HIJRAH YANG RADIKAL

Kalau kita melihat fenomena hijrah pemuda zaman sekarang, biasanya dilatarbelakangi karena ingin move on dari kehidupan lama yang dianggap kurang islami menjadi lebih islami atau lebih religius. Bentuk hijrah mereka biasanya mengubah gaya berpakaian; perempuan yang memakai kerudung biasa menjadi jilbab besar; laki-laki yang biasanya memakai celana di atas mata kaki.

Perubahan lainnya adalah tata bahasa; dari ‘aku’ menjadi ‘ana’, ‘kamu’ jadi ‘antum’, dan bahasa Arab lainnya yang dianggap lebih religius dibanding bahasa lokal.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Convey Indonesia dan UIN Sunan Kalijaga, tren hijrah juga sampai pada aspek sosial para generasi milenial. Sehingga menurut penelitian ini, para pelaku hijrah tersebut menjadi asosial terhadap lingkungan mereka sebelumnya.

Kata hijrah terilhami oleh peristiwa perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah menuju Yatsrib (Madinah). Pindahnya Nabi membawa dampak bagi perkembangan Islam di tanah Arab sampai pada puncaknya peristiwa Fathul Makkah (pembebasan Makkah). Hal itu menjadi sebuah pembuktian bahwa kepindahan Nabi bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah strategi dakwah dengan damai.

Namun, ada satu hal yang luput dari cara mereka memahami hijrah. Hijrah Nabi tidak hanya dalam misi untuk penyebaran agama, namun juga misi sosial. Terbukti hal pertama yang dilakukan nabi ialah mempersaudarakan dua kelompok besar, yaitu kelompok Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari kota Makkah) dan kelompok Anshar (yaitu penduduk kota Madinah).

Tindakan Rasulullah SAW yang kedua ialah mengeratkan persaudaraan di antara kabilah-kabilah tadi menuju keharmonisan pergaulan. Langkah Nabi selanjutnya ialah menerapkan hukum yang diajarkan Allah secara bertahap. Nabi, dalam menghadapi masyarakat yang plural, tidak melangkah cenderung ingin mengubah dengan cepat, melainkan secara bertahap.

Maka hijrah tidak boleh hanya terpaku pada bagaimana kita hidup lebih agamis kemudian melalaikan misi sosial. Seperti dicontohkan oleh Nabi, yang ketika berhijrah tidak hanya membangun agama, tapi juga membangun tatanan sosial. Membangun sebuah masyarakat jahiliah yang tak bermoral menjadi masyarakat berperadaban. Membangun masyarakat Arab yang semula tak diperhitungkan kekuatannya, hingga membuat kejutan dengan berbagai penaklukkan.

Maka jangan hanya melihat hijrah dari satu sisi. Lihatlah secara utuh. Bahwa hijrah bukan berarti asosial, namun hijrah harus sampai pada tingkat kesalehan sosial.

Hijrah bukan berarti melalaikan lingkungan yang lama, namun bagaimana ikut mewarnai lingkungan yang lama untuk bisa lebih baik. Hijrah yang menuju lebih islami tidak boleh dipahami dengan cara mengislamkan Indonesia yang berlandaskan Pancasila, yang lantas dianggap kurang islami dan harus diganti dengan landasan Islam. Hijrah yang seperti itu adalah hijrah yang radikal.

Dinamika yang terjadi, banyak yang ingin berhijrah namun hijrahnya menuju lebih radikal, dengan memahami agama sebagai sebuah ideologi. Salah satu cirinya adalah dengan memahami agama secara tekstual.

Menurut Magnis Suseno, ciri dari ideologi adalah selalu dimuat dalam kehidupan sehari-hari, diterapkan dalam tingkah laku, kalau tidak dilakukan tidak boleh. Contoh, jika tidak memakai peci, tidak bisa dikatakan mengaji. Tidak dikatakan solehah jika tidak memakai kerudung yang besar.

Ketika agama sudah menjadi sebuah ideologi, maka akan menjadi kaku. Pertanyaannya, harus dipahami seperti apa agama ini?

Menurut Gus Dur, agama semestinya dijadikan seperti budaya. Dengan begitu, agama akan menyatu dalam tingkah laku. Maka, para penganut agama pun akan lebih moderat dan toleran.

Masih menurut Gus Dur, salah satu faktor seseorang menjadi radikal adalah karena latar belakang pendidikannya bukanlah agama, melainkan eksakta. Kemudian ia belajar agama dari seorang guru yang memahami agama secara literal. Dari sanalah benih-benih radikalisme bermula.

Dalam fase selanjutnya, orang radikal akan cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar. Mereka juga menolak berdiskusi dengan orangtua, teman, tetangga, dan orang lain yang berbeda pemahaman.

Fase ketiga adalah mulainya klaim atas kebenaran tunggal; yang berbeda pandangan dengannya dianggap salah. Ketika orang sudah pada fase ini, ia akan mudah disusupi oleh pemahaman jihad yang eksklusif, iming-iming surga dan bidadari, ujung-ujungnya adalah memahami mati syahid sebagai tujuan hidup.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply