Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti. Meski demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru keterkaitan Islam dalam setiap elemen kehidupan tidak bisa terpisahkan.

Islam selalu relevan di mana pun dan kapan pun berada. Artinya, dalam setiap perkembangan zaman yang tak dapat terelakkan, Islam selalu hadir dan mampu menyesuaikan diri, adaptif serta adoptif tanpa kehilangan jati diri.

Karenanya, muncullah adagium ulama yang arif bijaksana dalam menjawab perkembangan zaman, “al-Muhafadhatu ala al-Qadim al-Shalih, wa al-Akhdu bi al-Jadid al-Ashlah”, (Menjaga tradisi klasik yang baik dan tetap relevan serta membuka diri mengadopsi tradisi modern yang lebih baik dan relevan).

Islam memang bukanlah tujuan, tapi Islam adalah washilah menuju Tuhan. Konsep sederhana ini adalah ringkasan dari uraian panjang lebar gagasan dua tokoh populer yang menjadi banyak rujukan para intelektualis Indonesia dewasa ini. Adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid (Cak Nur) yang sangat aktif meyuarakan gagasan-gagasan keislaman yang progresif.

Dari kedua tokoh, Gus Dur dan Cak Nur, telah banyak menuangkan gagasan-gagasan keislaman yang terbukti mampu menjawab perkembangan zaman. Karenanya, Islam menjadi tidak rigid dan Islam terus berkembang menyesuaikan perkembangan zaman. Bahkan kemudian bisa memunculkan suatu teori baru yang mencerahkan dalam konteks kekinian, yang belakangan populer disebut dengan Islam kosmopolitan.

Kosmopolitan yang dimaksud tersebut terurai dari tambahan adagium di atas, yakni ‘wal ijadu bi al-jadid al-ashlah fa al-ashlah’. Artinya, merekonstruksi keislaman yang stagnan menjadi dinamis dan kosmopolitan serta menebar nilai-nilai keislaman yang menginspirasi pada semua elemen kehidupan tanpa menekankan adanya sebuah paksaan untuk diterima.

Dalam konteks keindonesiaan, Islam selama ini bisa melebur dan berbaur dengan keragaman yang ada. Perbedaan agama, tradisi, budaya, ras, ataupun etnis tak menjadi halangan untuk bersatu demi membangun negara Indonesia bersama-sama. Slogan “Bhinneka Tungga Ika” justru menjadi inspirasi umat Islam untuk menanamkan benih nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran Islam.

Universalisme Islam meliputi nilai-nilai sosial, seperti persamaan hak dan kewajiban, keterbukaan, keadilan, kejujuran, kerukunan, toleransi, pluralisme, dan multikultural, yang di mana merupakan pilar-pilar kehidupan yang demokratis. Karena sejak semula Islam memang mengajarkan hal-hal tersebut. Terciptanya masyarakat madani yang diprakarsai oleh Nabi Muhammad saw di Madinah adalah bukti konkret adanya universalisme Islam.

Islam mampu bergaul dan berinteraksi dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Sehingga hal ini ditegaskan dengan sebuah adagium “al-Islam shalihun li kulli zaman wa makan”. Artinya, kapan pun dan di mana pun berada, Islam akan beradaptasi tanpa menghilangkan substansi ajarannya. Justru, memberikan inspirasi dalam menciptakan stabilitas kehidupan peradaban manusia.

Para founding father negara Indonesia telah bersepakat membangun sebuah negara yang menerima dan menghormati semua yang ada di dalam Indonesia. Semangat nasionalisme tumbuh secara natural dalam diri setiap warga negara. Hal ini tidak bisa terlepas dari sejarah bangsa yang merebut kemerdekaannya dengan segenap tenaga, air mata, darah, hingga nyawa sekalipun, semua dikorbankan demi eksistensi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Tidak berhenti hanya merdeka, selanjutnya cita-cita membangun bangsa yang mandiri, sejahtera, adil, dan makmur diperjuangkan kemudian. Kerenanya, Islam tentu selaras dan tidak keberatan sama sekali dalam mewujudkan cita-cita itu.

Sehingga, hadirnya motto “hubbul wathan minal iman” menjadi titik tolak untuk membangun tegaknya jiwa nasionalisme, dan bahwa nasionalisme tentu tidaklah bertentangan dengan Islam. Justru, nilai-nilai Islam yang universallah yang menjadi landasan nasionalisme.

Memahami secara utuh tentang keislaman akan menemukan keharmonisan hidup. Islam menjadi the way of life yang menebarkan perdamaian. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap sisi kehidupan tidak lantas dipertentangkan. Perbedaan justru menjadi anugerah untuk saling melengkapi.

Dalam konteks inilah gagasan dari dua tokoh besar yang mengagumkan ini layak ditampilkan dan dilestarikan. Jika Gus Dur hadir dengan inspirasi gagasan keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan, maka Cak Nur dengan setali tiga uang hadir menawarkan keislaman, kemordenan, dan keindonesiaan.

Keduanya tentu tidak bisa terlepas dari pergumulan intelektual panjang yang melibatkan sisi spritual sekaligus, yang kemudian melahirkan kecerdasan dan kepedulian sosial. Representasi santri par excellence tampak dari keduanya, sebagai manusia yang saleh ritual juga saleh sosial.

Pada akhirnya, Islam kosmopolitan akan menerima dan menghargai beragam pendapat untuk kemudian digunakan membangun cita-cita bersama mewujudkan kehidupan yang damai, adil, dan sejahtera.

Dengan kata lain, Islam kosmopolitan hadir membingkai kehidupan bermasyarakat dan bernegara untuk masa depan yang lebih kondusif serta mengedepankan harmonisasi di antara sesama umat manusia, meski dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply