Hijrah, dari Membenci ke Mencinta

 “Kalau Kamu Beragama tapi membenci saudaramu sesama manusia, hijrahlah. Cari Ustadz atau Kiai yang mencintai manusia.” (K.H. Ahmad Mustofa Bisri)

Pernyataan Gus Mus tersebut mengandung banyak hal penting. Pertama, orang beragama seharusnya tidak menjadi pembenci. Namun realitasnya, ada atau bahkan banyak orang beragama yang justru menjadi pembenci.

Kedua, kemungkinan orang beragama menjadi pembenci karena salah memilih panutan. Artinya, ada Ustaz atau Kiai yang mengajarkan membenci. Hal yang secara logika terasa ganjil, pemuka agama kok mengajarkan yang berlawanan dengan ruh agama?

Ketiga, hijrah bisa kita maknai perpindahan dari menjadi pembenci beralih menjadi pecinta dengan cara memilih panutan seorang pecinta. Hijrah menjadi lebih memiliki makna yang dalam, melampaui sekadar berganti penampilan atau cara berpakaian sebagaimana lazim dipahami saat ini.

Masalahnya, jarang orang mau mengakui dirinya pembenci. Riset-riset kebencian dalam psikologi menghadapi kesulitan untuk “menjangkau” emosi benci ini karena orang enggan mengakui kalau Ia benci.

Pada akhirnya ada beberapa penanda yang digunakan sebagai indikator membenci. Misalnya menghindari kedekatan. Contoh dalam konteks agama, keengganan untuk hidup berdampingan sebagai teman, tetangga, teman indikos, dan seterusnya.

Indikator yang lain adalah penghinaan, atau merendahkan, kelompok lain. Misalnya, saat memberikan sebutan togog, cebong, kampret, kadrun (kadal gurun), badrun (domba gurun), itu niatnya memang menganggap mereka sebagai not human, dehuman atau tidak? Kalau iya, itu salah satu tanda Anda membenci.

Tanda yang lain adalah keinginan untuk melakukan tindakan yang merugikan, menyakiti, dan ultimate-nya menghilangkan kelompok lain jika memungkinkan.

Sebenarnya, manusia secara alamiah memang lebih suka berkumpul dengan yang “sama” karena ini terkait dengan perasaan aman. Cara kerja otak kita mengelompokkan informasi yang kita terima dalam kategorisasi sosial untuk memudahkan kita memahami dunia.

Misalnya, Anda berada di bandara, atau di kerumunan beragam orang di suatu lokasi baru. Secara otomatis Anda akan mengelompokkan orang berdasarkan tampilan fisik, apa yang terindra secara kasat mata. Kemudian akan segera muncul dalam pikiran Anda kategori berdasarkan jenis kelamin, warna kulit, cara berpakaian, bentuk rambut, dan ciri fisik yang lain.

Kemudian, saat Anda akan duduk misalnya, Anda akan cenderung mencari yang sama dengan Anda, kan? Mungkin sesama perempuan/laki-laki, atau memilih yang seusia dengan Anda.

Sampai di titik ini, tidak ada masalah dengan keinginan untuk ngumpul dengan yang memiliki persamaan dengan kita. Bahkan pada kelompok yang lebih menetap, misalnya sebagai muslim, atau sebagai aliran dalam agama, Nahdhatul Ulama atau Muhammadiyah, normal dan lumrah jika orang senang dan merasa nyaman dalam kelompoknya.

Menganggap kelompoknya paling baik pun masih bisa dipahami dan manusiawi. Coba saja tanya penggemar klub sepak bola, drama Korea, atau artis tertentu. Bagi mereka, idolanya adalah segalanya, yang rela mereka bela dengan adu lambe di media sosial.

Lantas mulai bermasalah dan menimbulkan kebenciannya kapan? Segala pemujaan dan pandangan positif terhadap kelompok kita, dalam hal ini sebagai muslim, akan berbuah kebencian jika mulai ada pikiran orang yang berbeda atau kelompok lain sebagai ancaman.

Misalnya saja, sebagai muslim, kita merasa umat lain sebagai ancaman terhadap akidah dan nilai-nilai yang kita anut. Seperti baru saja saya baca anjuran untuk tidak mengunjungi candi karena dianggap mendekati berhala. Lha buat orang Indonesia yang mengakrabi candi hanya sebagai tempat wisata sejarah ajaran itu? Kok terasa paranoid sekali, ya?

Contoh lainnya rasanya dekat sekali. Ustaz yang menggambarkan agama lain sedang merencanakan upaya sistematis untuk menggoyahkan iman, akidah kita. Paling anyar ya ustaz muallaf yang dapat panggung untuk membual bahwa ia putra kardinal yang ditugaskan memurtadkan orang Islam. Ada juga ustaz yang menyatakan ada konspirasi untuk menghancurkan Islam melalui drama Korea, TikTok, dan entah apalagi yang semuanya tak dapat kita buktikan.

Kebencian juga dapat timbul jika sejarah konflik tidak ditengahi dengan rekonsiliasi. Jika relasi umat Islam dengan kelompok di luar Islam, atau bahkan sesama Islam namun beda paham, tetap dinarasikan sebagai kepanjangan permusuhan di masa silam, maka kita sedang menyemai kebencian.

Realitas konflik di masa lalu sebenarnya dapat dipahami dalam kerangka “politik” atau sejarah hubungan antarkelompok untuk mengambil pelajaran agar tidak terulang. Bukan sebaliknya, terus dihidup-hidupi dengan narasi menuntut balas atas penderitaan yang telah dialami oleh muslim akibat tindakan non-muslim.

Mulai terbayang belum ustaz-ustaz yang gemar memaparkan permusuhan antara muslim dan non-muslim di Indonesia dan di luar negeri yang seolah-olah umat Islam semata-mata korban? Padahal dalam perang, terkadang kedua belah pihak adalah pelaku sekaligus korban pertarungan politik elite belaka.

Tanda kebencian lain akibat perasaan terancam dan dendam masa lalu adalah keinginan untuk melakukan hal yang merugikan kelompok lain, atau tak rela jika ada kesenangan dirasakan kelompok lain.

Ustaz atau Kiai yang menyarankan kita berlaku tak adil semata-mata karena agama yang berbeda layak untuk kita tandai, dan tinggalkan. Misalnya, saat menyeleksi beasiswa, kita harus berlaku adil dan tidak mengistimewakan kelompok kita semata-mata karena kesamaan agama.

Pada akhirnya, mencintai Islam tanpa membenci dapat kita lakukan dengan menaati ustaz yang mengajak untuk terus sibuk belajar memperbaiki keimanan kita, menambah amalan, daripada sibuk mengoreksi iman yang lain. Kita dapat memilih Kiai yang menyerukan pada persaudaraan sesama manusia, dan bukan mengajak pada permusuhan.

Mengajak menggunakan identitas keislaman kita secara empan papan, dan menyadari di atas semua identitas itu, terdapat identitas yang sama di antara kita semua, yaitu sebagai sesama manusia.

Yuni Nurhamida

Sumber: https://www.qureta.com/next/post/hijrah-dari-membenci-ke-mencinta

 

No Comments

    Leave a reply