Membuka tulisan ini, penulis kira akan menarik dikutip ungkapan salah satu tokoh Islam yang cukup fenomenal akhir-akhir ini, yakni dr. Zakir Naik.

Dalam salah satu seminarnya, Naik mengatakan: “Jika ingin menilai apakah Islam benar atau tidak, jangan merujuk pada perilaku umatnya. Karena bisa jadi Anda akan menemukan kesalahan. Tapi rujuklah langsung dari sumber ajarannya, yaitu Quran dan Sunah Nabi. Sebab di sana Anda akan melihat wajah Islam yang sesungguhnya.

Ya, ungkapan tersebut penulis anggap penting untuk menjadi perhatian umat Islam dalam menyikapi fenomena belakangan dan juga masyarakat dunia saat hendak memberikan penilaian terhadap Islam.

Harus diakui bahwa di lapangan kita akan sering melihat betapa antara teori yang diajarkan Islam dan praktik yang diamalkan oleh umat Islam tampak berlainan. Terdapat jurang yang cukup lebar. Kontradiksi terjadi di sana. Atau yang dalam bahasa Amien Rais, terjadi pertentangan antara Islam secara cita dan Islam sebagai fakta.

Sekarang, apa itu Islam cita dan Islam fakta? Ahmad Syafii Maarif menjelaskan, Islam cita adalah Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Quran dan Sunah Nabi. Sedangkan yang dimaksud dengan Islam fakta adalah Islam yang dipraktikkan oleh umat Islam. Islam cita sudah pasti benar, sedangkan Islam fakta bisa jadi benar dan juga bisa jadi salah. Tergantung seberapa jauh kesesuaiannya dengan Islam sebagai cita.

Islam cita adalah pedoman, pedoman yang berisi ajaran, tuntanan, gagasan tentang bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Islam sebagai cita berisi nilai-nilai ideal tentang bagaimana seharusnya berlaku pada semesta. Sebab, sebagaimana jargonnya, Islam mengemban misi sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Namun pertanyaan besarnya, sudahkah umat Islam mewujudkan misi tersebut di muka bumi? Mengingat banyaknya tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan kepada Islam. Jawabannya adalah belum seluruhnya.

Penulis belum berani mengatakan tidak. Karena itu berarti menyeragamkan. Di tengah dunia yang dilanda banyak krisis ini, ada sebagian dari umat Islam di seberang sana yang senantiasa teguh dan istikamah menjalankan nilai-nilai Islam damai dan menjunjung tinggi kebenaran

Islam sebagai ajaran selalu mengajarkan umatnya tentang keseimbangan, yaitu sikap jalan tengah, tidak berat sebelah, baik ke kanan ataupun ke kiri. Islam selalu menuntun umatnya agar bersikap santun dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Islam sebagai ajaran adalah agama yang berkemajuan. Memerintahkan umatnya berpikir maju dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Islam sebagai ajaran selalu membimbing umatnya agar selalu menebar kasih dan perdamaian.

Adapun jika di lapangan kita melihat perilaku yang ditampilkan tidak mencerminkan ajaran di atas, maka yakinlah bahwa itu bukanlah bagian dari Islam. Hal itu murni sebagai kesalahan dan kekeliruan mereka dalam memahami Islam.

Misal, kita melihat banyak dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam melakukan tindakan kekerasan. Melakukan teror di sana-sini. Sehingga dunia menjadi tempat yang tidak aman. Mereka menggunakan agama guna melegitimasi tindakan brutal mereka. Padahal agama tidak pernah mengajarkan demikian.

Contoh yang lain adalah banyak dari umat Islam yang anti terhadap dunia dan cenderung menutup diri pada perubahan. Sehingga sebagai pelarian, mereka menarik diri dari kerumunan orang dan memilih untuk lebih asyik beribadah tanpa memedulikan keadaan sekitarnya. Terkesan anti-sosial.

Padahal Islam tak pernah mengajarkan demikian. Islam memang menyuruh umatnya untuk beribadah sebagai pengabdian pada Rabb-Nya, namun tidak berarti memerintahkan kita untuk abai terhadap dunia. Malah Islam memperlakukan antara dunia dan akhirat secara seimbang.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menarik diri dari masyarakat. Islam mengecam akan hal itu. Bahkan dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:

“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka itu lebih baik dari lpada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi 2507, Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365)

Islam seperti penjabaran di atas adalah kerangka berpikir yang paripurna dan sempurna. Tapi mengapa umat Islam masih belum mem-bumi-kan pesan-pesan langit tersebut di dalam kehidupan? Dan bahkan bisa dikatakan ‘menentang’nya. Hal itu, menurut Ahmad Syafii Maarif, karena fungsi Quran sebagai petunjuk dalam urusan-urusan dunia, baik dalam skala besar atau kecil, sudah lama ditinggalkan oleh umat Islam.

Bahwa Quran masih diimani sebagai Kitab Suci umat Islam, itu adalah sebuah fakta. Tetapi bahwa kitab ini sudah diabaikan sebagai acuan dalam memecahkan masalah, adalah fakta yang lain pula. Umat Islam di dalam ber-Islam sudah tidak lagi mengindahkan ajaran-ajarannya, namun lebih mengedepankan hawa nafsu.

Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah yang merupakan tempat pertama kalinya Islam disebarkan, misalnya, malah terjebak dalam perang yang berkepanjangan dan saling berebut kekuasaan. Sesuatu yang sangat jauh dari ajaran Islam. Mereka adalah contoh dari orang-orang yang ber-Islam berdasarkan hawa nafsu.

Para penguasanya tidak lagi memperlakukan Islam sebagai pedoman, melainkan sebagai topeng dan alat yang memuluskan kehendak mereka untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi. Maka dalam hal ini, penulis sepakat Ahmad Syafii Maarif bahwa Islam itu sering kali ditelikung oleh penguasanya.

Oleh karenanya, Amien Rais dengan berpedoman pada Quran mengajak orang-orang untuk selalu kritis pada penguasa. Karena mereka yang tidak kritis pada Hari Akhir nanti akan menyesal dan mengeluh, “Ya Tuhan kami! Kami telah taat kepada para pemimpin dan orang-orang besar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalan-Mu yang lurus.” (Q.S. Al-Ahzab: 67)

Dan di samping pengaruh dari ketamakan dan kepentingan dari para pemimpinnya, hal lain yang juga membuat umat Islam kerap kali melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam adalah buramnya dan kelirunya mereka dalam memahami Quran dan Sunah Nabi.

Karena itu, salah satu cara yang paling mendasar untuk mencegah terjadinya kesenjangan antara Islam cita dan Islam fakta adalah memperbaiki pemahaman kita terhadap Quran dan Sunah Nabi dengan bantuan dan bimbingan ulama yang memiliki wawasan yang luas dan dapat dijadikan teladan. Kemudian mengamalkan apa yang telah diterima dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, tuduhan-tuduhan buruk dan keji yang dialamatkan terhadap Islam terminimalisasi dan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta serta harapan menjadi kiblat umat manusia dapat terwujud.