mereka sendiri. Hal itu merupakan balasan yang nyata.

Dalam ayat yang lain disebutkan, bahwa pembuat fitnah disebut sebagai seorang zalim dan Allah Swt Maha Mengetahui tentang mereka sehingga akan mengembalikan tipu daya itu kepada mereka sendiri. Rencana yang jahat tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya itu sendiri.

Hal itu juga tertuang dalam dua ayat, yaitu dalam QS. Fathir:43, bahwa “Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri”; serta dalam QS Ali Imran: 54, yang menyebut bahwa, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Selanjutnya, bagaimana sikap kita dalam menghadapi suatu fitnah dan berita bohong (hoax) yang ada di tengah-tengah masyarakat?

Pada saat kita berada pada suatu kondisi yang didominasi oleh fitnah sehingga tidak dapat membedakan lagi antara mana yang benar dan mana yang salah, maka hendaknya kita tidak tergesa-gesa menyikapi ataupun menghakimi sesuatu yang kita sendiri belum yakin akan kebenarannya.

Jika kita bersikap sebaliknya, maka akan berdampak buruk, yang akhirnya akan menjadi dosa sosial, karena telah ikut menyebarkan fitnah.

Pada kondisi seperti ini, perlu dihayati perkataan dari Ali ibn Abi Thalib, bahwa: “Dalam masa kekacauan sosial dan terjadi banyak fitnah, jadilah seperti anak unta yang tak berpunggung kuat untuk ditunggangi dan tidak cukup bersusu untuk diperah”. (Muhammad Abduh, Nahjul Balaghah, IV:3).

Perumpamaan menjadi seekor unta di saat terdapat banyaknya fitnah dan berita bohong di atas, dapat dimaknai jangan sampai kita ditunggangi atau dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan pragmatis dari para penebar fitnah.

Kemudian, di saat pihak yang benar dan yang salah sudah jelas bagi kita, maka janganlah berdiam diri. Harus menentukan sikap keberpihakan, apakah ada di barisan yang benar ataukah pada posisi yang berlawanan.

Hal tersebut sebagaimana diwasiatkan oleh Ali ibn Abi Thalib kepada kedua puteranya ketika menjelang kesyahidannya setelah diserang oleh tusukan pedang Ibn Muljam: “Jadilah musuh orang yang zalim dan penolong bagi yang tertindas”. (Muhammad Abduh, Vol.III:76, wasiat ke-47).

Musuh bagi orang yang zalim dalam wasiat di atas adalah harus berani mengambil sikap yaitu berani berpihak pada kebenaran dalam melawan orang zalim, bersikap melawan fitnah. Tidak boleh berdiam diri sampai tidak ada lagi fitnah di tengah-tengah masyarakat.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply