Guru Terbaik Itu Bernama Pengalaman

Experience is the best teacher.” Pengalaman adalah guru terbaik.

Kalimat di atas sangat familiar di telinga dan di mata kita. Gendang telinga kita sering menangkap bunyi orang yang mengatakan kalimat tersebut. Acap kali kalimat itu dikumandangkan di seminar bisnis, motivasi, dan di berbagai kegiatan pelatihan. Kalimat tersebut juga sering kita lihat sengaja ditulis untuk menghiasi dinding-dinding sekolah, instansi, bahkan tembok-tembok jalanan.

Memang, tak ada yang salah dari kalimat itu dan perlakuan orang lain terhadapnya.

Berhubungan erat dengan kalimat di atas, tulisan ini bertujuan menampilkan pandangan unik seorang tokoh yang berbeda dengan kebanyakan orang. Adalah Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan sebutan Buya Hamka yang mencoba memahami dan menyingkap sebuah pemahaman lain dari “pengalaman”.

Definisi pengalaman

Dalam definisi bebasnya, saya mengartikan pengalaman sebagai kejadian yang pernah dialami seseorang. Tidak ada pengkhususan makna, apakah kejadian yang dimaksud merupakan kejadian menyenangkan atau menyedihkan, manis atau pahit. Namun, jika dikaitkan dalam konteks kebahagiaan dan kesuksesan, kata pengalaman identik dengan kejadian menyedihkan dan penderitaan.

Berbicara tentang pengalaman dalam konteks kebahagiaan dan kesuksesan, Buya Hamka punya kenyataan yang menarik dan berbeda dengan kebanyakan orang. Beliau tidak menganggap pengalaman sebagai sesuatu yang terpenting dalam proses mencapai kebahagiaan dan kesuksesan. Pengalaman yang beliau maksud adalah pengalaman pribadi.

Di salah satu karyanya yang berjudul Tasawuf Modern yang diterbitkan oleh penerbit Republika, tepatnya pada halaman 54, beliau menyatakan pandangannya.

Ada orang yang berkata bahwa pengalaman dan penderitaan hidup itu paling penting di dalam menuju bahagia. Tetapi kita berpendapat lain. Kalau hanya dengan pengalaman saja, tentu umur akan habis sebab pengalaman itu kian hari kian ganjil, pengalaman kemarin tidak akan ada lagi sekarang, begitupun nanti. Usia pun habislah sebelum pengalaman penuh, rahmat dan ketenteraman tentu tidak akan ada, sehingga bahagia hanya jadi kenang-kenangan saja.”

Tidaklah mesti seorang saudagar menempuh rugi dahulu baru dia tahu rahasia keuntungan kelak. Itu terlalu jauh!”

Tidak mesti seorang nahkoda mengaramkan kapalnya yang pertama lebih dahulu, baru dia tahu rahsia pelayaran. Ya kalau si saudagar masih panjang umur dan si nahkoda masih hidup! Kalau tidak arang habis besi binasa, tukang menghembus payah saja.”

Tulisan beliau tersebut ibarat palu yang mencoba merobohkan kuatnya tembok pandangan masyarakat bahwa kalau mahu bahagia harus merasakan pedihnya penderitaan, kalau mahu sukses harus merasakan sakitnya kegagalan.

 Padahal jika dilihat sepintas, rasanya tidak ada yang salah dengan pandangan tersebut. Toh, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari sering ditemui pengusaha yang sukses adalah mereka yang kenyang dengan kegagalan. Juga sering kita jumpai, kebahagiaan datang kepada mereka yang sudah dapat melewati panjangnya perjalanan penderitaan yang meletihkan.

Namun, jika melihat kutipan di atas, apakah Buya Hamka menafikan peranan pengalaman (peribadi) dalam proses manusia menuju kebahagiaan dan kesuksesan?

Masih di halaman yang sama, Buya Hamka menyatakan bahwa beliau tetap menganggap penting peranan pengalaman (peribadi), namun bukanlah yang terpenting. Inilah poin utama penyataan Buya Hamka diatas. Beliau tidak menganggap pengalaman (peribadi) seseorang sebagai hal mutlak yang harus dilewatinya untuk sampai menuju kebahagiaan. Bukankah untung dan sukses dalam berdagang bisa diperoleh tanpa si pedagang harus rugi terlebih dahulu? Bukankah pedagang tersebut bisa belajar dari pengalaman orang lain yang pernah rugi dan menjadikannya sebagai pembelajaran agar tak jatuh di lubang kerugian yang sama.

Itulah sebenarnya poin yang ingin disampaikan Buya Hamka. Kejadian yang dialami orang lain dan para pendahulu kita merupakan sebuah khazanah pengetahuan yang luas dan mencerdaskan, tergantung bagaimana kita saja lagi menyikapinya.

Buya Hamka mengistilahkan belajar dari kejadian yang dialami orang lain dengan kalimat “memperhatikan alam”.

Masih dalam halaman yang sama menuju halaman berikutnya, Buya Hamka melanjutkan pemaparannya dalam sebuah paragraf panjang sebagai berikut.

Meskipun kita akui pengaruh pengalaman, tetapi bukanlah itu yang terpenting. Pengalaman hanyalah langkah pertama. Adapun pelajaran hidup yang kedua ialah memperhatikan alam. Alam adalah laksana sebuah kitab besar yang terhampar di muka kita. Di dalamnya tertulis perjuangan hayat yang telah ditempuh lebih dahulu oleh orang lain. Di situ dapat kita tilik bagaimana orang lain telak naik, telah mujur dan bahagia, dan dapat pula kita lihat mereka jatuh, tersungkur, ada yang tak bangun lagi, ada yang menyesal selama-lamanya. Kita dengar pekik orang yang kesakitan, maka kita tanyakan kepadanya apa sebab dia jatuh, setelah itu kita tidak lagi di jalan yang pernah dilaluinya. Semuanya itu kita pelajari dengan saksama dari kitab yang terbentang itu. Itulah dia rahsia perkataan raja dari segala pujangga dunia, Nabi Muhammad Saw., mengambil i’tibar dari kejadian orang lain itu adalah jalan merengkuh bahagia.”

Di mana pun dan kapan pun, pengalaman tetaplah menjadi guru terbaik bagi murid-muridnya. Namun pengalaman tidak selalu tentang apa yang kita alami secara peribadi. Akan tetapi, apa yang pernah dialami orang lain pun juga disebut sebagai pengalaman. Guru terbaik tidak terbatas hanya pada pengalaman peribadi, tetapi juga bisa dari pengalaman orang lain.

J Ferdinand Setia Budi dalam bukunya yang berjudul Berpikir ala Einstein & Bertindak ala Gandhi mengutip sebuah ungkapan, “Orang-orang bijak belajar dari kesalahan-kesalahan mereka. Sementara orang yang lebih bijak tidak hanya belajar dari kesalahan mereka, tetapi juga dari kesalahan orang lain.”

Memang benar kalimat yang menyatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun pada kalimat tersebut tidak dijelaskan apakah yang dimaksud adalah pengalaman peribadi atau orang lain. Lewat tulisannya, Buya Hamka menyedarkan pembacanya bahwa kebahagiaan dapat diraih dan kesuksesan dapat digapai lewat belajar dari kejadian yang dialami orang lain tanpa menunggu belajar dari pengalaman peribadi.

Jika kita hanya mengandalkan pengalaman pribadi sebagai modal untuk sukses dan bahagia, maka perlu berapa banyak lagi waktu dan wang yang harus kita habiskan untuk mencari pengalaman?

Sumber: https://www.qureta.com/next/post/guru-terbaik-itu-bernama-pengalaman

 

No Comments

    Leave a reply