HADIAH DARI ISLAM UNTUK KAUM PEREMPUAN

Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat luar biasa, darinya lah kemudian lahir generasi-generasi hebat dengan bermacam-macam ilmu yang dikuasainya. Bahwa perjuanagan seorang perempuan dalam mengandung calon anak-anaknya kurang lebih sembilan bulan, waktu yang tidak sebentar. Selain itu pada proses melahirkannya nanti ia berjuang antara hidup dan mati, nyawa sebagai taruhannya. Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anak keturunannya. Anak-anak adalah fitroh tergantung bagaimana orang tuanya mendidik dan memberikannya pendidikan.

Sama halnya dengan seorang laki-laki, perempuan saat ini sudah banyak memberikan kontribusi luarbiasa terhadap negeri. Sebut saja misalnya Susi Pudjiastuti menjabat sebagai menteri kelautan dan perikanan, Sri Mulyani menteri keuangan, atau Tri Rismaharini dengan prestasinya yang gemilang dalam menajabat sebagai wali kota Surabaya. Atau tokoh-tokoh perempuan Indonesia seperti Kartini, Cut Nyakdin, Dewi Sartika dan lain-lain mereka adalah perempuan-perempuan hebat.

Ada banyak catatan lembar hitam tentang perempuan bagaimana ia diperlakukan dulu masa jahiliyah sebelum islam datang. Pelecehan, penghinaan, pelampiasan syahwat, dan diskriminasi lainnya adalah hal yang biasa mereka dapatkan. Seolah predikat perempuan  waktu itu memang untuk diperlakukan demikian. Sanagat tidak manusiawi sama sekali.

Akibat dominasi budaya jahiliyah, tidak sedikit perempuan terpaksa dipingit, dipasung dan dibelenggu. Mereka tidak diidzinkan menuntut ilmu, menikmati pendidikan tinggi, berkarir, bekerja dan memiliki profesi. Posisi perempuan dalam lingkum sosial masyarakat juga kurang diperhitungkan, perempuan hanya terbatas di wilayah domistik saja sebagai penjaga kasur, sumur dan dapur.

Kedudukan Perempuan Pra Islam, Penindasan dan Penyiksaan

Kaum perempuan zaman jahiliyah dulu sebelum islam datang biasa mereka diperlakukan semena-mena, tidak dihargai dan selalu disakiti. Bahkan kehadiran bayi wanita dianggap aib yang akan merendahkan martabat suatu kabilah. Mereka menilai mengubur hidup-hidup bayi wanita lebih terhormat daripada membiarkannya hidup.

Perempuan tak ubahnya seperti budak-budak, ketika suaminya meninggal maka ia boleh diwariskan layaknya sebagai harta suami. Ia tidak boleh menikah lagi jika tidak mendapatkan persetujuan dari keluarga sang suami. Tetapi ia boleh bebas menikah asalkan mampu menebus dirinya dengan sejumlah harta.

Seorang laki-laki boleh menikah dengan perempuan banyak tanpa ada batasan khusus, bahkan ada laki-laki yang mempunyai isteri lebih dari 900. Dalam praktek seperti ini bagaimana mungkin satu laki-laki mampu memberikan nafkah secara adil terhadap isteri-isterinya, karena sifat manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Praktek menikah dengan banyak perempuan sangat tidak bermoral sama sekali dan hanya untuk memuaskan syahwat diri sendiri.

Selain itu isteri-isteri sang suami boleh ditukar dalam jangka tertentu sesuai kesepakatan dengan laki-laki lain. Perempuan-perempuan tak lebih dari sebuah barang yang tidak berharga dan tidak ada nilainya. Para lelaki memperlakukan semena-semena terhadap mereka. Suami juga bebas menceraikan isteri-isteri sesuai kehendak dirinya, sedang sang isteri tidak mempunyai hak cerai sama sekali.

Kita yang hidup saat ini hanya bisa menerka-nerka bagaimana ketidak adilan yang dilakukan terhadap para perempuan dan diskriminasi lalu membandingkan dengan penghormatan yang diberikan terhadap mereka setelah datangnya islam. Memang masa jahiliyah dalam sejarahnya norma-norma belum diajarkan dengan benar, perempuan hidup dalam posisi sangat tidak menguntungkan sama sekali.

Kedudukan Perempuan Setelah Islam Datang, Hadiah Untuk Mereka

Di antara misi datangnya islam adalah  untuk memperbaiki norma dan moral ummat manusia pada saat itu, meskipun dalam perjalanannya masuknya islam tidak langsung diterima dengan baik, tetapi banyak yang menolak bahkkan mengancam untuk membunuh Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah. Tetapi pelan-pelan atas gigih dan semangat perjuangan beliau akhirnya islam dapat diterima oleh sebagian orang sedang yang lain tetap melakukan perlawanan terhadap Nabi Muhammad akan ajaran yang dibawanya.

