Hijab yang Ternoda

Terdengarnya suara merdu para santriwati di surau sudut desa, terenyah hati mengingat sang kuasa di kala fajar itu. Sang kuasa menciptakan manusia dalam enam masa di waktu yang sama.

Kala itu, terdengar jejak kaki sang kiai datang menghampiri meminta para santriwati berhenti sejenak melantunkan ayat suci. Karena, suara adzan telah berkumandang saat dini hari. Ini menunjukkan shalat jama’ah tiba untuk dilaksanankan.

“Ayo sholat riyen (mari shalat dulu),” ujar minta Sang kiai.

Awan hitam mulai mulai menghilang, sang fajar mulai sirna. Senyum mentari mulai menampakkan gigi, inilah wajah dunia yang penuh dengan kicauan burung merpati dan burung pipit di setiap ranting pohon.

Suara dan kesibukan para santriwatipun mulai berubah. Tapakan kaki mulai berpindah arah menuju menuju kesibukan yang berbeda. Terdengar celetukan dua santriwati yang sedang menuju peraduan setiap hari membicarakan artis idolanya. Maklum para santriwati menjadi seorang yang klasikal, jauh dari era-modern (kolot). Kehidupannya sangat agamis sekali.

“Rohmah, kenapa kamu diam saja? Kemarin kamu jadi membeli majalah Remaja, ndak? Saya kan kemarin pesen yang ada fotonya Xiem Boong (artis Korea) itu loh, mana, Mah?, mana?” pinta Halimah.

“Maaf, Hal, saya lupa. Soalnya saya kemarin tidak mampir ke pasar saat beli sayur. Nanti kalau saya dapat jadwal piket masak, nanti saya belikan. Kenapa sih kamu masih suka dengan majalah itu, padahal itu kan sangat dilarang di tempat kita, saya juga takut kalau ketahuan Kiai,” rintih Rohmah.

“Halah,.. Mah… Mah… kamu kan tahu kalau saya ngefans banget dengan artis itu. Saya tidak peduli dengan aturan yang dibuat oleh Kiai. Lagi pula kamu kan bisa menyembunyikan di tas, kan? Pokoknya minggu depan saya tagih ya,” paksa Halimah.

“Insyaallah… tapi tidak mau bertanggung jawab kalau ketahuan pak Kiai ya,” ujar Rohmah.

“Iya, biar itu jadi urusan saya, yang penting saya dapat majalah itu,” ujar Halimah kegirangan.

Di suatu sisi peraduan kamar, Rohmah merenungi nasib dirinya. Pesan ayahnya yang terngiang-ngiang di kepala membuat hati Rohmah tak berdaya dan tak kuat dalam hati. Sistem perjodohan yang dilakukan ayahnya pada dirinya seolah telah meracuni pikiran dan mematikan cita-citanya sebagai seorang mubalighah. Padahal dia di pesantren baru satu tahun.

“Mah, anakku…. Saya pengen kamu segera menikah dengan Rozi anak pak Tono tetangga kita sebelum saya meninggal,” pinta sang ayah yang sedang sakit di kamar.

“Iya, ayah (dalam hati Rohmah ia menolak, sebab belum kenal),” jawab Rohmah

Kata-kata itu masih teringat jelas di kapala Rohmah saat di Pesantren. Rohmah merupakan seorang yang berbakti pada orangtuanya, sholihah, dan baik hatinya. Itu sebabnya Rohmah sulit untuk menolak keinginan ayahnya. Saat Rohmah melamun, tibalah Fauziah membawakan kitab buat Rohmah dengan sedikit mengagetkan.

“Door… Rohmah! (mengagetkan dari belakang),” teriak Fauziah

“Astagfirullah,…. Zie, kenapa kamu ngagetin saya, lain kali kalau mau masuk ucapin salam kenapa,” pinta Rohmah dengan kaget.

“Maaf… maaf, iya..iya, Assalamua’alaikum,… lagian kenapa akhir-akhir ini kamu suka melamun semenjak pulang dari kampung, ada masalah apa?” tanya Fauziah.

“Tidak apa-apa, Zie, terimakasih atas perhatianmu, kamu memang temen terbaikku, he he,” ngeles Rohmah.

“Jangan bohong, saya itu tahu kamu, ayolah cerita… kita sudah berkawan sejak kecil,” pinta Fauziah.

“Sebenarnya saya takut, Zie, saya dijodohkan oleh ayah saya dengan mas Rozi tetangga kita itu,” jelas Rohmah.

“Rozi??? Kamu kan belum tahu dia, dia juga ndak pernah di rumah kan, dia sering di luar kota. Bahkan kalau di rumah dia itu sok banget, sok ganteng, sok kaya, pokoknya paling sok lah, lagi pula kan tidak suka,” tegas Fauziah.

“Tapi, Zie, saya harus mengikuti nasihat ayahku sebagai anaknya. Saya juga tidak mau membuatnya sedih,” rintih Rohmah.

“Yaudah… kamu yang sabar ya,” hibur Fauziah.

Setelah setahun berlalu, akhirnya waktunya Rohmah meninggalkan pesantren dan berpamitan pada pak Kiai dan teman-temannya. Selang beberapa minggu pernikahan antara Rohmah dan Rozi pun telah terlaksana. Akhirnya mereka tinggal di kota atas permintaan suaminya.

Di kota yang penuh nista ini Rohmah berasa hidup di neraka. Rohmah diminta untuk berpenampilan modis, layaknya wanita modern. Baju gamis nan muslimah terlepas dari badan ini.

“Kamu ini tinggal di kota, jadi hiduplah layaknya seperti orang kota. Jangan seperti orang kampung, ngapain juga memakai hijab, cepat lepas!!! Menghalangi kecantikan saja,” perintah Rozi.

“Tapi, mas, ini kan anjuran agama Islam. Saya dari dulu sudah memakai hijab. Saya tidak bisa kalau melepaskannya. Saya mohon jangan paksa saya,” rintih Rohmah.

“ Saya tidak peduli,… kamu mau pilih mana. Tetap sama hijabmu atau saya ceraikan detik ini juga!!” paksa Rozi.

Akhirnya Rohmah pun melepaskan hijabnya, mengingat pesan sang ayah. Walaupun di satu sisi Rohmah sangat berat mengambil keputusan itu. Setiap hari Rohmah menangisi kondisinya yang terabaikan oleh suaminya dalam sangkar emas. Pola hidup modern mulai memasuki dunia Rohmah.

Dia tak kuasa menahan semua ini. Dia mengingat masa-masa di pesantren yang penuh dengan kajian keilmuan agama bersama teman-teman. Dia menyesal telah melepaskan hijabnya demi suami yang tidak pernah ia suka dan kenal sebelumnya.  Dan akhirnya selam setahun Rohmah mulai berani memutuskan untuk bercerai dengan suaminya.

Dia menjelaskan pada ayahnya kalu suaminya tidak pernah baik padanya. Selepas itu dia kembali ke pesantren untuk memperdalam ilmunya, dia malu sama teman-temannya sebab dia pernah melepaskan hijabnya.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply