Islam Nusantara Solusi Keringnya Agama

Islam nusantara kini menjadi kiblat bagi perkembangan Islam di dunia yang kental akan nilai toleransi, moderat dan terbuka. Keberadaan Islam nusantara dirasa lebih mengakomodir kepentingan yang beragam, tidak melulu soal agamanya melainkan pada ranah sosial, budaya dan politik. Model Islam nusantara ini menjadi prototipe bagi negara-negara yang sedang terbakar karena kepentingan ideologi dan konflik horizontal.

Karakteristik Islam nusantara lebih melekatkan pada nilai keberagaman sebagai bentuk konsekuensi nilai atas peran agama sebagai bentuk keteladanan. Pemahaman yang universal atas agama memudahkan Islam berkembang tanpa meninggalkan nilai budaya yang sudah ada. Islam menghadirkan cara solutif dalam menjawab segenap persoalan karena hadirnya Islam memberi rahmat bagi semua umat manusia.

Agama bukanlah pemecah atas perbedaan namun merangkul kemajemukan dan mengurai kebuntuan. Islam nusantara hadir untuk menata kemanusiaan, sebagai upaya menghadirkan agama dalam praktek humanisme. Namun, isu sektarian kerap kali dibangun untuk meracik konflik, membelah umat dan mentransaksikan agama sebagai komoditas politik. Oleh sebab itu, nilai kemanusian kian luntur dan jauh dari prinsip keberpihakan. Di sisi lain, hal itu justru membawa nafas baru bagi kelompok radikal karena seakan diberi ruang untuk membangun sel-sel kejahatan organik.

Islam nusantara adalah tawaran terbaik untuk meredam timbulnya gejolak distorsi pemahaman atas agama. Sebuah konsep nilai yang dibungkus dalam paket ajaran dengan kerangka indoktrinasi agama, mengintisarikan amar ma`ruf sebagai nilai maslahat.

Dunia saat ini semakin bersitegang karena perbedaan, masyarakat dijauhkan dari proses merajut keberagaman dan keberagamaan. Kelompok konservatif cenderung membumikan isu sektarian sebagai pola industrialisasi agama untuk menciptakan permusuhan yang terjadi di mana-mana.

Semangat memompa permusuhan harus dihentikan dengan mengubur keberadaan paham radikalisme dan mendistribusikan Islam nusantara sebagai pengejewantahan nilai. Islam nusantara harus sepenuhnya diimplementasikan, tidak dibiarkan kering, tandus dan stagnan melihat masifnya kelompok radikal yang konsisten mengawal konflik.

Kelompok radikal sangat militan dalam meneror umat dengan membangun huru-hara pertentangan Sunni-Syiah. Pertentangan lebih didominasi pada persoalan akal dan hukum, salah atau benar, sehingga menimbulkan persepsi yang liar.

Perhitungan agama jika didasarkan pada persoalan salah atau benar saja tanpa menimbang rujukan dan referensi ulama maka akan menimbulkan kekacauan. Hal ini nampaknya yang terjadi di banyak tempat, orang berlomba-lomba menjustifikasi salah dan kafir tanpa memandang ilmu.

Di sisi lain, fenomena munculnya ustaz asal-asalan menjadi satu bentuk kegelisahan. Agama ditafsirkan atas dasar selera akal dan disampaikan dengan bahasa yang cenderung provokatif. Dakwah serampangan ini justru dianggap lazim dan ingin dilestarikan oleh kelompok yang mengkultuskan ideologi khilafah. Model dakwah yang seperti ini selalu memicu konfrontasi dan naluri kebencian sehingga umat diajak larut dalam berbagai bentuk pertikaian.

Islam nusantara bisa tumbuh di kehidupan masyarakat Timur Tengah. Kerasnya peperangan menimbulkan semacam titik jenuh, sikap traumatik dan kesengsaraan. Situasi yang tak layak terjadi di mana orang dipaksa mendengar dentuman rudal, bisingnya suara senapan dan sisa-sisa darah kering. Kegelisahan pun menghantui, betapa sulitnya beragama di tengah carut marutnya konflik. Efek buruk dari maraknya konflik adalah timbulnya kuantitas kemiskinan, kesengsaraan, kebodohan dan pengangguran.

Praktik Islam nusantara memberi gambaran bahwa agama bukan sebagai sesuatu yang dipertentangkan. Agama itu diyakini, diimani dan diimplementasikan dalam kerangka amar ma`ruf sehingga tidak perlu lagi mempersoalkan perbedaan yang jelas berbeda. Jika sudah beragama, tak perlu lagi menggaduhkan agama lain. Sehingga, agama bukan dimaknai sebagai jalan pintas untuk menggalang komunitas permusuhan. Kasus ini muncul dikarenakan beragama hanya dikesankan pada label identitas sedangkan entitasnya tidak kentara.

Gerakan Islamophobia yang terjadi di barat merujuk pergolakan yang terjadi di Timur Tengah. Satu sisi, ini dimaknai sebagai citra buruk karena agama sering dimonopoli namun di sisi lain Islam nusantara belum terdistribusikan secara masif. Sehingga, prototipe yang dijadikan role model adalah Islam yang berada di Timur Tengah. Maraknya konflik di Timur Tengah bisa menjadi keterpurukan dalam beragama, Islam sebagai agama mayoritas disana tidak mampu meredam konflik yang berkepanjangan sehingga kadangkala dimaknai pesimistis.

Latar belakang dari maraknya kekacauan atas nama agama didasari pada minimnya sikap keteladanan. Sulitnya memahami agama secara kontekstual sebagai upaya merawat nilai agama yang sedari dulu menjadi rumah hangat. Agama bisa kering ketika ditampilkan pada ranah yang buruk, disimbolkan dengan bahasa dan konten yang jauh dari kepentingan memupuk kebersamaan. Oleh sebab itu, dibutuhkan siraman yang meneduhkan dengan berpijak pada konsep Islam nusantara. Kerangka Islam nusantara akan lebih mudah diterima oleh masyarakat yang berbeda sekalipun.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply