Intelektual yang Dirindukan

Akhir tahun 2018 hingga nanti memasuki tahun 2019 seperti kata para ahli, kita akan berada dalam tahun-tahun politik. Layar kaca, media massa, dan dunia maya akan disuguhi dengan kampanye masing-masing pasangan.

Para politikus dari masing-masing kubu akan memaparkan pendapatnya berdasarkan di pihak mana dia berada. Kelak sang pemenang dari hajat besar demokrasi seperti biasanya akan menempatkan sebanyak mungkin orang kepercayaannya menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan.

Di sinilah para intelektual akan diuji. Apakah ia akan tetap berdiri dan berbicara berdasarkan kebenaran atau ia akan tergiur dengan kursi kekuasaan dan berbicara berdasarkan pesanan.

Apa yang kita lihat hari ini agaknya sulit sekali menemukan seorang intelektual yang dengan keilmuannya berbicara berdasarkan kebenaran dan tidak tergiur dengan kekuasaan. Oleh karena itu, tidak heran dalam sebuah diskusi yang tayang di sebuah stasiun televisi pada tiap Selasa malam pukul 20.00, salah seorang peserta diskusi, Sujiwo Tedjo, seniman serbabisa, mengomentari para politikus agar juga bisa bersikap intelektual. Artinya, mereka para politikus diharapkan tidak hanya membela secara membabi buta pasangan yang mereka usung, tetapi juga melakukan autokritik terhadap junjungan mereka jika melakukan kesalahan.

Lantas siapa sebenarnya intelektual itu? Gramsci seorang wartawan berkebangsaan Italia, yang aktif mengorganisir gerakan kelas pekerja di Italia, menyatakan bahwa intelektual dapat dibagi menjadi dua. Yang pertama, intelektual tradisional, yaitu orang yang secara terus-menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi, seperti guru, ulama, dan para administrator.

Sedangkan yang kedua, Gramsci menyebutnya sebagai intelektual organik, yaitu kalangan yang berhubungan dengan kelas atau perusahaan yang memanfaatkan mereka. Gramsci yakin intelektual organik selalu bergerak aktif di tengah masyarakat untuk mengubah pikiran dan memperluas pasar. Tak seperti intelektual tradisional yang melakoni pekerjaan serupa dari tahun ke tahun, intelektual organik selalu aktif bergerak dan berbuat.

Pengertian yang lebih lebih lugas diungkapkan oleh Julian Benda, seorang filsuf dan novelis Prancis yang menulis buku Trahison des Clercs (Pengkhianatan Kaum Intelektual). Ia mengungkapkan bahwa kaum intelektual adalah orang yang memiliki moral filsuf-raja. Mereka adalah makhluk langka yang menciptakan sebuah tatanan di masyarakat. Hanya kebenaran dan keadilan abadilah yang diperjuangkan oleh orang-orang ini.

Edward Said mengungkapkan bahwa pendapat dari Benda ini berisiko membuat seorang intelektual dibakar di tiang dan dikeluarkan dari komunitas atau disalibkan. Bahkan, secara lebih dalam, figur intelektual menurut Benda adalah mereka yang berbicara tentang kebenaran kepada para penguasa tanpa ada rasa ragu dan takut. Bagi mereka, tidak ada kekuasaan yang terlampau besar yang bisa bebas dari kritik dan tugas mengkritik adalah tugas para intelektual.

Pernyataan yang hampir senada mengenai kaum intelektual juga diungkapkan oleh Noam Chomsky, seorang profesor emeritus linguistik dan filsafat yang berasal dari Amerika. Dalam bukunya Who Rules The World, Chomsky membagi kaum intelektual menjadi dua kelompok, yaitu intelektual konform atau teknokrat dan intelektual nilai.

Intelektual konform adalah mereka yang mendukung kebijakan pemerintah dan mengabaikan atau merasionalisasi kejahatan pemerintah. Acap kali mereka pada akhirnya mendapat tempat terhormat dan keistimewaan di tengah masyarakat. Sedangkan kaum intelektual nilai adalah mereka yang mengabdikan diri untuk melecehkan kepemimpinan, menentang otoritas dan bahkan menentang lembaga yang bertanggung jawab atas indoktrinasi generasi muda.

