FITRAH CINTA

Cinta sepertinya selalu menjadi hal yang tak kunjung habis menjadi topik pembahasan dan perbincangan, baik kalangan dewasa maupun kalangan muda. Sebagai makhluk sosial, pasti kita tak terlepas dari dorongan untuk memberikan perhatian lebih atau kecondongan hati terhadap seseorang yang kita kagumi, baik dari fisik maupun psikisnya, entah itu dari kemolekan wajahnya, kepandaiannya, sikap dan perilakunya, ataupun aspek lainnya.

Tak usah jaim (jaga-image); kata anak muda zaman sekarang – semua orang pasti pernah merasakan apa yang namanya cinta. Benar atau tidak? Meskipun perasaan semacam ini sulit diungkapkan lewat kata-kata, namun yang pastinya setiap orang pun pernah merasakannya dan mungkin mendeskripsikannya dengan cara yang berbeda-beda.

Memang perlu kita akui bahwa kutipan “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga” ini ada benarnya. Di mana ketika seseorang memiliki benih cinta di dalam hatinya, ia akan mudah terdorong untuk selalu merasakan kebahagiaan dan hidupnya menjadi berwarna, sementara seseorang yang hidup tanpa cinta akan menjalin kehidupan dengan biasa-biasa saja, hingga terkesan sunyi dan tak berwarna.

Cinta bak suplemen kehidupan, mampu mendorong seseorang untuk lebih giat dan bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Namun juga tak sedikit yang mengaku akan kekosongan hatinya tak akan berpengaruh terhadap kehidupannya.

Ia merasa fine saja ketika melakukan segala sesuatu dalam hidupnya meskipun dalam keadaan kekosongan hati. Terkadang memang seseorang yang mengaku tidak sedang merasakan jatuh cinta, merasakan enjoy saja dalam melakukan kegiatan rutinnya dengan segala aktivitasnya.

Tetapi perlu dipahami bahwasanya cinta itu tak hanya melulu soal perasaan lebih terhadap lawan jenis. Cinta bisa saja ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Sang Pencipta sekaligus Pemberi segala Kenikmatan, maupun kecintaan kita kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam manusia paling mulia dan teladan terbaik sepanjang masa, ataupun juga kepada kedua orangtua kita yang berkat perjuangan keras mereka kita dapat menatap dunia ini dengan begitu indahnya.

Hal yang satu ini tentunya tidak akan lepas juga jika kita kaitkan dengan bangku perkuliahan. Percintaan sering saja mewarnai kehidupan kampus. Bisa saja karena kebetulan menjadi teman satu lokal atau satu organisasi hingga menyebabkan sering terjadinya interaksi dan komunikasi lalu menumbuhkan benih-benih cinta antara sesamanya.

Tak jarang pula kita temukan dua orang mahasiswa dan mahasiswi tengah bergoncengan satu motor di lingkungan kampus. Hal ini sepertinya menjadi hal yang lumrah kita temukan. Banyak juga kasus lain yang sering kita jumpai, misalnya ketika hendak pergi ke perpustakaan berdua-duaan, saat mengerjakan tugas kuliah bersama, atau masih banyak contoh-contoh yang lainnya.

Hal-hal di atas membuktikan bahwasanya cinta bisa tumbuh di mana dan kapan saja, termasuk ketika menjalani kehidupan di dunia perkuliahan. Bahkan tak sedikit kasus yang mencatat mahasiswa dan mahasiswinya yang kebetulan satu lokal atau satu organisasi akhirnya memutuskan untuk menikah lalu hidup bersama.

Cinta mungkin saja tumbuh berawal dari rasa kenyamanan. Karena di satu sisi, ketika kita melihat perhatian yang lebih mampu dia berikan kepada kita dan hal itu mendorong kita untuk selalu ingin ada yang memperhatikan, karena dia mampu memberikan kita kenyaman lalu akhirnya kita memberinya kepercayaaan untuk hadir mengisi waktu-waktu selingan di masa-masa perkuliahan. Hingga tak jarang yang embel-embelnya ngerjakan tugas bersama tiba-tiba jalan ke Mall berdua, pulang pergi ke kampus bersama, dan banyak lagi yang lainnya.

Alangkah lebih baiknya hal-hal semacam ini sebaiknya kita hindari saja. Mengapa? Sebab sebagai seorang mahasiswa maupun mahasiswi yang tengah kuliah di sebuah perguruan tinggi di bawah naungan Islam, kita haruslah mencontohkan hal-hal yang teladan bagi masyarakat sekitar. Selain itu juga, untuk menghindari terjadinya fitnah, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra: 32).

Dalam Tafsir Al-Misbah karangan Quraish Shihab menjelaskan, ayat ini menegaskan bahwa: “Dan janganlah kamu mendekati zina” dengan melakukan hal-hal yang dapat menjerumuskan kepada perbuatan zina meskipun hanya sebatas mengkhayal sekalipun. “Sesungguhnya perbuatan zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”sebab perbuatan ini telah melampaui batas dan Allah sangat membenci perbuatan ini. Untuk itu, hal semacam ini sebaiknya kita hindari saja, bukan, daripada kita terjerumus ke dalamnya?

Teruntuk setiap insan yang merasa tengah terbuai dalam lautan cinta, kembalikanlah rasa cinta itu kepada fitrah sejatinya. Jikalau rasa cinta itu membuncah tak terbendungkan, segeralah untuk datang kepada kedua orangtuanya dan pintalah restunya dengan cara yang baik-baik, tentu agar kita tak terjerumus ke dalam rayuan iblis yang selalu mencari celah untuk merayu manusia untuk melakukan perkara dosa seperti halnya ketika iblis merayu Adam dan Hawa untuk melanggar perintah Allah.

Ataupun jika merasa masih belum mampu untuk menikah, maka sebaiknya tinggalkanlah dia, biarkan rasa itu mengalir dalam setiap bait-bait doa, karena pejuang cinta yang sejati tak akan berani mendekati seseorang jika dia belum siap untuk meminangnya.

Pesan khusus untuk wanita, “Jadilah kalian sebagai perhiasan yang berharga yang tak mudah dimiliki dan juga memiliki kualitas yang tinggi”. Hanya orang-orang terpilihlah yang mampu mengapai cintamu. Karena itulah, jaga diri dengan sebaik-baiknya.

Kita harus senantiasa mawas diri agar tak mudah jatuh ke dalam lembah dosa yang mencelakakan kita. Jagalah fitrah cinta dengan sebaik-baiknya. Sebab rasa cinta merupakan rasa yang dititipkan oleh Sang Maha Cinta kepada kita.

Sumber : Qureta.com

No Comments

    Leave a reply