Moral-moral bejat yang ada pada masa jahiliyah dan sudah membudaya pelan-pelan diperbaiki oleh islam. Islam datang memproklamirkan kemanusiaan perempuan sebagai manusia utuh. Perempuan adalah mahluk yang memiliki harkat dan martabat yang setara dengan laki-laki sebagaimna ditegaskan dalam an-nisa’ ayat 1 bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dari unsur yang satu. Muhammad sangat gigih mengikis budaya jahiliyah yang tidak manusiawi dan melecehkan perempuan. beliau memperjuangkan terwujudnya ajaran islam yang akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Secara bertahap beliau mengembalikan hak-hak asasi perempuan sebagai manusia utuh dan merdeka.

Termasuk perlakuan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang sudah membudaya. Praktek mengubur anak perempuan hidup-hidup di larang oleh islam. Sebagaimana ditegasakan dalam al-Anam ayat 151. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa kehadiran anak perempuan jangan dijadikan beban karena takut kemiskinan, karena Allah lah yang akan memberi rezeki. Islam mengajarkan bahwa perempuan sama seperti laki-laki. Maka perlakuan terhadapnya juga harus sama, bukan malah di tindas atau diperlakukan semena-mena.

Secara tegas islam juga melarang tradisi mewariskan perempuan setelah ditinggal suami sebagaimana ditegaskan dalam an-Nisa’ ayat 19. Selain itu islam memberikan hak waris terhadap kaum perempuan sebagamana ditegaskan dalam an-Nisa’ ayat 7.

Islam juga membatasi laki-laki dalam menikah dengan perempuan yaitu maksimal empat orang dengan syarat si suami bisa berlaku adil terhadap isteri-isterinya sebagaimana termaktub dalam an-nisa’ ayat 3. Jika tidak bisa maka satu isteri labih baik.

Budaya menceraikan perempuan sesuka hati di ataur oleh islam dimana dahulu laki-laki bebas menceraikan tanpa batas maksimal. Dengan datangnya islam suami hanya mempunyai hak cerai maksimal dua kali dan setelah itu tidak boleh rujuk kembali. Demikian pula seorang isteri juga mempunyai hak cerai, yaitu khuluk.

Islam datang untuk memberikan hak-hak yang memang dimiliki perempuan, memanusiakan perempuan secara utuh. Bagaimana mungkin perempuan yang juga manusia diperlakukan tidak seperti manusia.

Tetapi islam tetap memberikan batasan-batasan khusus terhadap kaum perempuan abik lingkup domestik maupun publik, dan itu bukan berarti merusak moral. Ruang lingkup domistik misalnya, setelah beristeri perempuan terbatasi dengan suami-suaminya. Ia tidak boleh keluar rumah tanpa ada idzin dari suami, berpuasa sunnah juga harus ada idzin dari suami. Dan ini bukan brarti diskriminasi perlakuan laki-laki, tetapi untuk mengangkat derajat perempuan itu sendiri karena peranan seorang suami dalam keluarga adalah sebagai pemimpin.

Kehadiran kaum perempuan dan laki-laki merupakan satu pasangan yang saling melengkapi, sesuai dengan asas ketentuan umum dalam penciptaan alam semesta secara keseluruhan. Dengan keberadaaan yang saling melengkapi ini jika salah satu unsur tidak menjalankan tugas dan fungsinya secara benar maka akan mengalami kerusakan atau ketidak beresan pada unsur yang lain.

Dari sifat saling melengkapi anatara perempuan dan laki-laki, Allah menjadikan perempuan mempunyai tugas dan barangkali sebgai fitroh yang berbeda dalam beberapa hal dengan laki-laki. Seperti mengandung, melahirkan, menyusui dan semacamnya. Pun demikian seorang laki-laki mempunyai kewajiban lain yang bertujuan membentu perempuan dalam melaksanakan kewajibannya dan fitrah tersebut, seperti mencari nafkah, memenuhi kebutuhan perempuan dan anak-anak, dan semacamnya.

Menurut Sayyid Qutub kehadiran pria dan wanita tidak bisa dipisahkan dengan keutuhan dan keserasian sebuah keluarga. Keserasian dan keutuhan ini bisa berjalan dengan lancar manakala masing-masing pria dan perempuan menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing dengan baik. Pada gilirannya, keberhasilan sebuah keluarga merupakan suatu dasar keberhasilan bangsa dan tanah air.

Zamakhsyari mengatakan bahwa perbedaan kewajiban dan hak dalam islam bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan bersama, bukan untuk mendorong menghalalkan praktek diskriminasi.

Jadi memang posisi dan tugas perempuan itu tidak sama, ada wilayah yang memang khusus untuk laki-laki dan ada wilayah yang khusus untuk perempuan dan itu untuk kemaslahatan dan agar salaing melengkapi satu dan yang lain.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply