JANGAN BIARKAN MUSHAF BERDEBU

Tentunya tidak asing lagi bagi kaum Muslim dan Muslimin saat mendengar istilah “mushaf”. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tidak seorang pun dari kaum Muslim dan Muslimin yang akan berbeda pemahaman tentang maksudnya, yakni mushaf Alquran. Istilah mushaf disini sendiri dibentuk dari kata shahifah, yang dimana bentuk jamaknya shahaif, shuhuf.

Menurut Ibn Duraid dalam Jumhurah al Lughah, shahifah adalah kulit yang berwarna keputihan, untuk tempat menulis sebuah tulisan. Adapun menurut al-Jauhari di dalam “Ash-Shahih fi al-Lughah”shahifah adalah al-kitab. Kalau kita melihat dari segi aspek bahasanya ialah shahifah jamaknya shuhuf bisa diartikan lembaran-lembaran tulisan. Menurut Abu Hilal al-‘Askari, mushaf berbeda dengan kitab. Kitab bisa terdiri dari satu lembar saja atau sejumlah lembaran.

Adapun mushaf harus terdiri atas sejumlah lembaran. Inilah makna menurut bahasa. Dari pengertian di atas dapat kita pahami jika mushaf itu adalah sejumlah lembaran tulisan yaitu Alquran. Dimana ketika kita membacanya akan bernilai amal ibadah, karena membaca Alquran atau yang kita kenal dengan kitab suci yang dimana perintah untuk membacanya lebih utama untuk kita baca dan juga kita pelajari dari pada membaca yang lainnya (seperti komik dan bacaan lainnya).

Namun dapat kita ketahui pula, pada saat ini mulai dari anak-anak, para remaja hingga orang tua banyak yang menghabiskan waktunya di luar sana tanpa menyisihkan sedikit waktu membaca Alquran, jika kita hitung secara persentasenya kurang lebih 75%. Bahkan sangat disayangkan sekali kalau banyak orang yang tidak memanfaatkan kecanggihan saat ini seperti HP.

Kebanyakan mereka sibuk dengan dunianya yang hanya bersifat sementara saja, mungkin hanya sedikit saja yang memang benar-benar menyempatkan waktunya hanya untuk membaca Alquran. Maka dari itu mushaf hanya dijadikan sebuah pajangan di lemari hingga berdebu bahkan sobek-sobek tak terawat dan tak tersentuh sama sekali.

Contohnya saja, jika kita memiliki rak ataupun lemari buku maka pasti akan terlihat beberapa buku yang mulai berdebu. Dari deretan buku yang berjajar itu biasanya buku yang berdebu adalah yang jarang disentuh apalagi dibaca, tidak lain jika ternyata buku itu adalah mushaf Alquran.

Kini mushaf itu terlihat lusuh, kertasnya telah menguning serta merapuh, tak lagi mulus, telah mengkerut. Sampulnya lepas sehingga berdebu, terlantar dengan indahnya. Lalu seketika ingin mengelus lagi guratannya agar dia tersenyum. Tetapi nyatanya kebanyakan kalangan masyarakat saat ini mulai mengabaikannya.

Jikalau pun sempat membuka dan membaca Alquran paling tidak mereka membukanya hanya lewat aplikasi Alquran yang ada di handphone, dan inilah mungkin salah satu alasan beberapa orang mengapa mushaf jarang sekali dibuka hingga berdebu terdiam dan tak tersentuh lagi untuk dibaca.

Dengan adanya aplikasi-aplikasi Alquran di handphone dengan berbagai variasi, yang memiliki kelebihannya masing-masing sebenarnya baik saja dan juga setidaknya memudahkan kita, namun pada kenyataannya ternyata hal ini juga sangat menjauhkan kita dengan mushaf yang sesungguhnya pada umumnya dikalangan masyrakat. Padahal Alquran yang memang benar sesungguhnya itu ialah yang berbentuk Mushaf.

Begitu tidak pedulinya kah kita terhadap Alquran yang dengan lembaran demi lembarannya itu, sehingga waktu yang ada selalu terlewatkan begitu saja bahkan dapat menjadi sia-sia tanpa sedikit menyempatkan membuka serta membaca mushaf Alquran setiap harinya. Ataukah mungkin selama ini hanya menganggap Alquran sebagai kitab yang harus dimiliki setiap rumah.

Namun adakah kita pernah merenungi isi kitab suci tersebut, atau hanya sebagai bukti identitas ke-Musliman saja. Disebutkan dalam firman Allah yang artinya:

“Maka tidaklah mereka merenungi Alquran? Sekiranya (Alquran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82).

Coba kita renungkan firman Allah di atas. Dia tidak menginginkan hamba-Nya sekedar membaca Alquran walaupun berpahala, namun Allah ingin hamba-Nya benar-benar merenungi isinya. Karena Alquran bukan hanya dongeng belaka namun di dalamnya terdapat jalan keluar bagi segala masalah yang menimpa manusia. Lalu disebutkan lagi di dalam QS. Muhammad, ayat 24:

“Maka tidaklah mereka menghayati Alquran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”. Yang menjadi pertanyaan disini apakah hati kita telah terkunci sehingga mengabaikan Alquran ?

Padahal kita semua telah mengetahui banyak faedahnya membaca Alquran, banyak kebaikan yang kita dapatkan, serta ada adab-adab yang dilakukan terhadap Alquran misalnya berwudhu dan menghadap kiblat, hal ini tidak harus dilakukan ketika kita membacanya melalui aplikasi Alquran yang ada di handphone saja. Di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Nabi saw bersabda yang artinya;

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Alquran maka hidup satu kebaikan. Satu dilipatgandakan 10 kali lipat. Tidak kukatakan aliflammim satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Setelah kita ketahui dari hadits di atas, masihkah hati kita tidak juga tergerak untuk senantiasa memperhatikan Alquran dengan cara menyisihkan waktu untuk membuka serta membaca mushaf Alquran setiap harinya.  Ataukah kita akan tetap membiarkan mushaf Alquran kita itu terdiam hingga berdebu di dalam lemari atau di rak buku, tanpa memperhatikannya sedikit pun.

Alangkah baiknya jika kita mencoba untuk membuka serta memulai membacanya. Selanjutnya kita mempelajarinya hingga mengamalkannya. Karena sekecil apapun upaya kita mengamalkan InsyaAllah tercatat di sisi Allah sebagai amal saleh. Tidaklah kita sedih melihat Alquran berdebu? Hanya sebagai hiasan rak buku? Tanpa ada niat upaya bahkan niat untuk membacanya.

Maka dari itu marilah kita bersama-sama menyelami samudera ilmu yang ada di dalam Alquran yang kita cintai yang bukan sekedar terucap dilisan.

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114).

Sumber  :Qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply