Gagasan Fazlur Rahman tentang Neo-Modernisme dalam Islam

Gerakan modernisme Islam, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Sayyid Ahmad Khan dan Muhammad Abduh, sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran Islam abad ke-20. Mungkin banyak yang menganggap pemikir seperti Fazlur Rahman sebagai “modernis”, tetapi akan lebih pas jika dikatakan bahwa ia adalah seorang “neo-modenis”.

Menurut Abdullah Saeed (2012), kaum neo-modernis lebih menitikberatkan pada esensi ajaran Islam itu sendiri daripada bentuk formal ajarannya.

Misalnya, mereka lebih tertarik pada persoalan apakah wanita muslimah kehidupannya lebih etis dan produktif daripada mempersoalkan apakah mereka harus memakai hijab atau tidak. Dan mereka juga berpandangan bahwa perubahan sosial yang terjadi saat ini harus didasari oleh refleksi atas penafsiran Islam.

Selain itu, mereka juga memandang perlunya ijtihad dengan metodologi yang baru untuk menangani masalah-masalah kontemporer. Kaum neo-modernis meyakini bahwa urusan sosial dan ekonomi harusnya menjadi prioritas bagi umat Islam saat ini daripada urusan kekuasaan politik.

Mereka cenderung tidak terlalu bermusuhan dengan Barat maupun dengan pengaruh-pengaruh eksternal lainnya; mereka justru lebih tertarik dengan kelompok-kelompok sekular, bahkan bekerja sama dengan mereka secara berkelanjutan.

Tulisan-tulisan Fazlur Rahman mengulas semua ini dengan mengambil sikap dan pandangan yang mungkin akan tidak menyenangkan bagi kalangan modernis seperti Abduh.

Pemikiran Rahman ini telah memainkan peran penting dalam perkembangan pemikiran Islam pada akhir abad ke-20. Semua itu berkat karya-karyanya yang diterbitkan, dan berkat murid-muridnya yang pernah belajar kepadanya di Chicago. Ia adalah salah satu kontributor yang paling berani dan paling orisinal bagi diskusi tentang reformasi pemikiran Islam di abad ke-20.

Fazlur Rahman lahir pada tahun 1919 di daerah Hazara, wilayah yang kini terletak di negara Pakistan, di sebuah daerah yang memiliki akses pendidikan keislaman yang kuat. Ayahnya, Maulana Syihabuddin, adalah seorang agamawan lulusan dari seminari Deoband di India. Rahman lebih banyak mendapat bimbingan dari ayahnya dalam bidang penafsiran Alquran, hadis, hukum, teologi, dan filsafat daripada di sekolah seminari di mana ia belajar.

Ia belajar di Universitas Punjab di Pakistan dan memperoleh gelar Sarjana dan Master dalam bidang bahasa Arab. Ia lalu pergi ke Oxford, di mana ia menulis disertasi tentang Filsafat Ibn Sina. Meskipun minat utamanya di awal karier akademiknya adalah filsafat Islam, namun ia juga banyak membaca tentang sejarah dan hukum Islam, etika, dan penafsiran Alquran dan hadis.

Setelah menyelesaikan studinya di Oxford, Rahman pindah ke Durham University di Inggris Utara di mana ia belajar filsafat Islam dari tahun 1950 sampai 1958. Ia kemudian meninggalkan Inggris untuk pergi ke Canada untuk mengambil posisi sebagai profesor di Institute of Islamic Studies di McGill University, ia menetap di sana selama tiga tahun.

Ia diundang ke Pakistan oleh Jendral Ayyub Khan, Presiden Pakistan, yang sedang mencari seorang pemikir Islam yang berhaluan reformis liberal untuk memimpin semacam lembaga penelitian Islam dan menjadi penasihat pemerintah dalam urusan agama.

Tapi ia tinggal di Pakistan tidak begitu lama (1961-1968). Ia harus meninggalkan Pakistan menuju Amerika Serikat karena pemikiran-pemikirannya banyak ditentang dan dianggap tidak sesuai dengan pandangan koservatif yang berlaku di Pakistan. Ia kemudian diangkat menjadi profesor pemikiran Islam di Universitas Chicago tahun 1968. Ia menetap di sana hingga wafatnya pada tahun 1988.

Di Chicago, ia memainkan peranan penting dalam melatih mahasiswa-mahasiswa pascasarjana yang berasal dari negara-negara seperti Indonesia dan Turki.

Meskipun pemikiran Rahman umumnya tidak dikenal di dunia Arab atau di negara-negara yang lingkungan agamanya cenderung tradisionalis, tetapi di tempat lain seperti Turki dan Indonesia, Rahman adalah tetap yang paling berpengaruh. Banyak dari murid-muridnya menempati jabatan akademik senior di negara-negara tersebut.

Di Amerika Serikat, di mana ia menghabiskan dua puluh tahun terakhir masa hidupnya, beberapa mahasiswa mengangkat pemikirannya dan berusaha menginterpretasikan kembali bagian tertentu dari kandungan etika-hukum Alquran. Contoh yang menarik dalam hal ini adalah Amina Wadud, yang karyanya berjudul “Quran and Woman” merupakan contoh aplikasi pemikiran Rahman dalam bidang penafsiran Alquran.

Tulisan-tulisan Rahman sangat luas dan jauh lebih luas daripada bidang utama yang menjadi latar belakang akademiknya filsafat Islam. Karya-karyanya mencakup tentang reformasi pendidikan agama Islam, hermeneutika, kritik hadis, perkembangan tradisi intelektual Islam awal, reformasi hukum Islam, dan etika Islam.

Buku-buku dan artikel-artikelnya yang begitu banyak membuktikan kedalaman dan keluasan kajian keilmuannya. Tema pokok seluruh karyanya adalah reformasi dan pembaruan, dan pentingnya metode dalam reformasi ini.

Di antara proyek besarnya yang paling penting baginya adalah reformasi pendidikan Islam. Tidak seperti kebanyakan pemikir reformis Islam periode modern, Rahman tidak terlalu terlibat dalam gerakan massal, tidak pula terlibat dalam konflik politik. Ia menghindari pendekatan propagandis dan aktivisme. Ia merasa lebih nyaman dengan membatasi dirinya pada lingkup pengajaran dan penelitian di Universitas.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply