Islam Murni Cinta, Bukan Ekstremisme

Mengenai posisi umat Islamdi antara umat-umat selebihnya, secara jelas Alquran menetapkan dan mengidentikkan,dan tentu saja, sekaligus bermakna sebagai perintah mereka sebagai ummatan wasathan, umat pertengahan, umat yang moderat.

Alquran menarasikan: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu… (QS al-Baqarah 2: 143)

Dalam tradisi kenabian, Nabi Muhammad Saw pernah mendifinisikan dan mencirikan risalah yang dengannya ia diutus. Jabir meriwayatkan sabda Nabi: Aku diutus dengan membawa agama yang lurus lagi toleran; atau siapa pun yang menyalahi tradisiku, dia bukanlah bagian dariku.

Dalam kesempatan lain, Ibn Mas’ud dan Jabir ibn Abdullah melaporkan, suatu ketika Rasulullah Saw membuat garis dengan tangan beliau sendiri. “Inilah jalan Allah yang lurus,” komentar Nabi setelahnya. Kemudian beliau membuat garis lagi di tepi kanan dan kirinya, “Inilah jalan-jalan (yang lain). Tidak satu jalan pun darinya, kecuali terdapat setan yang menyeru kepadanya.”

Kemudian beliau membaca ayat, “Dan sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (QS al-An’am 6: 153).

Garis yang dipilih oleh sang Nabi bukanlah yang kanan maupun kiri, namun yang diapit keduanya: garis tengah. Secara simbolik, ini sekaligus mempertegas narasi di atas bahwa watak dasar Islam yang sejati adalah moderat, tengah-tengah.

Bukan hanya dalam persoalan-persoalan profan, duniawi, bahkan dalam aktivitas ibadah yang amat sakral sekalipun Nabi melarang ekstremisme. Lagi-lagi kita dapati kemoderatan sebagai watak dasar Islam. Karena watak moderat inilah, di dalam Islam tidak dikenal konsep rahbaniyyah (kerahiban).

Ajaran Islam identik dengan kemudahan. Di dalam Islam, beragama bukanlah pilihan mengambil jalan hidup yang sulit, memasung, dan antikemajuan.

Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah. Maka siapa pun yang membuatnya sulit, ia akan terkalahkan. Maka bersahajalah, jangan berlebihan, dan berbahagialah!,” sabda Nabi melalui periwayatan Abu Huraihrah.

Muslim sejati, dengan demikian, sesungguhnya adalah muslim yang memegang teguh prinsip moderat dalam segenap lini hidupnya, bahkan dalam aktivitas ibadah sekalipun.

Maka, fenomena lahirnya generasi Muslim moderat saat ini sejatinya adalah kelahiran kembali generasi Muslim sebagaimana pernah terjadi dalam bentangan sejarah awal komunitas ini sebelumnya, persis sebagaimana dicontohkan dan dipraktikkan oleh Nabi dan generasi-generasi setelahnya.

Sebaliknya, munculnya generasi Muslim radikal belakangan ini adalah justru sebuah pengecualian. Bukan saja tak sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, namun juga tak sejalan dengan praktik yang diajarkan oleh sang Nabi (menyimpang).

Sejalan dengan prinsip moderat ini, Islam identik dengan agama yang berkeadilan. Moralitas dalam Islam, antara lain, didasarkan kepada keadilan, yakni menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Di sini tampak sejalan dengan teori Aristoteles tentang kemoderatan (hadd al-wasath).

Tanpa merelatifkan etika itu sendiri, nilai suatu perbuatan diyakini bersifat relatif terhadap konteks dan tujuan perbuatan itu sendiri. Pada prinsipnya, setiap perbuatan itu sendiri bersifat netral. Tindakan baik dan buruk dapat dinilai secara berbeda, bergantung pada penerapannya. Mencuri, misalnya, bisa bernilai sunnah, bahkan wajib.

Sebagian ulama menyatakan bahwa perbuatan seperti ini bukanlah termasuk tindakan tercela. Bahkan, Ibn Hazm al-Zhahiri dalam bukunya pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan, kemudian tertangkap dan terbunuh, ia dipercaya mati syahid.

Dengan demikian, diyakini bahwa etika di dalam Islam itu didasarkan pada prinsip moderasi, keadilan, dan bersifat rasional. Etika yang dirumuskan tidak semata-mata mendasarkan diri pada etika yang hedonistik (bermewah-mewahan), utilitarianistik maupun deontologis.

Ini mudah dipahami, sebab Allah sendiri di dalam Alquran mengajarkan pentingnya neraca untuk menimbang baik dan buruk, salah dan benar. Sejalan dengan prinsip penciptaan dalam meninggikan langit, Dia meletakkan necara (keadilan). (QS al-Rahman: 7).

Bahkan, Allah sendiri yang memfirmankan bahwa sesungguhnya Dia menciptakan manusia karena cinta, agar manusia itu belajar kembali mencintai-Nya, melalui pengenalan atas Diri-Nya sebagai Yang Pengasih, Penyayang, dan Penutup Aib.

Di Indonesia saat ini, salah satu ormas yang terbesar dan paling diminati adalah NU (Nahdlatul Ulama). Bukan hanya secara kultural pastisipan ormas ini berlaku santun dan moderat, bahkan secara resmi NU mempromosikan empat nilai utama sebagai karakter yang membedakannya dari ormas yang lain, yaitu tawasuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak), dan tasamuth (toleran).

Lagi-lagi kita menemukan sejalan antara ajaran dan prinsip dasar Islam tentang moderasi, dengan apa yang berlaku dalam sejarah umat Islam. Ini menegaskan kembali bahwa ekstremisme itu sesungguhnya bukanlah anak sah agama dan tradisi Islam.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply