Hikayat Puasa dari Seorang Nasrani

Aku sangat merindukan nenekku, terutama ketika bulan puasa tiba.  Walaupun aku bukan muslim bulan puasa selalu istimewa bagiku.  Di masa kecilku puasa adalah mengenai nenekku tercinta, dialah malaikat yang menjagaku dan memeliharaku dari hari ke hari. Dengan tubuh rentanya dia tak pernah menyerah mengejarku ke sana kemari yang dianugerahi energi berlebih untuk bergerak secara terus menerus.

Dan karena dialah aku mulai berpuasa bersama dengan saudara – saudara muslim di bulan Ramadhan.  Demi menemani nenek berpuasa, aku ikut berpuasa dan mulai sejak itu selalu ikut berpuasa ketika Ramadhan tiba, bahkan setelah nenek dipanggil sang semesta untuk berpindah alam ke akhirat meninggalkan aku dengan salah satu warisannya yaitu puasa dan artinya untuk hidupku.

Salah satu Guru SMA-ku pernah berkata “ ketika kamu sudah berniat mencontek atau curang ketika ujian, sebanyak apapun kamu belajar itu akan percuma tidak akan ada yang masuk ke otakmu”. Awalnya aku tidak mengerti dan tidak percaya, namun setelah mulai belajar berpuasa aku mulai menyadari hal itu adalah benar.

Puasa sejak dalam pikiran, itulah mungkin kata pas untuk menyebut apa yang kusadari ketika kupelajari di awal – awal aku belajar berpuasa.  Malam sebelum berpuasa dalam pikiranku terbesit “besok kalau tidak kuat ya tinggal batalkan saja puasa di tengah hari, toh aku masih belajar berpuasa” hingga pada esok hari sekuat apapun aku mencoba tidak pernah aku kuat untuk puasa seharian sampai dengan waktu buka puasa ketika maghrib tiba.  Selalu ada saja alasan yang muncul untuk membatalkan puasa di tengah hari.

Para orang tua sering berkata semua itu harus berawal dari niat, sebab itu benar dan niat dimulai dari pikiran kita.  “ Jagalah pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu. Jagalah ucapanmu, karena ia akan menjadi tindakanmu. Jagalah ucapanmu, karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu.  Jagalah karaktermu, karena ia akan menjadi nasibmu” kurasa pepatah itu benar adanya, puasa mengajarkan aku bahwa semua berawal dari pikiran.  Layaknya rasa keadilan, puasalah sejak dalam pikiran.

Tumbuh sebagai anak yang beragama nasrani ditengah keluarga besar dan lingkungan yang sebagian beragama Islam, puasa membawa aku lebih menyatu dengan mereka.  Merasakan lapar yang mereka rasakan , merasakan haus yang mereka rasakan dan merasakan nikmatnya berbuka puasa bersama mereka.  Menyepak bola di tengah alun – alun kota kami lakukan hampir setiap sore, rasa senang bermain bersama mengaburkan lapar dan dahaga, menjelang Maghrib kami pulang dengan rasa haus menggaruk, membayangkan dinginnya air es menyentuh kerongkongan ketika berbuka adalah surga yang dirindukan bagi kami anak – anak kampung yang belum terkontaminasi kebencian akibat perbedaan agama.

Seorang rekan yang merupakan mantan orang jalanan pernah berkata “bagi orang jalanan kesamaan nasib lebih kuat daripada kesamaan keyakinan” ternyata benar , puasa menyatukan kami yang berbeda suku dan agama lebih dan lebih lagi, berjuang bersama dalam lapar dan dahaga membuat kami satu dalam rasa.

Kesedihan dan kesepian itulah yang kurasakan, ketika sedang berkumpul bersama dengan teman – teman bermain dan bercanda setelah berbuka puasa namun pada ketika waktu Ishak datang, mereka harus beribadah Tarawih meninggalkan aku sendiri seorang nasrani yang memang tidak berkewajiban melaksanakannya.

Kenangan akan rasa kesedihan dan kesepian tersebut yang membawaku ke dalam perjalanan iman dalam hidupku, masa remajaku kulalui dengan pergumulan jalan mana yang kupilih untuk menuntunku ke surgaku. Mencoba menilai kelebihan dan kekurangan dalam setiap jalan keyakinan yang disediakan dunia untukku membawaku dalam pertanyaan, apakah memang salah satu jalan keyakinan yang benar sedangkan yang lain salah? atau setiap jalan keyakinan benar, namun kitalah manusia yang sering salah dalam mengartikannya.

Segala pergumulan itu membawaku dalam sebuah kesadaran, benar dan salah, baik dan buruk itu bukan terletak pada jalan keyakinan namun dalam pilihan kita sebagai manusia dalam menjalani dan mengimaninya.  Puasa membawaku dalam perjalanan iman dan perjalanan tersebut membawa kesadaran bagiku dalam menilai dan mengerti pilihan manusia dalam segala jalan keyakinan yang mereka imani.

Ketika mulai berpuasa tidak pernah terpikirkan olehku bahwa puasa membawa begitu banyak arti bagi hidupku.  Aku berharap bahwa puasa juga akan membawa banyak arti untuk semua orang apapun agama dan keyakinanmu.  Besar harapan puasa menjernihkan pikiran kita semua, karena dari situlah segala sesuatu berawal.

Pada bulan puasa inilah jugalah aku berharap bahwa kita menyatukan hati kita dalam satu rasa  apapun perbedaan kita dan aku berharap momen puasa ini akan membawa perjalanan iman bagi saudara – saudaraku semua, yang akan membawa kesadaran lebih baik dalam menjadi manusia.  Selamat menjalankan ibadah puasa hai saudara – saudaraku umat muslim, dari aku sang nasrani yang mencintai dan menjalani puasa bersamamu.  Shalom

Sumber : qureta.com

Tags: , , ,

No Comments

    Leave a reply