Definisi yang disampaikan oleh Benda maupun Chomsky membuat seorang intelektual memiliki idealisme yang tidak ternilai harganya. Untuk mempertahankan idealisme tersebut, intelektual kerap kali dijauhi dan diasingkan oleh lingkungannya, bahkan juga oleh bangsanya sendiri.

Menurut Edward W. Said, harapan terbesar bagi seorang intelektual bukanlah memperoleh ketenaran di dunia, tetapi pada suatu waktu, suatu tempat, seseorang akan membaca apa yang pernah ia tulis. Pengasingan bagi mereka adalah tempat untuk menulis dan dari menulis pulalah mereka akan menemukan kehidupan.

Sumpah Al-Ghozali

Sebuah contoh diberikan dengan sangat baik oleh Al-Ghozali tentang bagaimana seharusnya seorang intelektual bersikap di hadapan penguasa. Al-Ghozali merupakan seorang intelektual yang berasal dari Timur Tengah. Ia dilahirkan di Desa Thus, Iran.

Suatu ketika di masa senjanya, Al-Ghozali yang pada waktu itu merupakan sosok yang dikenal sebagai seorang intelektual yang sangat dihormati mendapatkan sepucuk surat dari seorang penguasa. Surat tersebut meminta Al-Ghozali untuk datang ke istana agar sang penguasa mampu bertanya banyak hal dan meminta nasehat dari dirinya secara langsung.

Sesuatu yang pada hari ini juga sering terjadi, mengundang para intelektual untuk makan siang di istana. Namun jawaban Al-Ghozali untuk surat tersebut sangat mengesankan. Ia menuliskan bahwa sejak beberapa tahun lalu ia pernah bersumpah mengenai beberapa hal yang akan dipegangnya hingga kematian datang. Pertama, ia tidak akan sudi untuk mendatangi pintu istana dan selanjutnya ia juga bersumpah tidak akan mau menerima segala bentuk upah yang berasal dari penguasa.

Benar-benar kalimat yang tegas dari seorang intelektual sejati. Undangan dari seorang penguasa untuk hadir di istana yang biasanya menjadi idaman dan sesuatu yang membanggakan bagi siapa saja yang memperolehnya justru oleh Al-Ghozali ditolak dan bahkan Al-Ghozali juga tidak sudi menerima upah yang berasal dari istana. Kekayaan dan jabatan tidak membuat Al-Ghozali tergiur dan menggadaikan keilmuannya dan bahkan dalam beberapa surat lainnya ditemukan pula bahwa Al-Ghozali kritik keras terhadap penguasa.

Ia, misalnya, menuliskan bahwa petugas pajak yang korup telah memeras rakyat demi keuntungan sendiri, sementara rakyat remuk raganya dan berkeluh kesah karena kemiskinan. Sedangkan para penguasa justru hidup dalam kemewahan dan bersikap acuh tak acuh.

Al-Ghozali adalah potret ideal seorang intelektual masa lampau. Indonesia sendiri dengan sejarahnya yang panjang juga telah banyak melahirkan figur intelektual. Salah satunya kita kenal pada masa peralihan antara Orde Lama dan Orde Baru. Seorang intelektual muda berdarah Tionghoa yang tulisannya hingga saat ini menjadi bacaan wajib bagi para aktivis pergerakan di kampus.

Ia adalah intelektual yang menentang dua rezim pemerintahan secara berturut-turut, Soekarno dan Soeharto. Dengan goresan penanya, dia mengkritisi ketidakadilan yang dilakukan oleh dua pemerintahan tersebut. Bahkan ketika kawan perjuangannya beralih menjadi politikus, Soe Hok Gie mengirimi mereka dengan bedak, gincu, dan cermin sebagai sindiran agar mereka mampu berdandan lebih cantik di hadapan penguasa. Hari ini, amat sulit bagi kita menemukan sosok intelektual yang tidak mudah dibeli.

Di hari-hari yang penuh dengan konflik ini, sebenarnya kita sangat merindukan sosok tersebut. Namun agaknya rasa rindu tersebut belum akan terbayarkan dalam waktu dekat ini.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply